Didakwa Pasal Berlapis, Farizal Terancam 20 Tahun Penjara

SIAPKAN EKSEPSI: Mantan Karo Perekonomian Pemprov Lampung Farizal Badri Zaini usai menjalani sidang di Pengadilan Tipikor Tanjungkarang kemarin (16/3). FOTO M. TEGAR MUJAHID/RADAR LAMPUNG
- Advertisement -

radarlampung.co.id – Mantan Karo Perekonomian Pemprov Lampung Farizal Badri Zaini akhirnya duduk di kursi pesakitan Pengadilan Tipikor Tanjungkarang dengan status terdakwa kemarin. Dia menjalani sidang perdana kasus dugaan fee proyek.

Sidang yang diisi dengan agenda pembacaan dakwaan oleh jaksa penuntut umum itu dipimpin oleh hakim ketua Mansur Bustami. Jaksa mendakwa Farizal dengan pasal berlapis.

Pada dakwaan primer, dia didakwa dengan pasal 12 huruf e dan pasal 11 Undang-Undang Nomor 31/1999 jo UU Nomor 20/2001 tentang Perubahan atas UU Nomor 31/1999 tentang Tipikor jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP jo pasal 64 ayat 1 KUHP.

Sementara dakwaan subsider, Farizal didakwa dengan pasal 11 UU Nomor 31/ 1999 jo UU Nomor 20/2000 tentang Perubahan atas UU Nomor 31/1999 tentang Pemberantasan Tipikor jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP jo pasal 64 ayat 1 KUHP. Bila terbukti, dia dapat dikenakan hukuman minimal empat tahun penjara dan maksimal 20 tahun penjara. Itu masih ditambah denda paling sedikit Rp200 juta.

Menurut JPU Andri Kurniawan, Farizal saat menjabat sebagai Karo Perekonomian Pemprov Lampung menjanjikan pada saksi lainnya, Djoko Prihartanto yang kala itu menjabat sebagai seorang kepala seksi di Badan Koordinasi Penyuluh Pertanian, Perikanan dan Kelautan untuk mengusahakan mendapat anggaran dari kementrian Pertanian RI terkait proyek Sekolah Menengah Kejuruan Pertanian Pertama (SMKPP) sebesar Rp13 miliar.

“Setelah mendengar adanya proyek tersebut, Farizal menjanjikan bisa mendapatkan proyek dengan syarat Djoko harus membayar uang sebesar Rp500 juta kepada Farizal untuk mendapatkan proyek ini. Namun Djoko mengaku melalui anaknya hanya mampu membayar sebesar Rp200 juta,” jelas JPU.

Namun saat hendak memberikan uang tersebut, lanjut JPU, proyek SMKPP tersebut sudah turun nilainya menjadi hanya Rp2 miliar. Mengetahui itu, Djoko membatalkan proyek tersebut dan meminta Farizal mengembalikan uangnya yang telah diserahkan melalui Eva Devita Sar. Namun terdakwa tidak sanggup mengembalikan uang Djoko dan menjanjikan proyek jalan dan jembatan tahun 2016.

- Advertisement -
loading...

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY