Melihat Keunikan Pencinta Celana Cutbray

Abaikan Cemoohan, Bantu Ortu Mengenang Masa Muda

NYAMAN: Doni dkk. terlihat nyaman mengenakan celana cutbray. FOTO RIZKY PANCHANOV/RADAR LAMPUNG
- Advertisement -

radarlampung.co.id – Ada yang seolah tidak bisa tertutupi tren fashion. Yakni keberadaan celana cutbray. Kalangan remaja yang meski tak pernah merasakan kejayaan celana dengan lebar di bagian bawah ini, hingga kini tetap menggemarinya. Menurut mereka, ketenarannya pada dekade ’70-an itu tetap menyimpan sejarah.

Laporan Rizky Panchanov, BANDARLAMPUNG

BERBINCANG dengan Doni dkk. rasanya seperti berada di era tahun ’70-an. Celana cutbray dengan atasan kemeja motif bunga-bunga menjadi teman santai mereka. Kemarin (11/8), wartawan koran ini sempat mendatangi komunitas Cutbray Geh Lampung di salah satu even rokok di Lapangan Korpri, Bandarlampung.

Komunitas itu mulai terbentuk 13 September 2013. Beberapa pilar pendirinya adalah Doni Saputra dan Rido Prayoga. Doni, yang ditunjuk sebagai wakil komunitas mengatakan, awalnya dia melihat kedua orang tuanya kerap menggunakan celana cutbray di tahun ’90-an. Tak disangka, ia kemudian jatuh cinta dengan celana tersebut. Ia yang bertetangga dengan Rido mengajaknya mengoleksi celana tersebut.

’’Tawaran saya akhirnya disambut baik sama Rido. Ternyata dia juga suka hal-hal vintage gitu,” tutur Doni kemarin.

Keduanya mulai menggunakan celana tersebut sejak duduk di bangku SMA. Seragam putih abu-abu ia sulap dengan celana motif cutbray. Doni mengatakan memang sejak awal ia berusaha mempopulerkan cutbray sebagai tren. Berkali-kali pula ia mendapat tertawaan dari rekan-rekannya.

’’Ya diketawain pasti, dibilang norak lah apa lah. Tapi itu yang buat kami semakin pede buat ngenalin lagi cutbray ke anak-anak jaman sekarang,” jelas Doni.

Ya, Doni mengatakan hanya satu tujuan yang membuat komunitasnya mengusung konsep unik ini. Yakni untuk mempopulerkan kembali celana yang ngetrend selama 3 dekade ini. Doni menjelaskan, keberadaan celana cutbray mulai mengalami kehilangan pupularitas sejak tahun 2000 awal.

’’Ditahaun 90-an masih banyak. Semakin ke sini semakin jarang yang pakai cutbray sampai di tahun 2000an awal,” jelasnya.

Saat ini dirinya bahkan mengatakan celana cutbray semakin sulit ditemui. Itu lantaran sudah tidak ada lagi toko, mall, ataupun pasar yang menjual. Ia mengatakan untuk mencari keberadaan celana itu, anggota komunitasnya mencarinya dengan membeli di dunia maya.

’’Paling yang masih bisa ditemui itu yang celana cutbray untuk wanita, itu masih ada yang jual,” jelasnya. Selain itu, komunitas Cutbray Geh Lampung membeli bahan celana dasar yang kemudian dijahit untuk disulap menjadi celana cutbray. Sebagian besar koleksinya datang dari milik warisan orang tua.

Saat ini, Doni mengaku sudah mengkoleksi 15 celana cutbray. ’’Hampir setengahnya punya warisan ayah, ya orangtua sih seneng ya mereka jadi mengingat masa mudanya,” kata dia.

Senada diungkapkan Rido. Menurutnya, celana cutbray dengan bahan kadorai paling sulit dicari saat ini. Ia mengatakan celana dengan bahan kadorai paling poluler di zaman kejayaan celana cutbray. Komunitas yang sudah memiliki anggota 80 orang di Bandarlampung ini tak hanya mengkoleksi celana cutbray saja, namun juga mengkoleksi pakaian vintage atau jadul untuk mencocokan style fashion cutbray.

’’Seperti jaket jeans atau sepatu kulit yang ujungnya lancip kita juga koleksi,” kata dia. Komunitas Cutbray Geh Lampung aktif menggelar pertemuan tiap pekan di pasar seni Enggal, Bandarlampung. Empat tahun berdiri tak gampang bagi komunitas ini mendapatkan anggota. Namun pelan tapi pasti bahkan mereka bisa membuat cabang di Pringsewu. (c1/sur)

- Advertisement -
loading...

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY