Polisi-Bandar Baku Tembak di Fly Over

Satu Tewas, 200 Gram Sabu Disita

BARANG BUKTI: Kapolda Lampung Irjen Sudjarno menunjukkan barang bukti yang didapat dalam operasi penangkapan bandar narkoba di Bandarlampung kemarin. FOTO M. TEGAR MUJAHID/RADAR LAMPUNG
- Advertisement -

radarlampung.co.id – Tindakan tegas dilancarkan aparat kepolisian. Miswadi (39) harus meregang nyawa setelah dua peluru menerjang tubuhnya. Warga Jl. Kalibaru Barat, Cilincing, Jakarta Utara, ini disebut polisi sempat melawan saat hendak ditangkap sekitar pukul 05.30 WIB kemarin.

Miswadi diduga merupakan bandar pemasok narkoba untuk wilayah Mesuji dan sekitarnya. Polisi menangkapnya saat hendak transaksi narkoba di bawah jembatan layang (fly over) Jl. Ryacudu, Wayhalim, Bandarlampung.

Namun bukannya menyerah, Miswadi malah menyerang polisi. Baku tembak pun terjadi. Miswadi membidikkan senjata api jenis revolver ke arah petugas.

’’Karena sudah ada perlawanan, petugas mengambil tindakan tegas menembak mati tersangka,” kata Kapolda Lampung Irjen Sudjarno di kamar jenazah Rumah Sakit Bhayangkara kemarin.

Dijelaskan, Miswadi melepaskan tembakan ke arah polisi yang mengepungnya. Namun, dia kalah dalam baku tembak itu. Timah panas polisi menembus tubuhnya. Dari hasil pemeriksaan, dua butir peluru menembus bagian dada dan perut. Miswadi pun tewas di tempat.

Dilanjutkan Sudjarno, saat penangkapan terjadi, Miswadi berboncengan dengan seorang rekannya. ’’Rekannya berhasil melarikan diri dan masih dalam pengejaran polisi,” kata mantan Wakapolda Metro Jaya ini.

Polisi sudah lama mengintai Miswadi dengan cara undercover buy. Hal ini dilakukan untuk memancingnya keluar dari persembunyian di Mesuji. Suwadi ditengarai telah menjadi pengedar sejak 2014.

Di Mesuji, Miswadi punya nama alias Suwadi. Berdasarkan catatan kepolisian, dia belum pernah masuk penjara. ’’Tersangka selama ini dikenal licin. Dia juga memang target operasi (TO) petugas. Sampai beberapa kali kita pancing agar keluar dan baru kemarin dia mau keluar dan bertransaksi,” papar Sudjarno.

Ada sejumlah barang bukti yang berhasil disita. Yakni narkoba jenis sabu-sabu seberat 200 gram dan ganja 5 kilogram. Dengan nilai sekitar Rp200 juta. Kemudian satu timbangan digital, dua sendok terbuat dari sedotan, sepucuk senjata api rakitan jenis revolver, satu peluru aktif, sebutir selongsong, dan satu ponsel. Barang bukti itu ditemukan dalam tas ransel milik Miswadi.

Terpisah, akademisi Fakultas Hukum Universitas Lampung (Unila) Yusdianto menilai langkah represif polisi perlu diapresiasi. Sebab, polisi punya tugas menciptakan rasa aman dan nyaman bagi warga.

Namun, dia mengingatkan, tindakan represif tersebut harus juga mempertimbangkan hak-hak tersangka. Yusdianto juga menilai untuk jangka pendek tindakan represif itu bisa menyelesaikan masalah. Tetapi tidak untuk jangka panjang. Tak menutup kemungkinan muncul dendam dari pihak yang bersimpati atau punya hubungan dengan pelaku yang tewas tertembak. ’’Karenanya, polisi harus lebih mengedepankan preventif,” katanya. (nca/wdi/c1/wdi)

- Advertisement -
loading...

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY