Negosiasi Sandera Masih Buntu

65
Ilustrasi. (Ist)

radarlampung.co.id – Memasuki hari keempat penyekapan 1.300 warga Desa Banti dan Kimbely di Kecamatan Tembagapura, Timika, Papua, satgas gabungan TNI dan Polri belum bisa menjalin komunikasi dengan kelompok kriminal bersenjata (KKB) yang melakukan penyekapan. Belum ada negosiasi yang dilakukan. Namun secara umum, kondisi warga desa dinyatakan masih baik-baik saja.

’’Satgas terpadu sudah mencoba menghubungi pimpinan kelompok, belum ada kontak yang intens, belum ada negosiasi,” kata Kadivhumas Mabes Polri Irjen Setyo Wasisto di kantornya kemarin (10/11).

Secara umum, satgas belum mengetahui apa maksud dan keinginan KKB. Namun Setyo memprediksi, kelompok tersebut ingin mempertahankan keutungan ekonomi yang selama ini mereka dapatkan dari aktivitas memalak, menjarah, dan memajak secara ilegal warga kedua desa tersebut. Bisa saja ada motif lain, tapi kita harus dalami dulu,” ungkapnya.

Dua desa tersebut memang dikenal sebagai tempat tinggal para pendulang ilegal sisa Tambang PT Freeport Indonesia (PT. FI). Ada 1000 warga asli dan sekitar 300 warga pendatang.

Secara umum, kata Setyo, kondisi warga di kedua desa dilaporkan masih baik. Belum ada laporan tindak kekerasan yang dilakukan oleh KKB pada warga. Kabar bahwa KKB menjarah harta benda warga juga dibantah Setyo. Yang jelas, kata Setyo, bahwa ada intimidasi psikis terhadap warga.

Sementara untuk akses bahan makanan, Sementara tidak ada masalah karena kalangan Ibu-ibu diperbolehkan keluar kampung untuk berbelanja kebutuhan makanan. “Tapi kalau bapak-bapak dan yang laki-laki semuanya tidak boleh keluar kampung,” katanya.

Sementara ini, kepolisian juga tidak mematok target khusus dalam negoisasi. Satgas masih akan melihat perkembangan sambil terus mencoba menjalin komunikasi dan bargaining.  Setyo juga menyebut bahwa ada kemungkinan terjadinya stockholm syndrome dimana para sandera berbalik mendukung para penyekap. “Karena terlalu lama dan terlalu intens berhubungan dengan penyekap, mereka jadi berbalik,” pungkasnya.

Direktur Komunikasi dan Informasi Badan Intelejen Negara (BIN) Wawan Hari Purwanto menjelaskan jika pihaknya juga masih mendalami kasus tersebut. Dia menuturkan jika jumlah pelaku penyanderaan berkisar 20 hingga 50 orang. ”Mereka menggunakan senjata lama. Ada laras panjang,” ujarnya kemarin. Namun siapa yang menjadi dalam, BIN belum bisa menentukan.

Penggunaan senjata ini menurut Wawan bisa jadi pelaku adalah para separatis. Apalagi peredaran senjata di Papua menurutnya masih belum mendapatkan pengawasan yang baik. Masih bebas. ”Kita tidak bisa langsung menuding siapa yang menjadi pelakunya,” tutur Wawan.

Wawan tak ingin gegabah menyebutkan siapa yang menjadi pelaku. Sebab menurutnya tindakan yang tidak hati-hati dapat memicu konflik. (jpg/c1/wdi)

Sponsored Content
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here