Gempa Iran-Iraq, 407 Orang Tewas

 Tidak Ada WNI Jadi Korban
42
TELAN BANYAK KORBAN: Gedung runtuh menjadi pemandangan biasa di Kota Darbandikhan, Sulaimaniyah, Kurdistan, Iraq, pasca gempa berkekuatan 7,3 SR, Minggu (12/11) waktu setempat. FOTO AKO RASHEED/REUTERS

radarlampung.co.id – Di rumahnya, Pourya Badrkhani sedang menonton televisi ketika guncangan hebat membuatnya terlempar dari kursi. Paham apa yang terjadi, guru musik yang tinggal di Kota Kermanshah, Provinsi Kermanshah, Iran, itu pun langsung lari keluar rumah. Di luar, tetangga kanan dan kiri rumahnya sudah berkumpul. Kecemasan tergambar jelas di wajah mereka.

Sekitar 148 kilometer dari rumah Badrkhani, warga Kota Sarpol-e-Zahab, Kokab Fard merasakan hal yang sama. ’’Saya langsung lari keluar apartemen begitu merasakan guncangan. Sesaat kemudian, gedung apartemen yang saya huni ambruk,” kata ibu rumah tangga berusia 49 tahun tersebut. Fard selamat, tetapi dia tak punya apa-apa lagi. Seluruh harta bendanya lenyap bersama ambruknya apartemen.

Minggu (12/11), gempa bumi berkekuatan 7,3 skala richter (SR) itu mengguncang perbatasan Iran dan Iraq sekitar pukul 21.19 waktu setempat. Badan Survei Geologi Amerika Serikat alias US Geological Survey (USGS) menyatakan bahwa pusat gempat berada di titik yang berjarak sekitar 30 kilometer di sisi barat daya Kota Halabja, Provinsi Halabja, Iraq.

”Episentrum berada pada kedalaman 23 kilometer dari permukaan tanah,” demikian bunyi keterangan resmi USGS tentang gempa dahsyat Minggu malam tersebut. Saking kuatnya guncangan yang ditimbulkan, getaran gempa juga dirasakan oleh penduduk Pakistan, Lebanon, Kuwait dan Turki. Guncangan pertama yang hebat itu diikuti dengan sedikitnya 100 getaran gempa susulan.

Dalam hitungan menit, gempa bumi di perbatasan Iran dan Iraq tersebut menerbitkan duka mendalam. Sampai berita ini diketik, sedikitnya 407 nyawa melayang akibat gempa. Sedangkan sekitar 6.700 lainnya terluka. Sebagian besar korban adalah penduduk Sarpol-e-Zahab. Kota berpenduduk sekitar 45.000 orang yang terletak di  Zagros Mountains itu porak-poranda.

Di wilayah Iraq, gempa menewaskan tujuh orang dan melukai sekitar 535 yang lain. Kementerian Dalam Negeri Iraq melaporkan bahwa seluruh korban berasal dari kawasan utara KRG (Kurdistan Regional Government). Kendati frekuensi guncangan makin berkurang, Badan Meteorologi Iraq mengimbau warga untuk tidak kembali ke dalam rumah atau apartemen. Demi keamanan, mereka juga tak boleh menggunakan lift.

Karena banyaknya korban jiwa di sisi Iran, Ayatullah Ali Khamenei menyatakan bela sungkawa. Pemimpin tertinggi Negeri Para Mullah itu meminta pemerintah cepat tanggap. Dia berharap, bantuan bagi para korban bisa segera didistrusikan. Khususnya, di Sarpol-e-Zahab yang nyaris seluruh bangunannya rata dengan tanah.

Hari ini (14/11), Presiden Hassan Rouhani dijadwalkan meninjau lokasi bencana. Total, ada 14 provinsi Iran yang terdampak gempa. Kemarin, bantuan mulai berdatangan dari negara-negara sahabat. Di ibu kota, warga berbondong-bondong menyumbangkan darah mereka untuk para korban. Salah satu pendonornya adalah Badrkhani. Dia merasa bersyukur masih diberi keselamatan. Maka, dia ingin membantu para korban yang lain.

Abdul-Karim Abdullah Taqi, pakar gempa Iraq, menyatakan bahwa korban dari sisi Iraq tidak sebanyak Iran. Itu karena struktur tanah dua negara berbeda. Iraq, menurut dia, cenderung menyerap getaran. ”Arah dan angle patahan saat terjadi gempa sangat menentukan banyak sedikitnya korban dan kerusakan,” katanya.

Kali ini, menurut Taqi, Iraq beruntung. Sebab, patahan itu mengarah ke Iran yang memang tercatat sebagai salah satu negara paling rawan gempa. Negeri Persia itu terletak di persimpangan beberapa patahan (sesar). Termasuk, dua patahan besar Arabia dan Eurasia. Oleh karena itu, aktivitas seismik bawah tanah di Iran sangat tinggi dan membuat negara tersebut sering diguncang gempa.

Terkait gempa tersebut, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI Arrmanatha Nasir mengatakan bahwa Kemenlu terus berkoordinasi dengan KBRI Teheran dan KBRI Baghdad untuk memastikan kondisi WNI yang tinggal di sana.

’’Sampai saat ini tidak ada informasi mengenai WNI menjadi korban,” ujar pria yang akrab disapa Tata itu kemarin (13/11). Dia mengatakan, saat ini ada 295 WNI yang tinggal di Iran dan 700 WNI di Irak. (ap/reuters/bbc/cnn/jpg/c1/fik)

Lihat Grafis >>

Sponsored Content
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here