|
’’Serangan DBD pada awal tahun ini sudah kami prediksi. Karena DBD memiliki siklus puncak setiap lima tahun,” jelas Kadiskes Lampung dr. Reihana kemarin (3/2).
Dia melanjutkan, di beberapa daerah seperti Lampung Utara, jumlah penderita DBL mengalami penurunan. Namun, Reihana mengimbau masyarakat tetap waspada. Pasalnya, musim hujan masih panjang dan nyamuk aedes aegypti terus berkembang biak.
’’Apalagi tipikal hujan di Lampung tidak turun terus-menerus sepanjang hari, tetapi masih ada panas di sela-sela hujan. Nah, kondisi ini yang menyebabkan nyamuk memiliki waktu berkembang biak di tempat air yang menggenang,” jelasnya.
Menurut Reihana, upaya fogging atau pengasapan saja tak cukup. Sebab, fogging hanya membunuh nyamuk dewasa. Karena itu, dia meminta masyarakat tidak bosan-bosan melaksanakan program pemberantasan sarang nyamuk (PSN), yakni dengan pola 3M plus.
Yang dimaksud 3M plus adalah mengubur kaleng bekas dan barang-barang yang bisa menjadi tempat bertelurnya nyamuk, menutup tempat penampungan air, serta menguras bak mandi lima sampai tujuh hari sekali. Lalu plusnya adalah memakai lotion antinyamuk atau menggunakan kelambu untuk mencegah gigitan nyamuk.
’’Pemberantasan sarang nyamuk lebih efektif ketimbang pengasapan yang hanya membunuh nyamuk dewasa. PSN bertujuan memutus rantai perkembangbiakan nyamuk sehingga virus DBD tidak bisa disebar,” pungkasnya. (aqu/rnn/c1/ewi)



KANTOR PUSAT: GRAHA PENA LAMPUNG, Jl. Sultan Agung No. 18 Kedaton, Bandarlampung - 35115 - Indonesia | Telp. (0721) 789750 - 782306, Fax. (0721) 789752 - 773930