Carolina Marin, Mendobrak Stigma Asia di Bulu Tangkis

Dulu Tak Terpikirkan Bakal Seterkenal Sekarang
187
JADI BINTANG: Carolina Marin saat beraksi melawan Chen Xiaoxin dari Tiongkok dalam laga BCA Indonesia Open di Plenary Hall JCC, Jakarta, 13 Juni lalu. FOTO WAHYUDIN/JPG

Melejitnya Carolina Marin turut membuat para pemain dari luar Asia percaya diri mengejar prestasi. Kebanggaan Spanyol kepadanya diwujudkan lewat penunjukan sebagai duta La Liga sampai gedung olahraga yang dinamakan dirinya.

Laporan Nuris Andi P., JAKARTA 

LAGA di Stadion Bernabeu tengah seru-serunya. Tetapi, tatap mata pria itu justru tak tertuju ke lapangan. Melainkan ke perempuan yang duduk berselang satu kursi darinya. Beberapa menit berselang, mungkin setelah meyakinkan diri atau mengumpulkan keberanian, pria tersebut akhirnya menyapa, ’’Maaf, tapi Anda mirip sekali dengan Carolina Marin…”

Yang ditanya langsung tersenyum lebar sambil mengangguk. Sebab, dia memang Carolina Marin! ’’Sampai beberapa tahun lalu, (dikenali di tempat umum, Red) itu sesuatu yang tak terpikirkan,” kata Marin dalam sebuah wawancara dengan media terkemuka Spanyol, Marca.

Peristiwa di Santiago Bernabeu itu terjadi tak lama setelah dia menjadi juara dunia bulu tangkis untuk kali kedua pada 2015. Alias back-to-back karena gelar pertama dia rebut setahun sebelumnya.

Ketika kemudian Marin juga sukses merebut emas tunggal putri di Olimpiade Rio de Janeiro 2016, yang tak terpikirkan beberapa tahun lalu itu kian menjadi tidak terduga. Tak hanya selalu dikenali orang di mana pun dia berada. Para bintang olahraga Spanyol pun ramai-ramai memberikan selamat.

Mulai petenis Rafael Nadal, pesepak bola Iker Casillas, hingga pebasket Pau Gasol. Di Huelva, kota kelahirannya, sebuah gelanggang olahraga juga dinamai Palacio de Deportes Carolina Marin. ’’Saya bangga tentu saja,” kata pebulu tangkis 24 tahun itu kepada Jawa Pos (grup Radar Lampung) yang menemuinya di sela-sela BCA Indonesia Open Super Series Premier (BIOSSP) 2017 di Jakarta.

Kalau awalnya Marin menganggap popularitasnya tersebut sebagai sesuatu yang tak terpikirkan, itu wajar. Sebab, dia datang dari negara yang kaya prestasi kelas dunia. Di berbagai cabang olahraga yang keterkenalannya di level global jauh di atas bulu tangkis.

Mulai sepak bola, basket, tenis, sampai MotoGP dan Formula 1. Jadi, warga Negeri Matador itu punya banyak sekali bintang yang bisa dibanggakan. Bulu tangkis pun baru berkembang di Spanyol pada era 1970-an. Mengutip situs Spanish Unlimited, kejuaraan nasional diadakan untuk kali pertama di sana pada 1982.

Tapi, melejitnya prestasi Marin telah turut sangat mendorong perkembangan bulu tangkis di Spanyol. Anak-anak kecil hingga remaja yang berlatih olahraga tepok bulu itu semakin banyak. Akademi-akademi pun bertumbuhan di berbagai kota.

Stigma bahwa bulu tangkis adalah olahraga Asia dengan sendirinya juga turut tertepis. Sebab, Marin adalah perempuan non-Asia pertama yang bisa merebut emas Olimpiade di badminton. Di level kejuaraan dunia, tunggal putri non-Asia terakhir yang juara adalah pebulu tangkis Denmark Camilla Martin pada 1999.

Karena itu, juara tunggal putri Eropa pada 2014 dan 2016 itu pun seolah menjadi wajah lain kekayaan prestasi olahraga Spanyol. Ada semacam ”konsensus” di sana, keberhasilan Marin menjadi juara dunia dan Olimpiade dianggap jauh lebih mengejutkan ketimbang, misalnya, keberhasilan Spanyol menjadi juara Eropa dan dunia di sepak bola.

Atau kesuksesan Nadal mengoleksi 15 gelar Grand Slam. Sebab, Negeri Matador itu secara tradisional memang dikenal sebagai kekuatan besar di cabang-cabang olahraga tersebut.

Sponsored Content
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here