Melirik Pesona Tanah Gayo

Dataran Tinggi yang Lebih dari Sekadar Daerah Penghasil Kopi
371
FOTO: Ishak Mutiara/Rakyat Aceh

KOPI menjadi salah satu kekayaan alam unggulan negeri ini. Produk kopi olahan petani Indonesia berhasil menjadi primadona hingga mancanegara. Berada di wilayah tropis, membuat Indonesia memiliki beberapa perkebunan kopi. Salah satunya, tanah Gayo, Takengon, Aceh, daerah agrobisnis dengan produk kopi Gayonya.

Pesona tanah Gayo menimbulkan keinginan menjelajahi lebih jauh negeri seribu bukit tersebut untuk kesekian kalinya. Berawal dari Banda Aceh, trip jalur darat ke kawasan itu pun dimulai. Dengan menggunakan kendaraan roda dua berjenis matik, trip ala backpacker pun dipilih. Walaupun terbatas dengan perlengkapan layak, kamera tetap menjadi properti trip paling utama.

Tak ada salahnya untuk mengurai sedikit cerita perjalanan menuju Gayo. Dari Banda Aceh, perjalanan diawali dengan melewati Gunung Seulawah Agam dan Seulawah Dara yang masih berada di kawasan Aceh Besar dan Pidie. Sampai di Pidie, tepatnya di Kota Beureunun, Kecamatan Mutiara, kami beristirahat sejenak setelah menempuh perjalanan 113 km selama sekitar tiga jam.

Nggak butuh waktu lama untuk meregangkan otot-otot. Mesin matik pun kembali dihidupkan. Perjalanan santai itu menghasilkan banyak pemandangan menarik hingga tak terasa telah tiba di Kota Juang, Kabupaten Bireun. Ketika kami sampai di pusat Kota Juang, terdapat perempatan yang jika lurus ke arah Medan, kiri ke pusat perbelanjaan, dan kanan ke arah Gayo.

Selama kami melewati bukit barisan, suasana jalan yang berliku-liku dan naik turun menimbulkan kesan tersendiri. Apalagi, saat itu jalan nggak begitu ramai. Hingga tibalah kami di pusat Kota Takengon dengan selamat setelah melalui perjalanan sekitar tujuh jam dari Banda Aceh. Tanpa pikir panjang, mencari tempat penginapan menjadi kegiatan pertama yang pas untuk dilakukan.

Sebagai daerah dataran tinggi di antara pegunungan dan hutan lebat, panorama tanah Gayo cenderung berbeda dengan daerah lain. Gayo merupakan sebuah Kabupaten di Aceh Tengah dengan pusat pemerintahan di Takengon. Tanah Gayo kerap berbalut embun saat pagi sehingga cuaca di sana selalu dingin sampai menusuk tulang. Nggak heran, Gayo memiliki julukan ”Negeri di Atas Awan”.

Nggak cuma menjadi daerah agrobisnis dengan hasil perkebunan kopi yang sangat terkenal, kawasan tersebut juga menjadi daerah paling subur untuk tanaman holtikultura. Selain itu, dataran tinggi tersebut masih sangat kental dengan kearifan lokalnya. Masyarakat di sana masih akrab dengan budaya asli Gayo.

Budaya itu sering tampil diberbagai event nasional seperti tari saman, didong, resam monoling, dan pacuan kuda tradisional. Pacuan kuda merupakan atraksi wisata unggulan suku Gayo. Penjelajahan tanah Gayo dimulai dari tepian Danau Laut Tawar, ikon pariwisata utama di sana. Danau tersebut terletak di barat Kota Takengon, Aceh Tengah. Danau dengan luas sekitar 5.472 hektare, panjang 17 km, dan lebar 3,219 km itu menjadi tempat populasi ikan depik yang terkenal di dataran tinggi tersebut.

Dari jalan yang mengelilingi tepi danau, selain pemandangan danau, kami disuguhkan hamparan sawah dan kebun kopi milik warga. Yap, di dataran tinggi Gayo mayoritas masyarakatnya adalah petani kopi. Sebanyak 80 persen dari perkebunan itu adalah varietas arabica coffee. Meskipun tanaman kopi di Aceh ada sejak masa Belanda menduduki Aceh, kopi arabika baru familier untuk masyarakat Aceh pada 2010. (*/jpg/c1/snd)

Penulis: Dhesy Badrina (Wartawan Rakyat Aceh)

Sponsored Content
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here