Kamis, 28 Agustus 2014
     
Home Berita Utama Korban Gempa Terus Bertambah

Korban Gempa Terus Bertambah

648
Kali Dibaca
E-mail   Email Berita
Cetak  Print Berita
PDF  PDF Berita
JAKARTA - Hari ketiga pascagempa berkekuatan 6,2 skala richter (SR) di tenggara Kabupaten Bener Meriah, Nanggroe Aceh Darussalam, sudah 34 korban tewas ditemukan. Sebagian besar mereka adalah anak-anak dan lansia yang tertimpa bangunan yang ambruk akibat gempa. Jumlah pengungsi pun kini mencapai 6.500 orang di dua kabupaten.

    Sebanyak 1.500 orang mengungsi di 15 titik pengungsian di Kabupaten Bener Meriah, sedangkan 5.000 orang bertahan di 20 titik pengungsian Kabupaten Aceh Tengah.

    Aceh Tengah memang mengalami kerusakan paling parah dalam bencana tersebut. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan, hingga saat ini tercatat 3.403 rumah di Aceh Tengah rusak setelah diguncang gempa. Terdiri 1.368 rumah rusak berat dan 2.135 rumah rusak ringan. Sedangkan di Bener Meriah, jumlah rumah rusak mencapai 789 buah, dan 537 di antaranya rusak berat.

    Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyatakan, sebagian besar korban meninggal akibat gempa bukan di Bener Meriah, melainkan di Aceh tengah. Setelah dicek di tiap desa, didapati 12 orang meninggal di lima desa di Bener Meriah. Sedangkan, 18 lainnya meninggal di 10 desa di Aceh Besar. Korban terbanyak ada di Desa Blang Mancung Atas, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, yakni tujuh orang.

    ’’Sampai saat ini, 12 orang juga masih dilaporkan hilang dan 275 orang luka-luka,’’ ujar Sutopo kemarin. Menurut dia, data korban gempa Aceh dua hari terakhir memang sempat simpang siur. Misalnya, sebuah sumber menyatakan jika ada masjid yang banyak diisi anak-anak mengaji ambruk saat gempa.

    Namun, pihaknya menegaskan jika tim yang ada di Aceh belum mendapati kebenaran informasi tersebut. Kalau jumlah korbannya banyak, tim SAR maupun BPBA (Badan Penanggulangan Bencana Aceh) pasti segera tahu karena menjadi pusat perhatian masyarakat. Saat ini pun, pihaknya masih fokus pada upaya tanggap darurat dan penanganan pertama terhadap para korban sehingga urusan data kadang bisa dinomorduakan.

    Yang jelas, data gempa itu terus berubah sesuai temuan yang didapat tim di lapangan. Data-data tersebut juga akan diverifikasi. ’’Instansi yang berwenang mengeluarkan data bencana adalah BPBD dan BNPB,” lanjut alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut.

    BNPB mengklaim distribusi logistik untuk tanggap darurat cukup lancar. Karena sebagian besar toko maupun pasar di Bener Meriah dan Aceh Besar masih buka. Pemda kedua kabupaten pun membelanjakan kebutuhan dasar para pengungsi maupun korban di pasar-pasar tersebut.

    Belum lagi pasokan logistik dari BPBA untuk kedua kabupaten yang cukup besar. Berton-ton beras, gula, minyak goreng, serta ratusan dus mi instan dan air mineral sudah sampai ke posko yang didirikan BPBA di kedua kabupaten. Logistik makanan itu masih ditambah dengan 400 lembar selimut dan 290 lembar kelambu untuk kebutuhan pengungsi.

    Sutopo menambahkan, saat ini para pengungsi masih membutuhkan sejumlah perlengkapan yang sifatnya mendesak. Di antaranya tenda, selimut, tikar, karpet, matras, pakaian, dan sembako. ’’Bantuan dapat disalurkan langsung ke BPBA Bener Meriah dan BPBA Aceh Tengah,” ungkapnya. (jpnn/p2/c1/ary)


Info Langganan