Deteksi Dini Myasthenia Gravis

34
Ilustrasi

radarlampung.co.id – Banyak masyarakat belum mengetahui apa itu myasthenia gravis. Padahal, jenis penyakit ini sangat mudah menyerang tubuh. Myasthenia gravis masuk kategori penyakit autoimun, di mana otot menjadi sasarannya. Jika kambuh, akan mengakibatkan melemahnya otot. Padahal, fungsi otot berhubungan erat dengan aktivitas sehari-hari.

Di Lampung, tercatat 15 penderita yang masuk pendampingan Yayasan Myasthenia Gravis Indonesia (YMGI) Lampung. Sementara cakupan Indonesia, sudah ada 512 penderita yang ternaungi YMGI.

Untuk itulah, YMGI Lampung kemarin (8/10) menggelar gathering pasien dan diskusi myasthenia gravis. Beberapa penderita hadir dan langsung sharing soal penyakit yang dideritanya. Myasthenia gravis juga menyerang penderita berbagai usia. Kebanyakan untuk perempuan, terjadi pada usia 20 hingga 40 tahun.  Sementara untuk laki-laki rata-rata menyerang di usia 50 tahun ke atas.

Fitriyani Sp.S.,M.Kes selaku narasumber menyebut, myasthenia gravis belum dapat dipastikan dibawa oleh gen orang tua atau dari faktor luar. Untuk pencegahannya juga belum bisa dilakukan.

’’Gangguannya kebanyakan dimulai dari kelemahan otot mata. Misalnya ptosis, kelopak mata seperti mengantuk. Kemudian diplopia, bentuk objek mata seperti berbayang. Ada pula yang sampai juling,” ujar dia dalam diskusinya.

Bahkan, penyakit ini turut berpengaruh pada kehamilan seseorang. Namun begitu, penderita wanita tak lantas dilarang hamil. ’’Tapi kebanyakan mereka harus operasi karena otot tubuh tidak kuat,” sambung dia.

Ditambahkan Wakil Ketua Yayasan Myasthenia Gravis Indonesia dr. Yudith Rachmadiyah, penderita myasthenia gravis di Amerika Serikat sebanyak 20/100 ribu jiwa. Artinya, satu dari 5.000 orang dinyatakan sebagai penderita myasthenia gravis.

Parahnya, dalam kurun waktu tertentu lebih dari dua penderita meninggal per bulannya. ’’Ini masih rerata kasar, karena hingga kini belum ada perhitungan statistiknya,” ujar dr. Yudith.

Sementara Koordinator YMGI Lampung Gisela Erni menuturkan, kegiatan ini dilakukan sebagai wadah sharing penderita Myasthenia Gravis. Karena selama ini banyak penderita yang tidak menyadari dirinya menderita myasthenia gravis.

’’Untuk survive ada yang bisa dan nggak bsa dia lakukan. Karena itu sangat diperlukan dukungan keluarga. Penderita harus tahu batasan yang dilakukan dan yang tidak boleh di lakukuan,” jelasnya. (rma/c1/sur)

Sponsored Content
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here