Melihat Ruang Kelas Berdinding Kayu SD Negeri 2 Gulakgalik

Bertahan dari Terjangan Tsunami, Kini Masuk Daftar Cagar Budaya
112
TETAP FOKUS: Sejumlah siswa tetap fokus belajar di dalam bangunan yang masih berdinding kayu. FOTO ALAM ISLAM/RADAR LAMPUNG

radarlampung.co.id – Di tengah arus modernisasi, sudah semestinya peninggalan sejarah dijaga kelestariannya. Inilah yang coba dilakukan SD Negeri 2 Gulakgalik, Telukbetung Utara (TbU), dalam rangka melestarikan cagar budaya yang berdiri di tengah-tengah sekolah tersebut.

Laporan Elga Puranti, BANDARLAMPUNG

SEKILAS tidak ada yang aneh dengan suasana di SDN 2 Gulakgalik. Namun bila langkah kaki lebih beranjak ke sisi dalam halaman sekolah, terlihat salah satu bangunan yang bisa memancing mata terbelalak.

Bagaimana tidak, dari sekian banyak ruang kelas yang berdiri dengan struktur dinding beton yang kokoh, di sekolah dasar ini masih berdiri ruang kelas dengan bangunan kayu. Jendela dibuat cukup lebar dilengkapi ventilasi yang terbuat dari anyaman kawat.

Bangunan itu berdiri di pinggir lapangan dan sengaja dicat kuning dan coklat tua. Di depannya menggantung beberapa tanaman hias lengkap dengan pot kecilnya. Langit-langit bangunan dibuat tinggi, mungkin itu membuat suasana di dalam ruangan terasa dingin.

Nah, jika melihat ke dalam ruangan, nuansa berada di zaman dulu sangat terasa. Jendela yang ada di ruangan tersebut ukurannya begitu besar nyaris sebesar pintu. Pintunya ada di dua sisi bangunan, satu sisi pintunya terlihat biasa saja, sementara pintu pada sisi lain di-design untuk dibuka ke kanan dan kiri. Bangunan dibagi menjadi tiga ruang, masing-masing ruang dihubungkan oleh pintu berbeda.

Jendela besar hanya terdapat pada satu sisi bangunan, sementara sisi lain hanya diberi ventilasi besar setinggi setengah meter. Di dalam ruangan, meja dan kursi tersusun rapi. Meski bangunan tua, namun ruangan sudah dilengkapi dengan white board.

Penasaran dengan usia bangunan tersebut, wartawan koran ini lantas menemui Salbiah, salah satu guru yang sudah terbilang lama mengajar di sekolah dasar tersebut. ’’Bangunan ini sudah dari zaman Belanda. Sekitar tahun 1880–1884, dulu namanya masih Sekolah Rakyat (SR),” kata wanita berkerudung kuning itu.

Gedung tersebut digunakan untuk ruang kelas 3, 4 (a), dan 4 (b). Walau disisakan, namun gedung dari kayu tersebut tetap mengalami renovasi pada lantai, flavon (langit-langit), dan genteng. Beberapa cat memang sudah mengelupas, namun menyisakan cat-cat dasar tanda bangunan sudah beberapa kali ditimpa cat.

Sponsored Content
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here