Robusta Jadi Andalan

Melihat Potensi Wisata Kebun Kopi di Lampung Barat

Foto: JPG

KALAU Aceh punya tanah Gayo sebagai daerah agrobisnis dengan produk kopi Gayonya, Lampung juga punya tempat yang terkenal sebagai salah satu penghasil kopi terbaik. Yup, Lampung Barat (Lambar)! Kalau pergi ke Lambar, kamu akan mencium aroma kopi yang khas dan sangat menggugah selera baik dari warung kopi pinggiran jalan hingga gerai khusus penjual kopi.

Ada banyak titik daerah penghasil kopi di Lambar. Misalnya Pekon (Desa) Karangagung, Kecamatan Waytenong, dan Pekon Semarangjaya, Kecamatan Airhitam yang pernah menjadi tempat diselenggarakannya Liwa Coffee Festival pada 2015 lalu. Daerah Liwa juga pernah digambarkan di salah satu scene di film Filosofi Kopi (2015). Dalam film ini, Liwa diceritakan sebagai daerah asal sosok Ben yang diperankan oleh aktor Chicco Jerikho. Saat berkunjung ke markas Zetizen Lampung pada Maret 2017 lalu untuk promosi film Bukaan 8, Chicco sempat mengatakan bahwa ia sangat menyukai kopi Lampung.

”Enak, saya senang di sini. Karena saya pecinta kopi, makanya pertama kali saya ke Lampung itu yang dicari. Saya berharap suatu hari nanti ada kesempatan ke Lampung lagi,” katanya.

Ya, seperti yang kita tahu bahwa Provinsi Lampung adalah salah satu penghasil kopi robusta terbesar di Tanah Air, dengan produksi rata-rata sekitar 100.000 ton biji kopi dihasilkan oleh daerah itu setiap tahunnya dari 130 ribu hektare lahan yang tersebar di sentra-sentra perkebunan kopi. Pegunungan hijau dan kondisi alam sekitar yang masih terjaga menjadikan daerah di Lampung Barat sebagai potensi tempat wisata kebun kopi yang sangat patut untuk diolah dan dikembangkan. Hal ini juga banyak diungkapkan oleh sahabat Zetizen Lampung yang berharap Lambar sebagai destinasi wisata kebun kopi daerah Lampung. Salah satunya Inge Lucya, Alpha Zetizen of the Year 2016.

”Kebetulan aku berasal dari Liwa, jadi aku tahu betul bagaimana kopi dan daerah asalku. Kopi Liwa enaknya tuh nggak dicampur apapun, jadi rasanya emang asli. Apalagi Robusta, jadi andalan. Masyarakat di Lambar kebanyakan mengolah kopinya perseorangan, jadi banyak yang dinikmati sendiri walaupun ada yang untuk usaha dan dikirim ke luar kota,” kata siswi SMA YP Unila ini.

”Banyak kok pecinta kopi datang ke Liwa untuk melihat dan mengikuti bagaimana proses pembuatan kopi dari awal hingga akhir. Tapi sayangnya, kebun kopi disana belum benar-benar diolah sebagai daerah wisata. Padahal, banyak loh pecinta kopi di Indonesia. Aku rasa akan banyak orang yang tertarik datang ke Liwa kalo ada wisata kebun kopi di sini. Kan jadi potensi pariwisata baru,” tambahnya. (snd/c1/snd)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY