Resensi Buku Mirah Delima

130

“… Kau meracau! Ini bukan Hutan Hanibung zaman Sekala Baka yang dihuni setan dan jin.” Saat berkata demikian dia merasakan aura menakutkan mulai merambat sekujur tubuhnya.

“Kalau bukan manusia, siapa mereka?” Kali ini Richard Kenyangan memekik histeris.
“Harimau!”

*****

Di kisah pertama, pembaca sudah disuguhi alur cerita yang menegangkan dan penuh imajinasi. Bagaimana dua orang yang mewarisi perseteruan selama ratusan tahun, terjebak bersama di dalam Hutan Larangan. Dan di saat mereka sepakat untuk mengakhiri, ternyata ajal sudah berada di depan mata.

Para lelaki gagah yang menganggap dirinya hebat itu harus menghadapi kematian dengan perkasa. Ending yang mempersilahkan pembaca untuk mendefinisikan sebebas-bebasnya, menjadi salah satu alasan untuk membuka halaman selanjutnya. (halaman 23)

Muhammad Harya Ramdhoni, sang penulis buku kumpulan cerpen berjudul “Mirah Delima Bang Amat” yang sekarang menetap di Malaysia ini memiliki diksi yang memikat dalam setiap penuturannya. Tiga belas cerpennya berhasil menyihir pembaca merasa seolah berada di dalam cerita, entah sebagai pendengar, penonton, bahkan tokoh utama.

Judul ‘Tentang Dia’ berkisah mengenai ratu Sekala Baka terakhir, Sekeghumong, perempuan gagah sang penunggang harimau. Sepanjang sejarah, mulanya ia dikenal sebagai penyembah berhala. Melalui dialog mistik, ternyata Ratu Sekeghumong adalah pemeluk ajaran Jalan yang Lurus (Islam) walau itu dilakukannya setengah hati.

Keterpaksaan sekaligus penyerahan diri pada Allah SWT dibuktikan dengan perjuangannya mempertahankan tahta Sekala Baka dari ‘penjajahan’ lima orang pembawa risalah, di sisi lain ia juga mengijinkan putrinya menikah dengan salah seorang keturunan musuh bebuyutannya itu. Ia tewas setelah bertempur  sengit dengan Umpu Pernong, salah seorang keluarga besan. (halaman 40)

Selain memuat peristiwa penting di masa lalu yang penuh intrik dan perjuangan, penulis yang juga seorang dosen politik ini menuturkan beberapa cerita dengan nuansa yang berbeda. Satu di antaranya adalah ‘Jogging’. Adalah Wiro, pejabat terkemuka di Departemen Keuangan yang dianggap sukses lahir batin. Memiliki istri cantik yang selalu setia menemani kemana saja Wiro pergi termasuk dinas ke luar kota,  kekayaan melimpah, kekerabatan baik, anak-anak sehat dan cerdas. “Antara idealisme dan nafsu berkuasa harus seimbang supaya tak tergelincir ke lembah dosa!” katanya di depan istri, anak-anak dan para staf. Sungguh, sulit sekali mencari kelemahan Wiro sebagai abdi negara.

Sponsored Content
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here