Sabtu, 23 Agustus 2014
     

Stella Angelina dan Shofi Qurrotu A’yunin, Peraih Nilai Tertinggi dan Nomor Lima UN SMP 2013

3152
Kali Dibaca
E-mail   Email Berita
Cetak  Print Berita
PDF  PDF Berita
Tak Boleh Ada Suara di Rumah Selama Belajar Rutin Dua Jam
Ujian nasional (UN) SMP dan sederajat tahun ajaran 2012–2013 mencatat beberapa keistimewaan. Selain tingkat kelulusan cukup tinggi, mencapai 99,55 persen, para peraih nilai terbaik juga didominasi para siswi. Mereka, antara lain, Stella Angelina dan Shofi Qurrotu A’yunin.

Laporan Gugun Gumilar, JAKARTA - Irham Thoriq, MALANG

STELLA mungkin seperti kebanyakan pelajar lainnya yang saat menghadapi ujian nasional selalu mengikuti try out dan bimbingan belajar di luar sekolah. Tetapi dara kelahiran Jakarta, 31 Juli 1998, itu masih tidak percaya bahwa raihan nilai UN-nya tahun ini menjadi yang tertinggi se-Indonesia.

’’Masih kaget, enggak percaya. Ini mimpi atau bukan. Pokoknya campur aduk antara senang dan enggak percaya,” kata Stella saat ditemui di kediamannya di Perumahan Citra 2 Ext BB4, Kalideres, Jakarta Barat, Sabtu (1/6).

Siswi yang aktif bermain basket itu mengatakan, tidak ada kiat khusus untuk mendapatkan hasil yang sempurna. Menurut dia, dengan belajar yang tekun dan tidak harus disuruh orang tua untuk belajar bisa mencerminkan seseorang sungguh-sungguh ingin belajar. Bahkan, idiom raihlah cita-cita setinggi langit menjadi pegangan setiap pagi bagi Stella saat melangkahkan kaki dari rumah menuju sekolah. Sebab, kata bungsu dari empat bersaudara itu, kalau dasarnya tidak memiliki pegangan, sesorang cukup sulit untuk menggapai impian.

’’Kalau kita ada kemauan untuk menggapainya, kenapa harus menunda keinginan itu,” ucapnya.

Stella bersyukur atas prestasi yang diraihnya saat ini. Tetapi, menurut remaja yang gemar membaca buku itu, perjuangan dalam menimba ilmu belum selesai. Sebab, lanjutnya, masih banyak prestasi yang harus diraih. Stella ingin menjadi dokter anak. Karena itu, dia berharap bisa masuk sekolah favorit di Jakarta. ’’Semoga di SMA nanti dapat ilmu yang belum aku ketahui di SMP,” tuturnya.

Dalam empat mata pelajaran UN tingkat SMP, siswa kelas IX C tersebut mendapatkan nilai 10 untuk soal matematika dan IPA. Untuk bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, dia memperoleh nilai masing-masing 9,80.

Sugiyanto, ayahanda Stella, merasa bangga anaknya mendapatkan nilai tertinggi. Sebab, kata dia, anaknya mencapai itu lantaran kerja keras. Stella belajar tidak hanya saat menghadapi UN. Ketika ada waktu luang untuk belajar pun, Stella selalu memanfaatkannya.

’’Mungkin ini hasil jerih payah Stella. Saya sangat bangga dengan apa yang diraihnya. Tetapi, saya selalu ingatkan kepada dia, jangan pernah berhenti belajar dan raihlah cita-cita itu selama bisa diraihnya,” ujar Sugiyanto.

Saat mengumumkan hasil UN SMP dua hari lalu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M. Nuh mengatakan, tingkat kelulusan UN SMP dan sederajat tahun ajaran 2012–2013 cukup tinggi, yakni 99,55 persen.

’’Total peserta UN tahun ini 3.667.241 siswa, yang lulus 3.650.325 siswa atau 99,55 persen dan tidak lulus 16.616 siswa atau 0,45 persen,” ujar Nuh di kantor Kemendikbud, Jakarta Pusat, Jumat lalu (31/5). Tahun ini tercatat istimewa karena perempuan mendominasi perolehan nilai UN terbaik.

Satu lagi siswi yang meraih prestasi pada UN SMP tahun ini adalah Shofi Qurrotu A’yunin. Siswi MTsN 1 Malang, Jawa Timur, itu menempati peringkat kelima nilai ujian nasional tertinggi se-Indonesia. Shofi mengaku mengetahui prestasi tersebut dari SMS teman sekelasnya. Namun, dia tidak langsung percaya begitu saja. Secepat kilat, Shofi mengecek di media online.

’’Kata teman saya ada pengumumannya di media online. Setelah saya lihat, ternyata beneran,” kata dia ketika ditemui di sekolahnya kemarin.

Setelah tahu namanya masuk lima besar nasional, Shofi kegirangan bukan main. Buru-buru, dia mengabarkan kepada kedua orang tuanya, Asma’un Sahlan dan Siti Nur Zaidah. Mendapatkan kabar itu, Siti Nur Zaidah seketika meneteskan air mata. ’’Mungkin karena saking bahagianya, karena sebelumnya tidak pernah terbayangkan,” kata anak terakhir dari empat bersaudara itu.

Perempuan 14 tahun tersebut masuk lima besar nilai ujian nasional se-Indonesia dengan raihan nilai 39,40 dari empat mata pelajaran. Hebatnya, di antara lima siswa peraih nilai terbaik nasional, Shofi merupakan satu-satunya siswa madrasah tsanawiyah. Selain itu, dengan raihan tersebut, Shofi menorehkan nilai UN yang terbaik di tingkat Jawa Timur. Sebab dalam susunan siswa yang masuk lima besar, hanya Shofi yang berasal dari Jatim.

Shofi memang pantas menembus lima besar nasional. Sebab dalam setiap mata pelajaran yang diujikan di UN, nilai siswi yang menempuh sekolah hanya dengan dua tahun (kelas akselerasi) tersebut spektakuler. Di dua mata pelajaran yang jadi momok siswa lain, ilmu pengetahuan alam dan matematika, Shofi justru mendapatkan nilai 10. Untuk bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, dia meraih nilai 9,6 dan 9,8. Bagi Shofi, prestasi tersebut memang tidak pernah ia bayangkan. Dengan nada merendah, menurut dia, masih banyak siswa MTsN 1 lainnya yang lebih pantas mendapatkan prestasi tersebut.

Apalagi selama menjadi siswi MTsN 1, dia hanya dua kali meraih tiga besar di sekolahnya. Yakni saat duduk di bangku kelas VIII. Selebihnya, dia masih kalah oleh siswa lainnya. ’’Tetapi, alhamdulillah, mungkin karena tidak ada beban, UN ini saya bisa maksimal. Padahal, teman saya juga pintar-pintar,” imbuh alumnus MIN 1 Kota Malang itu.

Lantas, apa strategi sukses tersebut? Shofi mengungkapkan, sebenarnya dia tidak memasang target meraih prestasi tinggi itu. Yang dia lakukan hanya konsisten belajar selama dua jam setiap hari di kamarnya. ’’Kalau saya terlalu banyak belajar malah pusing, sehingga tidak maksimal,” tutur gadis asli Kepuharjo, Karangploso, Kabupaten Malang, tersebut.

Namun, menurut Shofi, meski belajar dua jam sehari, sistem belajarnya sangat maksimal. Pasalnya, kedua orang tuanya setiap habis Magrib melarang seluruh anggota keluarga beraktivitas yang tidak perlu. Misalnya menonton televisi dan mendengarkan musik. Itu dilakukan demi konsentrasi belajar Shofi tidak terpecah.

’’Jadi habis Magrib rumah saya sepi. Karena kalau saat belajar ada suara, saya tidak bisa,” jelasnya.

Dengan raihan tersebut, Shofi sangat bersyukur karena dapat membahagiakan orang tua. Meski demikian, dia tidak akan puas di situ saja. Dia ingin menorehkan prestasi serupa ketika duduk di tingkat SMA. Selain itu, sang ayah Asma’un Sahlan yang juga dosen di UIN Malang berpesan agar tidak berpuas diri dan tidak sombong atas prestasi yang diraih.

’’Saya ingin ketika SMA bisa meraih prestasi gini lagi. Jadi harus lebih giat belajar,” tuturnya. (jpnn/p2/c1/fik)

Baca Juga
Berita Lainnya

Advertise