Jelang Idul Adha, Harga Daging Melambung

52
GELAR SIDAK: Tim Satgas Pangan Lampung menggelar sidak ke beberapa pedagang daging dan feedloter. FOTO M. TEGAR MUJAHID/RADAR LAMPUNG

BANDARLAMPUNG – Guna mengantisipasi kelangkaan stok daging dan lonjakan harga jelang hari raya Idul Adha 1438 Hijriah, Satuan Tugas (Satgas) Pangan Lampung menggelar sidak ke beberapa pedagang daging dan feedloter.

Tim sidak yang terdiri atas Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Lampung, Dinas Perkebunan dan Peternakan, Dinas Perdagangan, serta beberapa satker terkait di Pemprov Lampung itu mendapati sejumlah kendala yang dikeluhkan pedagang.

Salah satu pedagang Pasar Smep, Sakibin (70), mengeluhkan hasil daging yang didapat dari rumah potong hewan (RPH). Menurutnya, dari satu sapi utuh, hanya sekitar 30-35% yang dapat diambil dagingnya. Dia berharap daging yang dapat diambil mencapai 40% agar pedagang bisa mendapat keuntungan dari harga daging yang melonjak tinggi.

’’Kami terpaksa menjual daging per Kg seharga Rp120 ribu. Karena dari satu sapi itu kami cuma dapat dagingnya sekitar 30-35 persen. Sisanya, seperti tulang dan jeroan meski kami jual tapi untungnya sedikit,” ungkapnya, kemarin (10/8).

Sementara William E Bullo selaku General Manager PT Juang Jaya Abadi, feedlooter sapi di Lampung, mengaku dirinya menjual sapi potong hidup ke RPH dengan harga Rp41 ribu – Rp42 ribu per Kg. Sedangkan saat mencapai pasar harganya mencapai Rp45 ribu. ’’Mungkin ada biaya distribusi dan potong. Yang jelas harga kita segitu,” ungkapnya usai mengadakan pertemuan di PT Juang Jaya Abadi, Kecamatan Sidumulyo, Lampung Selatan (Lamsel), kemarin (10/8).

Sementara, Ketua Satgas Pangan Lampung Kombes Rudi Setiawan menyatakan akan fokus menyikapi tingginya harga daging ke tangan konsumen. Menurutnya, salah satu faktor yakni adanya mata rantai dari feedlooter menuju rumah potong hewan. ’’Inilah yang menyebabkan disparitas (selisih) harga yang masih harus ditelusuri. Harga daging di pasar yang berkisar Rp120 ribu, harus dapat ditekan setidaknya Rp110 ribu. Stok pun harus normal,” jelasnya.

Rudi juga bakal mengecek kualitas sapi dan kondisi RPH. Dari temuan bahwa satu sapi hanya bisa menghasilkan 30-35 persen daging dari seluruh total beratnya, diharapkan bisa mencapai 40 persen sesuai keinginan pedagang. ’’Kita juga masih telusuri apakah disparitas harga dari feedlooter ke RPH itu normal, atau memang ada permianan midle man,” ucapnya.

Harga Garam Ikut Jadi Sorotan

Satgas Pangan Ditreskrimsus Polda Lampung juga bakal menelusuri lonjakan harga garam yang masih tinggi, meskipun stok barang terlihat normal. ’’Stok barang di tingkat produsen banyak. Bahkan terlihat normal. Tapi, saat pedagang menjual ke konsumen, harganya masih tinggi seperti bulan kemarin yang menyebabkan kelangkaan stok garam,” sesal Ketua Satgas Pangan Lampung Kombes Rudi Setiawan, kemarin (10/8).

Dia berjanji akan menelusuri penyebab harga garam yang masih relatif tinggi meskipun stok barang sudah kembali normal. ’’KITA akan segera telusuri diamana letak penyebab kenaikan harga itu,” ujarnya.

Sementara, Tini pedangang di toko Ibu Pon yang berada di Pasar Smep saat dimintai keterangan oleh tim Satgas pangan mengatakan stok berbagai jenis garam stabil. Namun memang harga belum bisa turun ke titik normal. ’’Kalau harga garam kasar merk sendok saat ini per paknya Rp21 ribu, dari harga normal sebesar Rp13 ribu. Bahkan, sekitar dua pekan yang lalu sempat melonjak sampai Rp36 ribu,” ungkap Tini, kemarin (10/8).

Selain itu, garam kasar jenis KL saat ini harganya sebesar Rp24 ribu. Hal ini jauh dari harga normal yakni Rp9 ribu per pak, dan sempat melonjak hingga Rp30 ribu. ’’Sekarang ini kalau garam masih mahal, tapi nggak seperti dua pekan yang lalu, bertahap turunnya, kalau stok sudah mulai normal,”ucapnya.

Kemudian, garam halus merek Daun melonjak pesat beberapa hari ini. Garam kualitas premium itu dijual Rp98 ribu per pak, jauh dari harga normalnya Rp48 ribu. (yud/c1/sur)

Sponsored Content
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here