Mantan Kepala SMPN 24 Ditahan di Lapas

DIBAWA KE LAPAS: Mantan Kepala SMPN 24 Bandarlampung Helendrasari mendengarkan keterangan saksi dalam sidang lanjutan kasus dugaan korupsi dana bantuan siswa miskin (BSM) di Pengadilan Tipikor Tanjungkarang kemarin. FOTO M. TEGAR MUJAHID/RADAR LAMPUNG

radarlampung.co.id – Majelis hakim Pengadilan Tipikor Tanjungkarang memutuskan status penahanan mantan Kepala SMPN 24 Bandarlampung Helendrasari dialihkan. Terdakwa kasus dugaan korupsi dana bantuan siswa miskin (BSM) yang awalnya menjadi tahanan kota ini dibawa ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas IIA Bandarlampung.

’’Atas kasus ini, kami majelis hakim telah bermusyawarah untuk melakukan perubahan status tahanan terdakwa yang sebelumnya merupakan tahanan kota menjadi tahanan rutan,” kata hakim ketua Novian Saputra dalam sidang kemarin (16/3).

Terpisah, Humas Pengadilan Tipikor Tanjungkarang Mansyur menyatakan, penetapan perubahan penahanan itu merupakan kewenangan majelis hakim. Keputusan itu diambil dengan beberapa pertimbangan.

”Mungkin dibacakannya penetapan itu karena adanya kekhawatiran seperti tidak taat kepada hukum, melarikan diri dan menghilangkan barang bukti. Oleh sebab itu sah-sah saja jika majelis hakim membacakan penetapan terhadap terdakwa,” kata Mansyur.

Sementara dalam sidang lanjutan tersebut, jaksa penuntut umum (JPU) Eka Aftarini menghadirkan lima saksi. Mereka adalah Ayu Septaria selaku bendahara SMPN 24 Bandarlampung saat itu, Ety Kurniasih (guru honor), Tina (Kasubbag di Dinas Pendidikan Bandarlampung), Hendrawati dan Andriyani (perwakilan Inspektorat).

Dalam sidang tersebut Ayu yang menjadi bendahara bantuan operasional sekolah (BOS) mengaku tidak mengetahui adanya dana untuk bantuan siswa miskin yang masuk ke rekening sekolah. Ia hanya diminta oleh Helendrasari untuk mengambil uang.

”Saya bendahara BOS, bukan BSM. Saya nggak tahu uang apa yang bu Helen suruh ambil di rekening itu. Tapi bukan dana BOS,” kata Ayu.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY