Praktik Politik Transaksional, Dang Ike: Satu Suara Seharga Permen

223
Irjen Pol Ike Edwin (kiri) menyapa mahasiswa usai menjadi narasumber seminar nasional 'Politik Transaksional dan Radikalisme' di GSG UIN Raden Intan Lampung, Kamis (9/11). FOTO DINA PUSPASARI.

radarlampung.co.id – Staf Ahli Kapolri Bidang Sosial Politik Irjen Ike Edwin, mengajak mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung untuk menghindari politik transaksional. Dia mempertanyakan penyelenggaraan pemilihan gubernur (pilgub) 2018 yang harus mengunakan uang besar. Bahkan sampai ratusan miliar. Nah, dengan uang besar itu, justru orang berebut untuk menjadi gubernur. Mantan Kapolda Lampung ini juga mengilustrasikan bentuk politik transaksional.

”Sembako dikasih harga Rp500 ribu satu suara untuk lima tahun. Kita hitung Rp500 ribu dibagi 1.500 hari lebih kurang. Berarti, satu hari hanya Rp300. Itu hanya harga sebuah permen. Kenapa harus dana besar begitu? Karena calonnya nggak punya nilai. Siapa yang mau menjadi pemimpin harus dekat sama masyarakat. Jadi jangan jadi tokoh sembako, buat kegiatan begini-begitu, menghabiskan biaya,” paparnya ketika menjadi narasumber seminar nasional ‘Politik Transaksional dan Radikalisme’ di GSG UIN Raden Intan Lampung, Kamis (9/11).

Narasumber lainnya, politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Hidir Ibrahim, mengatakan, demokrasi saat ini tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakat. Maka selalu terjadi politik transaksional. Dari sisi kandidat, banyak orang baik dan kompeten tapi tidak memiliki kesempatan untuk maju pilgub karena tidak memiliki uang. Sementara, banyak pula kandidat yang maju bukan karena iktikad baik membangun, tapi justru karena gengsi.

”Jadi, mau tidak mau, politik transaksional terjadi karena sistem demokrasi. Pilgub yang digelar secara langsung terhadap 9 juta penduduk, kalau calon tidak memiliki modal besar, tidak mungkin menjadi gubernur. Menggerakkan mesin pemenangan saja membutuhkan dana operasional yang besar. Ini faktanya,” kata Hidir.

Wakil Dekan III Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Raden Intan Lampung, Abdul Syukur, berharap mahasiswa menjadi pemimpin bangsa dan bekerja profesional. Terkait konteks seminar, Syukur mengatakan, baik politik transaksional dan radikalisme adalah dua hal yang harus dicegah. Dimana, dari sisi demokrasi, politik transaksional dalam bentuk menebar uang. Sedangkan radikalisme menebar paham keras yang bertentangan dengan kemanusiaan. (dna)

Sponsored Content
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here