Istri Jauh dari Harapan, Pengantin Baru Bubar

Ilustrasi

TELITI sebelum membeli. Mungkin ungkapan inilah yang pas ditujukan pada ER (30). Karena kurang teliti memilih calon istri, bahtera rumah tangganya dengan MD (35) hancur hanya dalam tempo dua bulan setelah pernikahan.

ER mengaku saat mencari pasangan hidup, dirinya memang berupaya mengedepankan cara-cara islami. ER bertekad tidak melalui tahap pacaran seperti banyak dilakukan muda-mudi zaman sekarang.

Kebetulan saat ER sudah siap menapaki jenjang pernikahan, ada seorang guru taklim yang memberi petunjuk tentang MD. Gayung bersambut karena ER juga mengenal orang tua MD.

Karena keduanya memang belum pernah bertemu, ER meminta izin untuk melakukan taaruf pada MD. Namun, ibu MD dan sang guru tidak mengizinkan. Mereka beralasan taaruf tak diperlukan jika niat menikah dilandasi agama. Mendapat penjelasan itu, ER yang memang usianya sudah matang untuk menikah akhirnya mengalah.

Dia percaya saja ketika MD digambarkan sebagai sosok yang taat agama dan berparas cantik dengan tubuh bak gitar Spanyol. Namun ternyata, saat pernikahan dilangsungkan, sosok MD sangat jauh dari yang dibayangkan ER.

’’Pernikahan itu membuat saya kecewa. Pertama saya melihat MD saat akad nikah, gambarannya sangat jauh dari realita,” ungkap ER kemarin.

MD yang digambarkan bertubuh langsing ternyata berbodi tambun. Dia juga sosok perempuan yang tidak paham agama. Namun karena ER sudah bertekad untuk menikah karena landasan agama, pernikahan itu tetap dilangsungkan.

Sayang, dalam perjalanannya, kekecewaan ER kian mendalam. Di awal pernikahan saja, MD sudah membuat ER naik pitam. Betapa tidak, MD menceritakan malam pertama mereka melalui statusnya di media sosial. Tentu saja posting-an itu mendapat tanggapan beragam dari kawan-kawannya.

Dalam keseharian, MD juga tergolong malas. Bahkan kewajiban seorang istri seperti mencuci dan memasak tidak dia jalankan. Padahal, kala itu pasangan pengantin baru tersebut masih menumpang di rumah orang tua ER.

Puncaknya, MD malah mengadukan persoalan rumah tangga kepada orang tuanya. MD mengaku dijadikan babu. Padahal faktanya, ER hanya meminta MD untuk bersikap sebagai seorang istri yang baik dengan mencucikan baju suami dan membantu berbenah rumah.

’’Itu kan kewajiban istri, tetapi tidak dia laksanakan. Karena aduannya, saya dimarahi mertua. Mereka meminta saya menjadikan anaknya seorang ratu. Mertua juga selalu menyinggung agar saya segera membangun rumah sendiri dengan alasan jika seorang laki-laki tidak bisa menafkahi, maka istri berhak meminta cerai,” tuturnya.

Karena tak kuat lagi dengan kondisi yang ada, ER akhirnya memutuskan meninggalkan MD. Pihak MD lantas menggugat cerai ER di Pengadilan Agama Kalianda, alasan gugatan sang suami tidak bisa memberikan nafkah lahir dan batin. Akhirnya pada awal Agustus lalu, hakim Pengadilan Agama Kalianda mengetuk palu perceraian.

’’Hikmah dari peristiwa ini, dalam memutuskan sesuatu agar tidak terburu-buru, apalagi dalam memilih pasangan hidup. Selain jalur pernikahan syari harus benar-benar dilewati, penting juga mengetahui agama dan latar belakang istri,” pungkasnya. (fiz/c1/fik)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY