Membatik untuk Presiden, Berangan Bisa Kuliah

Kegigihan Remaja Tunarungu di Balik Impitan Ekonomi Keluarga
68
MEMBATIK: Ira Julia Sari (18) membatik dalam ajang LKSN Studi tingkat Pendidikan Khusus di Jakarta pada 27–31 Juli 2017. FOTO IST. FOR RADAR LAMPUNG

radarlampung.co.id – Menyandang tunarungu tak membuat Ira (18) patah semangat untuk tetap membanggakan keluarga. Dengan semangat yang gigih, ia berhasil menepis rasa minder. Belum lama ini, ia pun sukses mengharumkan nama Lampung di level nasional.

Laporan Prima Imansyah P., BANDARLAMPUNG

WAJAH Ira Julia Sari (18) terlihat berseri. Tangannya dengan kuat menggenggam amlop putih berisikan uang. Itu setelah siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) Darma Bakti, Kemiling, Bandarlampung, ini baru saja menerima hadiah uang tunai atas raihan juara I nasional dalam Lomba Keterampilan Siswa Nasional (LKSN) Studi tingkat Pendidikan Khusus di Jakarta pada 27–31 Juli 2017.

Tidak mau terlalu lama memegang hadiah tersebut, Ira segera menyerahkannya kepada sang ayah, Sugeng, yang sengaja datang untuk menemaninya mengambil hadiah. ’’Mau minta tolong ayah bantu simpankan. Ditabung untuk Ira kuliah,” ujarnya dengan terbata-bata, efek dari tunarungu yang dideritanya.

Namun, meski menyandang tunarungu, Ira tidak bisa dipandang sebelah mata. Buktinya, remaja berhijab ini berhasil mengungguli wakil dari Jawa Tengah dan Bali yang notabene daerah penghasil batik di nusantara dalam ajang LKSN.

Ira merupakan sulung dari tiga bersaudara. Lomba yang diadakan Direktorat Pendidikan Kusus dan Pelayanan Kusus pada Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tidak hanya membanggakan pribadi Ira atau pun sekolah. Tapi juga provinsi ini. Pasalnya pada tahun 2016, Lampung hanya berhasil mendapat juara tiga nasional pada lomba membatik.

Saat ini, dirinya baru saja beranjak ke bangku kelas 1 SMA SLB Dharmabakti. Dahulu, dengan keterbatasan ekonomi karena sang ayah hanya bekerja buruh serabutan, pendidikan formal Ira sempat terputus. Namun, dia tidak ingin sebatas menghabiskan waktunya berdiam diri di rumah.

Ya, di masa-masa itu lah bakat membatiknya mulai tumbuh. Itu setelah dirinya memutuskan belajar membatik di Oma Batik, Kemiling sejak 2014 silam. ’’Pertama kali itu belajarnya bareng Liza (teman sepermainannya). Liza juga yang ngajarin Ira membatik,” ucapnya. Sehari-hari, waktunya ia habiskan di butik tersebut.

Di butik tersebut, sang pemilik mengagumi bakat dan kegigihan Ira. Sang pemilik bahkan memberi kepercayaan kepada Ira untuk ikut membuat batik pesanan Presiden RI Joko Widodo. Ya, butik tersebut berhasil mendapat pesanan 600 kain batik yang sekitar satu pekan lalu selesai dikerjakan.

’’Satu batik Ira dapat upah Rp75 ribu. Tapi dikerjakannya bersama-sama teman lain, Ira dapat tugas mencanting. Kalau Ira lagi semangat, satu batik selesai dua hari. Normalnya tiga hari. Upahnya untuk bantu bapak dan ibu,” tutur remaja yang bercita-cita menjadi guru tersebut.

Singkat cerita, dua tahun lalu, Ira memutuskan untuk melanjutkan pendidikan formalnya. Masuklah dia ke SMP SLB Dharmabakti dengan lebih dulu melobi keringanan biaya pendidikan. Betapa senang hatinya di sekolah itu dia tetap bisa melanjutkan hobi membatiknya. Bahkan, dia makin rajin berlatih keterampilan membatik. Biasanya, Ira memulai rutinitas yang sudah menjadi hobinya itu pukul 10.00 WIB sampai 13.00 WIB.

Imas Cici Juarini, sang guru yang sehari-hari mendampinginya melihat Ira tidak hanya memiliki semagat kuat dalam menjalani hobi membatik. Tapi juga terihat bakat yang seolah telah terasah sejak lama. Hingga akhirnya terpilih mewakili Lampung ke LKSN setelah lebih dulu menang perlombaan tingkat provinsi.

’’Awalnya, sekolah hampir tidak memilih Ira untuk ikut lomba. Karena saat itu ira merupakan orang yang keras kepala dan hanya mau melakukan apa yang dia mau. Tapi setelah dibimbing, sifat itu mulai berkurang drastis dan mau menerima sejumlah saran guru pembimbing,” ujar Imas. Sementara nilai plus Ira adalah cekatan dan cepat dalam membatik.

Ya, dalam perlombaan membatik LKSN, peserta diberi waktu dua jam setengah untuk menggambar desain. Dilanjutkan kegiatan mencanting, mewarnai, waterblas, merebus, sampai menjemur hanya dalam waktu enam jam.

’’Waktu yang singkat harus disiasati dengan baik. Sedangkan biasanya warna batik akan bagus jika diangin-anginkan selama semalam. Tidak kami sangka Ira memiliki pemikiran cerdas. Untuk menyiasati terbatasnya waktu Ira melakukan pewarnaan sebanyak tiga kali. Dengan metode itu batik hasil karyanya jauh lebih bagus dari peserta lain yang warnanya rata-rata pecah dan luntur,” papar Imas. Alhasil, Ira dinyatakan keluar sebagai juara I.

Adapun tema yang diangkat oleh panitia LKSN 2017 adalah batik kontemporer dengan ikon daerah masing-masing peserta. Dalam hal ini Ira mengambil motif batik bergambar Payung Agung, Perahu, Lada, Kopi, Walet, Bunga, yang semuanya merupakan konten lokal Lampung.

Menurut Imas, gambar-gambar tersebut di pilih langsung oleh ira. ’’Saya sebatas memberi pengerahan mengenai arti dari gambar yang dibuat Ira untuk dijelaskan ke jutri,” ujarnya.

Ada pertayaan sedikit mengganjal dari karya Ira. Ya, dalam bartik yang dilombakannya tidak tertera gambar siger. ’’Saya sempat usulkan gambar siger. Tapi kata dia kalau ada siger waktu yang diberikan tidak akan cukup. Ternyata dia benar. Kami pun kagum dia bisa pandai memenejemen waktu dengan memberi perkiraan yang tepat,” puji Imas. (dilengkapi ari s./p1/c1/sur)

Sponsored Content
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here