Hari Ini!  Jum'at, 18 Mei 2012

Fenomena Sepeda Motor

E-mail   Email Berita
Cetak  Print Berita
PDF  PDF Berita
Oleh Dahlan Iskan
BEGITU banyak keluhan terhadap membanjirnya sepeda motor. Tetapi, saya mencatatnya sebagai dewa penolong. Motor, bagi saya, adalah sarana transportasi yang memberikan kesempatan bagi rakyat kecil untuk mengejar ketertinggalannya.

Sepeda motor adalah alat yang paling tepat untuk membawa golongan bawah memiliki kesempatan masuk menjadi golongan menengah.

Memang ada sarana lain yang juga memiliki peran yang sama: internet. Dengan internet (Facebook, Youtube, e-mail, dst.) tidak ada lagi  perbedaan antara golongan bawah dan golongan atas. Dengan internet, kesempatan itu sama bagi golongan bawah yang kreatif bisa menembus barikade dan blokade sistem bisnis yang lama.    Demikian juga dengan sepeda motor. Produktivitas golongan bawah langsung bisa mengalami kenaikan yang drastis. Ini karena golongan  pemilik sepeda motor bisa memiliki mobilitas yang sama tingginya dengan  golongan atas.    

Di masa lalu, golongan atas memiliki alat transportasi mobil. Sedangkan golongan bawah hanya memiliki kereta dorong, becak-gundul, gerobak sapi, dan paling cepat adalah dokar. Kini, dengan sepeda motor, kecepatan  bergerak golongan bawah sama cepatnya dengan golongan atas –bahkan dalam keadaan lalu lintas macet, naik sepeda motor lebih cepat sampai tujuan.    

Apalagi sepeda motor zaman sekarang. Bisa mencapai kecepatan 100 km/jam. Maka sebuah jarak menjadi tidak ada artinya lagi. Kalau di masa  lalu sepeda motor hanya untuk kendaraan dalam kota, kini orang sudah biasa  bersepeda motor antarkota. Banyak sekali karyawan yang rumahnya 50 km dari tempatnya bekerja memilih ke kantor dengan sepeda motor.    

Dulu golongan ini terjerat dalam siklus pemborosan yang luar biasa. Untuk ke kantor, mereka naik kendaraan umum yang bahkan harus dua kali  ganti. Atau hanya sekali naik kendaraan umum, tetapi harus menyambungnya dengan becak. Biaya untuk angkutan umum itu bisa mencapai 80% dari gaji mereka. Untuk  apa bekerja kalau 80% gaji habis untuk kendaraan? Pilihan bagi mereka tidak sebanyak itu. Tidak bekerja berarti tak punya penghasilan sama sekali. Dengan  tetap bekerja, setidaknya eksistensi dan kehormatan sebagai manusia tetap terjaga.    

    Kini, dengan kemudahan sistem keuangan, persentase biaya  transportasi itu bisa membaik. Dengan sistem kredit sepeda motor yang kian  ringan, tidak perlu lagi ada uang di depan yang terlalu besar. Memang semasa cicilan belum lunas persentase pengeluarannya tetap tinggi, tetapi turun drastis setelah masa cicilan sepeda motornya selesai.    

Di samping untuk berangkat/pulang kerja, sepeda motor itu masih bisa untuk mengantar anak sekolah, mencari objekan, bersilaturahmi, dan  mengangkut barang sekadarnya. Semuanya memiliki dampak pada produktivitas manusia.    

Maka di samping internet, jangan disepelekan dampak ekonomi  sepeda motor. Bahkan, saya bisa menyebutkannya sebagai revolusi ekonomi sepeda motor. Sepeda motor adalah sarana yang bisa membuat golongan bawah bermigrasi ke golongan menengah dengan cara lebih cepat dari teori ekonomi yang mana pun.

Karena itu, segala macam perencanaan pembangunan sudah harus  mengakomodasikan kehadiran sepeda motor secara massal. Pembangunan jalan tol di  Bali, misalnya, secara sengaja sudah mengakomodasikan sepeda motor. Tidak bisa lagi sepeda motor diperlakukan seperti kehadiran sepeda di masa lalu. Eksistensi sepeda motor harus diakui sebagai bagian dari kebijaksanaan pembangunan. Pemilik mobil tidak boleh lagi merasa dirinya sebagai pemilik paling sah sebuah jalan raya. Sepeda motor harus diterima sebagai pengguna sah yang hak-haknya sama dengan pemilik mobil.    

    Kita bersyukur ada sepeda motor dengan sistem teknologi dan  pembiayaannya yang sangat tepat untuk golongan masyarakat kita yang belum bisa  membeli mobil. Sepeda motorlah yang membuat golongan bawah memiliki sarana transportasi secepat golongan di atasnya. (*)  

*) Artikel ini tidak ada kaitannya dengan jabatan.