Proyek Jaringa Gas Sisakan Masalah

Akibatkan Penyakit hingga Tutupnya Usaha
226
DIPROTES WARGA: Pelaksanaan proyek jargas di Kelurahan Kelapatiga, Tanjungkarang Pusat, diwarnai protes warga setempat yang lantas membuat tumpukan tanah itu menjadi layaknya sebuah makam. FOTO M. TEGAR MUJAHID/RADAR LAMPUNG

BANDARLAMPUNG – Pelaksanaan proyek jaringan gas (jargas) di Kelurahan Kelapatiga, Tanjungkarang Pusat (TkP), Bandarlampung, diwarnai protes warga setempat. PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Lampung dituntut bekerja cerdas tanpa harus merugikan aktivitas masyarakat sekitar.

Ya, warga mengeluh banyaknya tumpukan tanah yang terkesan dibiarkan begitu saja. Sebagai bentuk protes, warga lantas membuat tumpukan tanah itu menjadi layaknya sebuah makam.

Pantauan Radar Lampung, beberapa tumpukan tanah masih terlihat di ruas jalan meski galian pemasangan pipa sudah selesai. Hal ini membuat warga sekitar protes atas pekerjaan yang dinilai tidak rapi tersebut.

Djamil Riyadi, salah satu warga sekitar, meminta agar tanah bekas galian tersebut ditimbun kembali, atau diangkut ke tempat lain. Sebab, adanya tanah itu mengganggu aktifitas pengendara yang melintas. Polusi debu pun ikut muncul, yang dikhawatirkan membuat penyakit baru serta membuat kotor pekarangan masjid.

’’Debu galiannya bertebaran. Warung saya saja sampai tutup karena banyak debu. Bahkan, cucu saya sampai sakit gara-gara menghirup udara yang tidak sehat itu. Kami meminta supaya badan jalan dibersihkan dari tumpukan tanah itu,” tuntut Djamil kemarin (16/7).

Serupa diungkapkan Guntur. Akibat dari tumpukan tanah itu, temannya yang sedang mengendarai motor terjatuh karena licinnya tanah bekas galian. Tidak hanya itu, kata dia, ada juga gerobak bakso yang ikut terjatuh.

’’Kami sudah katakan sama pekerja untuk membersihkan tanah itu. Tapi sampai saat ini belum dibersihkan. Makanya kami buat tumpukan tanah itu seperti kuburan, sebagai bentuk protes kami supaya tanah itu dibersihkan,” katanya.

Sementara, Ketua RT 11, Kelurahan Kelapa Tiga, TkP, Bandarlampung, Romi Asmara mengaku sudah melaporkan bentuk protes warga ke pekerja yang telah menggali tanah itu. Namun, hingga saat ini, laporannya tersebut belum ditindaklanjuti oleh pemborong yang mengerjakan.

’’Banyak warga yang protes ke saya kalau tanah penggalian pekerjaan gas bumi itu mengganggu aktifitas warga. Protes warga itu sudah saya sampaikan ke pemborong yang mengerjakan, agar kalau galiannya sudah selesai dapat ditimbun kembali. Tapi belum ada respon dari mereka. Makanya warga saya protes sampai tanahnya dibuat seperti kuburan,” terangnya.

Sebelumnya, pelaksanaan proyek jaringan gas membuat hoboh warga karena merasa tidak mendapat sosialiasai. Proyek ini pun membuat aktivitas ratusan kepala keluarga (KK) yang tinggal di jalan itu seketika terhenti.

’’Nggak bisa keluar mobil saya gara-gara ada galian itu. Padahal malam ini (kemarin malam, Red) saya harus jemput adik saya ke bandara. Gara-gara ada galian itu, adik saya harus naik travel,” ucap Rino (27), warga Gang Mangga Dua, Kelurahan Kelapatiga.

Selain itu, warga yang sedang menggelar resepsi pernikahan merasa terganggu dengan adanya penggalian itu. Guntur (30), salah satu warga setempat meminta proses penggalian tidak dilakukan di hari libur. Sebab, biasanya hari Minggu kerap digunakan warga sekitar sebagai momentum menggalar acara resepsi. ’’Kalau jalannya digali di hari Minggu, tamu-tamu yang akan hadir kesulitan masuk ke acara nikahan itu,” ungkap Guntur, saat ditemui di kediamannya, Sabtu (8/7) lalu. (yud/c1/sur)

Sponsored Content
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here