Ratusan Ton Ikan Mati Mendadak

Kerugian Petani Ditaksir Rp4,2 M
731
MERUGI: Ratusan ton ikan mas milik warga di Bendungan Wayrarem, Lampura, mati mendadak kemarin. FOTO FAHROZY IRSAN TONI/RADAR LAMPUNG

radarlampung.co.id – Incha Pradika (37) termenung. Wajahnya terlihat letih. Kakinya berat melangkah keluar dari perahu. Alih-alih menghitung untung, kerugian menggunung sudah di depan mata.

Ya, sekitar 20 ton ikan mas yang tersebar di 25 keramba apung miliknya mati mendadak. Ikan-ikan itu sudah berusia 3 hingga 4 bulan. ’’Taksiran saya kerugian mencapai Rp420 juta,” katanya di Bendungan Wayrarem, Lampung Utara, siang kemarin.

Incha tak sendirian. Sekitar 500 pemilik keramba apung yang ada di Bendungan Wayrarem lainnya bernasib serupa. Setiap keramba rata-rata berisi lima ton ikan. Diperkirakan, jumlah ikan yang mati mendadak mencapai 200 ton. Selain ikan siap panen, benih ikan yang baru ditebar juga ikut mati.

Menurut Incha, kematian ratusan ton ikan itu lantaran tak menentunya kondisi cuaca beberapa hari terakhir ini.

’’Ikan mulai mabuk Sabtu (15/7) sekitar pukul 20.00 WIB. Penyebabnya faktor cuaca yang sering berubah-ubah dan tidak menentu. Hujan panas membuat ikan mabuk dan akhirnya mati,” papar Incha.

Senada dikatakan Tami (43), pengelola keramba lainnya. Menurut Minak Tami, sapaan akrabnya, per kilogram ikan dari petani dihargai Rp21 ribu hingga Rp22 ribu. Sehingga hitung-hitungan awal, kerugian akibat kematian ratusan ton ikan itu menembus angka Rp4,2 miliar.

Daripada terbuang percuma, Tami berinisiatif membagi-bagikan ikan miliknya ke warga dan tetangga di kampung. ’’Daripada busuk, ikan itu saya bagikan ke tetangga yang ada di kampung,” tuturnya sambil membungkus ikan dengan kantong plastik.

Menurut dia, peristiwa kematian ikan mendadak tahun ini merupakan yang terbesar. ’’Dari jumlah 500 keramba itu dikelola sekitar 300 pengelola. Untuk data sementara, pengelola keramba mengalami kerugian Rp4 miliar lebih,” bebernya.

Kepala Dinas Perikanan Lampura Paswani Hasyim, S.H. membenarkan peristiwa tersebut. Pihaknya telah melakukan koordinasi dengan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Lampung. ’’Kemungkinan besok (hari ini) turun untuk mengecek langsung penyebab kematian ikan tersebut,” kata dia.

Dugaan sementara, penyebab kematian ikan-ikan  itu karena apwelling atau endapan dari bawah naik ke permukaan. Hal ini menyebabkan sisa pakan ikan berubah menjadi racun. Tetapi untuk kepastiannya, lanjut dia, tim ahli yang turun ke lapangan akan melakukan uji laboratorium.

Ia menambahkan, kurun dua tahun terakhir, kematian ikan mendadak terjadi tiga kali. Tetapi, diakuinya, tahun ini jumlah kematian ikan menjadi yang terbesar.

Dia pun mengaku telah memberikan sosialisasi pencegahan kematian ikan akibat faktor alam. Para pengelola keramba juga diberi pengetahuan tentang mengelola ikan yang benar.

’’Kami memberi tahu cara mengelola ikan. Yaitu dengan cara petani dapat mengurangi penebaran bibit ikan saat musim kemarau menjelang hujan. Sebab pada musim tersebut, air dan PH air sering berubah sehingga membuat ikan mabuk dan akhirnya mati,” terangnya.

Terpisah, Sekretaris Kabupaten Lampura Samsir menyatakan, bantuan akan diberikan kepada para pemilik keramba yang terkena musibah. Anggaran bantuan itu akan diajukan di APBD perubahan. ’’Yang jelas, akan kami anggarkan untuk pembelian bibit pascamusibah tersebut,” katanya.

Petani Gagal Panen Ikan

  • Ratusan ikan terdeteksi mulai mabuk Sabtu (15/7) malam.
  • Diperkirakan 200 ton ikan mas milik petani mati mendadak.
  • Ratusan ikan itu tersebar di 500 keramba.
  • Kerugian akibat peristiwa ini ditaksir Rp4,2 miliar.
  • Petani terpaksa menjual murah atau membagikan ikan secara gratis ke warga.

(ozy/p2/c1/wdi)

Sponsored Content
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here