Lampung Butuh “Creative Tourisme”

Oleh Dr. Andi Desfiandi, MA*)
604
Dr. Andi Desfiandi, MA

Lampung sudah dicanangkan sebagai Treasure of Sumatera dengan memperkenalkan beragam obyek wisata yang berbasis destinasi dan mayoritas adalah alam. Memang perlu kita akui bahwa provinsi ini memang cukup kaya dengan beragam pesonanya. Mulai laut, pantai, pulau, air terjun, waduk, pegunungan, perkebunan, hingga atraksi gajah.

Namun konsep wisata konvensional tersebut, yang hanya fokus kepada penawaran destinasi wisata berbasis alam sudahlah kuno. Selain secara perlahan akan merusak ekosistem dan lingkungan hidup, juga memerlukan investasi yang sangat besar dan membutuhkan waktu cukup lama dalam menyiapkan infrastrukur serta sarana prasarana penunjangnya. Seperti transportasi dan infrastrukturnya, akomodasi yang layak, usaha makanan dan minuman yang layak, jasa pendukung lainnya (biro perjalanan yang mengatur perjalanan wisatawan, penjualan cindera mata, informasi, jasa pemandu, kantor pos, bank, sarana penukaran uang, internet, wartel, tempat penjualan pulsa, salon, dan lain-lain).

Untuk itu seyogyanya pemerintah daerah harus melakukan terobosan yang efektif dan efisien dalam memecah kebuntuan akan hal tersebut. Karena tidak mungkin seluruh aspek penunjang utama pariwisata konvensional tersebut bisa teratasi dalam waktu singkat. Diperlukan waktu setidaknya lima hingga sepuluh tahun untuk menyelesaikannya. Itu pun apabila pemerintah daerah fokus dalam pembenahan aspek-aspek tersebut.

Belum lagi edukasi dan pendampingan terus-menerus terhadap masyarakat sekitar obyek wisata agar melek pariwisata. Kemudian juga pengawasan serta pemeliharaan obyek wisata termasuk juga alokasi dana yang tidak sedikit untuk menjamin pelestarian alam dan lingkungan obyek wisata.

Kendala atau konflik sosial juga mungkin terjadi di mana masyarakat sekitar akan berusaha menghalangi dan mengganggu keberlangsungan obyek wisata tersebut. Utamanya, ketika mereka menyadari tidak ada manfaat ekonomi bagi mereka karena keuntungan ekonomi hanya dimiliki oleh pemilik obyek wisata tersebut.

Sponsored Content
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here