|
Kabid Angkutan Dinas Perhubungan (Dishub) Bandarlampung Hujatullah mengatakan, saat ini angkot yang ada di Bandarlampung sekitar 1.000 unit yang beroperasi di 13 trayek akan dialihkan ke jalur-jalur penghubung BRT (feeder).
’’Angka terbaru yang kami dapat jumlahnya menurun, seiring pengalihan dari angkot menjadi pelat hitam,” kata dia di tengah-tengah penertiban angkot bodong alias tanpa izin trayek kemarin (3/2).
Menurut Hujatullah, pemerintah sedang membahas rencana pengalihan tersebut secara maraton untuk mencarikan solusi bagi angkot yang kelak tidak beroperasi lagi di jalur-jalur utama. ’’Kami sedang membahasnya. Mudah- mudahan dalam waktu dekat sudah selesai. Kalau bisa sih secepatnya,” harap dia.
Trayek angkot yang akan dialihkan itu adalah jurusan Tanjungkarang-Waykandis dan Tanjungkarang-Garuntang akan dijadikan satu trayek, menjadi Kemiling-Waykandis dengan warna angkot krem (252 unit).
Lalu Tanjungkarang-Rajabasa dan Tanjungkarang-Permatabiru juga akan digabung menjadi satu trayek, yakni Kemiling-Sukarame dengan warna angkot biru muda (255 unit).
Selain itu, lanjut Hujatullah, untuk tiga trayek Tanjungkarang-Kemiling, Tanjungkarang-Samratulangi, dan Tanjungkarang-Ir. Sutami digabung manjadi trayek Kemiling-Ir.Sutami dengan warna angkot merah hati (278 unit).
Kemudian trayek Sukaraja-Srengsem, Sukaraja-Lempasing, dan Pasar Cimeng-Lempasing menjadi trayek Waykandis-Batuputu dengan warna angkot oranye (170 unit). Sedangkan Tanjungkarang-Sukaraja, Tanjungkarang-Sukarame, dan Kemiling-Rajabasa diubah menjadi trayek Sukarame-Sukaraja dengan warna angkot abu- abu (291 unit).
’’Angkot tersebut akan melintasi jalur-jalur perkampungan atau jalan penghubung yang tidak dilewati BRT. Dan kami lebih mengutamakan angkot yang masih dalam kondisi baik atau baru,” tandasnya.
Terpisah, pengamat transportasi Universitas Bandar Lampung (UBL) Ilham Malik mengatakan, upaya pengalihan trayek angkot itu sangat baik. Sebab, angkot atau mikrolet dapat melayani penumpang di jalur feeder atau penghubung
Sementara di jalur utamanya, masyarakat akan menggunakan bus yang dikembangkan oleh konsorsium BRT. ’’Ini sangat positif. Karena masyarakat akan lebih mudah mendapatkan pelayaan angkutan. Di jalur penghubung dilayani angkot, di jalur utama dilayani BRT,” terang dosen teknik UBL ini.
Namun, jelasnya, yang perlu dikoreksi adalah penggunaan kata pengalihan. Menurutnya yang tepat adalah pembukaan trayek angkot baru, bukan pengalihan trayek. Pembukaan trayek baru, jelasnya, tidak lagi 13 trayek, melainkan 8-10 trayek baru. Trayek baru akan disi oleh angkot hasil pengalihan.
Dengan demikian, kemacetan yang lebih parah bisa dicegah, karena publik akan menggunakan angkutan umum, bukan angkutan pribadi. ’’Tepatnya trayek baru, ini akan mencegah kemacetan yang lebih parah di Bandarlampung,” kata dia. (ful/c1/adi)



KANTOR PUSAT: GRAHA PENA LAMPUNG, Jl. Sultan Agung No. 18 Kedaton, Bandarlampung - 35115 - Indonesia | Telp. (0721) 789750 - 782306, Fax. (0721) 789752 - 773930