Oedin Beri Panggung Arinal

Sugeng Dilamar Banyak Cagub

PERTEMUAN: Bakal calon gubernur (balongub) Lampung Arinal Djunaidi saat bertemu Duta Besar (Dubes) RI untuk Kroasia Sjachroedin Z.P. saat perpisahan di RM Griya Liwet, Pahoman, kemarin. FOTO M. TEGAR MUJAHID/RADAR LAMPUNG
- Advertisement -

radarlampung.co.id – Pertemuan tokoh Lampung Sjachroedin Z.P. dan bakal calon gubernur (cagub) Arinal Djunaidi kembali terjadi. Kali kedua, pertemuan Oedin –sapaan Sjachroedin Z.P.– dengan Arinal selama masa pulang kampungnya ke Lampung.

Oedin yang kini bertugas sebagai duta besar Republik Indonesia (RI) untuk Kroasia ini mengatakan, dua kali pertemuannya memang tidak terkait dengan Pemilihan Gubernur (Pilgub) Lampung 2018. Pertemuan pertama pada Minggu (30/7) karena sama-sama menjadi undangan dalam peresmian sebuah kafe.

Kemudian kemarin, mereka bertemu lagi di Griya Liwet, Bandarlampung. Pertemuan itu sejatinya adalah perpisahan yang digelar Lampung Sai dan Forum Komunikasi Masyarakat Lampung (Fokmal) karena Oedin akan kembali ke Kroasia.

Perpisahan itu juga dihadiri pensiunan pegawai negeri sipil (Pns) Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung. Rata-rata, pensiunan yang datang adalah PNS di zaman Oedin menjabat sebagai gubernur dua periode lalu. Arinal termasuk pensiunan PNS dimaksud.

Menariknya, dalam kesempatan kemarin, Oedin memberikan panggung kepada Arinal untuk bicara di hadapan peserta silaturahmi. Arinal kemudian memohon doa restu dan dukungan untuk maju sebagai cagub. Ketua Partai Golkar (PG) Lampung ini juga menyatakan bakal meneruskan sejumlah program Oedin yang saat ini terhenti.

”Arinal datang. Saya kenal dia, pensiunan. Mumpung dia datang, ngomong dulu, kan mau nyalon gubernur. Tapi nggak ada pengaruh. Dia ke sini sebagai pensiunan, apa urusan dengan Golkar. Apa kekuatan Lampung Sai dan Fokmal? Tidak ada! Milih Arinal, silakan. Mau milih yang lain juga silakan,” jelasnya.

Meskipun menyatakan netral dalam pilgub, tokoh PDIP ini justru menyindir sejumlah cagub yang masih menjabat sebagai kepala daerah. Dia juga menyinggung ketidaksetujuannya terhadap moratorium pembangunan kompleks perkantoran Kotabaru yang digagas di zamannya.

Hal ini memperkuat dukungannya terhadap Arinal. ”Kalau saya secara pribadi tidak suka seperti itu, baru dilantik tapi sudah pindah mencalonkan yang lain. Tidak komitmen, fokus saja ke daerahnya. Jangan belum selesai jabatannya sudah mau nyalon lagi,” jelasnya.

Soal Kotabaru, dia tidak setuju jika pembangunannya berhenti karena alasan moratorium pembangunan perkantoran dari presiden. ”Nggak ada moratorium, tapi jangan bebankan. Buktinya pemerintah Sulawesi Selatan, baru bangun wisma negara waktu presiden ngomong. Dia bangun karena uang pemerintah sudah tertanam di sana. Masa ditinggal? Berarti melalaikan aset. Tidak ada kerugian negara, malah banyak keuntungan,” bebernya.

Sementara, Arinal mengakui jika kehadirannya di acara tersebut bukan merupakan bentuk dukungan. Namun sebagai cagub, tentunya dia tidak akan berhenti memohon doa restu dan dukungan, serta menyosialisasikan visi dan misinya. ”Tentunya saya tetap mengharapkan agar masyrakat memilih saya,” jelas dia.

Terkait calon wakilnya, menurut dia, masih belum ada. Dia akan fokus sosialisasi dan menjalin komunikasi dengan partai politik untuk mencari koalisi. “Pperahu saja masih kurang bagaimana mau mikirin wakil? Saya cukupkan dulu koalisi, nanti baru cari wakil yang substansif,” tegasnya.

Pada bagian lain, mantan Rektor Universitas Lampung (Unila) Sugeng P. Hariyanto mengaku sudah dilamar banyak cagub untuk maju dalam pemilihan gubernur (pilgub) 27 Juni 2018. Untuk kepentingan masyarakat, Sugeng pun menyatakan siap menjadi calon wakil gubernur (cawagub).

’’Sudah banyak dari calon gubernur yang muncul saat ini datang ke saya melalui utusannya,” kata Sugeng kepada wartawan di Griya Liwet, Bandarlampung, kemarin.

Ketua Persatuan Perdalangan Indonesia (Pepadi) Lampung ini mengatakan, statusnya sebagai pegawai negeri sipil (PNS) turut menjadi pertimbangan untuk maju sebagai cawagub. Dia tentu akan berpikir lebih matang untuk meramaikan kontestasi lima tahunan tersebut.

”Kalau saya akan maju tentunya saya harus mengundurkan diri ke Kemenristek Dikti. Makanya saya belum berpikir ke arah sana, tapi banyak yang minta saya jadi pendamping,” singkatnya. (dna/c1/gus)

- Advertisement -
loading...

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY