Gas Melon Langka, Pertamina Mengaku Tak Kurangi Stok

64
Ilustrasi

radarlampung.co.id – Kelangkaan gas melon mendapat tanggapan pihak Pertamina. Hasil investigasi mereka, elpiji 3 kg kuat dugaan masih disalahgunakaan masyaraakat dengan kategori ekonomi menengah ke atas. Sehingga menimbulkan kelangkaan terhadap gas yang berstatus subsidi itu.

Menurut Communication and Relations Pertamina Sumbagsel Siti Rachmi Indahsari, sejauh ini Pertamina telah menyuplai sesuai jumlah yang ditentukan. Sehingga semestinya tidak terjadi kelangkaan. Ya, pihaknya mengaku tidak melakukan pengurangan jumlah stok di pangkalan resmi.

’’Tidak ada pengurangan, bahkan kami lakukan penambahan atau operasi pasar,” uajrnya saat dihubungi Radar Lampung.

Ia menjelaskan, jalur resmi distribusi elpiji 3 kg Pertamina langsung ke agen dan pangkalan. Selain itu menurutnya berarti di luar kontrol dan kendali pertamina. Namun jika memang ada pangkalan yang kosong pihaknya menyarankan seluruh pihak dapat melaporkan kejadian itu ke call center.

’’Apabila ada kelangkaan dan barang kosong bisa langsung dilaporkan ke agen terdekat atau melalui contact center 1.500.000,” ujarnya.

Pihaknya juga  menghimbau masyarakat dapat melakukan pembelian di pangkalan resmi. Sehingga bisa mendapatkan harga sesuai harga eceran tertinggi (HET) di wilayah masing-masing.

Pertamina butuh dukungan dari semua pihak untuk melakukan pengawasan terkait distribusi elpiji ini.  ’’Jadi jika ada tindakan yang tidak sesuai terjadi lapangan tolong segera dilaporkan. Karena Pertamina akan melakukan tindakan sanksi tegas jika ada pelanggaran,” ucapnya.

Ia menjelaskan, seharusnya masyarakat mendukung penuh penggunaan gas elpiji subsidi, apabila keluarga mampu atau pelaku usaha layaknya restoran besar tidak disarankan membeli barang subsidi.

“Jadi yang diperbolehkan membeli elpiji 3 kg itu sebenarnya keluarga yang dari awal menerima paket konversi dianggap keluarga tidak mampu, berpenghasilan kurang dr Rp1,5 juta per bulan dan sektor usaha kecil. Kalau misal kafe atau restoran  itu sudah ndak layak pake 3kg,” ujarnya.

Ia menambahkan, kelangkan juga  bisa saja terjadi akibat  adanya panic buying, karena mendengar barang gas 3 kg sulit dicari sehingga masyarakat panik dan membeli dalam jumlah banyak untuk distok. (ing/c1/sur)

Sponsored Content
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here