Saksi E-KTP Tiba-Tiba Meninggal

KPK Pastikan Penanganan Tidak Terganggu
81
Ilustrasi

radarlampung.co.id – Penanganan kasus korupsi E-KTP oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali dihadapkan ujian. Jumat (11/8), lembaga antirasuah mengonfirmasi bahwa Johannes Marliem meninggal dunia.

Direktur Biomorf Lone LCC itu disebut sebagai salah satu saksi kunci dalam kasus yang turut menyeret Ketua DPR Setya Novanto (Setnov) sebagai tersangka.

Juru Bicara KPK Febri Diansyah menyampaikan, instansinya sudah menerima kabar meninggalnya Johannes. ’’Bahwa benar yang bersangkutan Johannes Marliem sudah meninggal dunia,” ungkap dia di Gedung Merah Putih KPK kemarin. Namun demikian, pihaknya belum menerima informasi secara terperinci berkaitan dengan meninggalnya Johannes.

Pria yang akrab dipanggil Febri itu menyampaikan bahwa keterbatasan informasi disebabkan Johannes meninggal di AS. Karena itu hanya otoritas di sana yang berhak menangani. Termasuk mencari tahu sebab musabab Johannes meninggal. ’’Penyebab kematian (Johannes) domain otoritas setempat (AS),” ujarnya.

Ketika ditanya soal bukti spesifik yang dipegang oleh Johannes, Febri hanya menjawab singkat. Menurut dia, KPK sangat yakin bukti yang mereka miliki untuk mengungkap kasus e-KTP sudah memadai. ”Secara spesifik kami tidak bisa sampaikan apa saja bukti yang dimiliki KPK,” terangnya.

Dia menolak menjawab saat ditanya apakah KPK memiliki rekaman percakapan pembahasan proyek e-KTP seperti yang disampaikan Johannes. ”Kami yakin bukti (milik KPK) kuat,” ulangnya menegaskan.

Berkaitan dengan kemungkinan koordinasi antara KPK dengan pihak berwenang di AS yang menangani insiden meninggalnya Johannes, KPK tidak menutup diri. ”Tentu saja dalam konteks pemberantasan korupsi kami lakukan jika dibutuhkan,” jelas Febri.

Sebelumnya pada Februari 2017, KPK memeriksa Johannes di Singapura. Kemudian pemeriksaan kembali dilakukan bulan lalu di AS. Nama Johannes juga disebut dalam dakwaan untuk mantan Dirjen Dukcapil Kemendagri Irman dan mantan Direktur Administrasi Kependudukan Sugiharto. Tidak tanggung-tanggung, pengusaha yang menyediakan teknologi automated finger print identification system dalam proyek e-KTP itu disebut menerima aliran dana korupsi e-KTP sebesar Rp 25,24 miliar dan  USD 14,88 juta (sekitar Rp 200,9 miliar).

Meninggalnya Johannes, membuat KPK semakin yakin bahwa potensi ancaman atau intimidasi terhadap saksi kasus korupsi patut jadi perhatian. ”Itu berarti perlindungan saksi adalah bagian yang sangat penting,” ungkapnya. Sebab, kasus korupsi kompleks. Potensi ancaman dan intimidasi terhadap saksi yang memberi keterangan pun diakui Febri ada.

Meski demikian, Febri memastikan, penanganan kasus e-KTP terus berlanjut. Tidak lantas terpengaruh lantaran Johannes meninggal. Dalam waktu dekat, kata Febri, sidang dengan tersangka Andi Agustinus alias Andi Narogong akan dimulai. ”Direncanakan Senin 14 Agustus (2017),” ucap dia. Dalam sidang tersebut bakal dibacakan surat dakwaan untuk Andi Narogong. KPK berharap besar melalui persidangan Andi semakin banyak fakta yang terungkap dalam kasus e-KTP.

 

Update Tweet Setelah Dikabarkan Tewas

Di media sosial, Johannes Marliem sepertinya tidak cukup aktif. Sebagai penggemar fotografi, akun Instagram Johannes sangat sepi. Hanya ada dua foto di sana. Foto anak perempuannya yang diunggah tahun lalu serta foto saat dirinya sedang berlayar.

Akun Twitter Johannes cukup aktif. Namun, ada keanehan dengan tweet-nya. Tweet terakhir Johannes tercatat dibagikan semalam. Setelah dirinya dikabarkan tewas. Tweet Johannes didominasi artikel-artikel yang dianggap menarik olehnya. Tidak lupa dia sisipkan sedikit komentar.

Namun, dia tidak pernah terlihat mengumbar kehidupan yang terlalu pribadi maupun profesionalnya. Dari unggahan-unggahannya di media sosial, terlihat bahwa Johannes punya banyak ketertarikan. Mulai dari fotografi, makanan, alam liar, teknologi, hingga ilmu pengetahuan.

Foto profil dan cover di akun Twitter-nya pun menggambarkan kegemarannya. Johannes memilih foto dirinya yang sedang menggendong orangutan berambut merah sebagai foto profilnya. Sedangkan untuk foto cover, Johannes lebih memilih menggunakan foto makanan. Satel lilit, lawar, hingga sambal kecap. Johannes juga sering sekali membagikan artikel yang berkaitan dengan kegemaran-kegemarannya itu.

Usut punya usut, Johannes menggunakan fitur auto-Tweet. Dengan fitur itu, akun Twitter Johannes akan secara rutin nge-Tweet. Di antaranya tweet-tweet auto-Tweet itu, Johannes terlihat mengunggah sebuah screenshoot percakapannya lewat pesan singkat dengan Pemimpin Redaksi Koran Tempo Budi Setyarso. ’’To keep everybody honest @BudiSetyarso,” tulis Johannes.

Dari screenshoot tersebut, terlihat bahwa Johannes agak kecewa dengan artikel yang diterbitkan Koran Tempo tentang dirinya. Dia lalu mengirimkan pesan singkat kepada Budi bahwa statement yang benar adalah keeping everybody honest. Sementara Koran Tempo menulisnya keeping everybody in honor. ”Masa itu saja bisa salah ketik? Honest=jujur,” tutur Johannes kepada Budi melalui pesan singkat.

Semalam, akun Twitter Johannes ternyata masih aktif. Blog pribadi miliknya www.johannesmarliem.com juga tidak pernah sepi dari unggahan. Blog itu dijadikannya sebagai media untuk menyampaikan pendapat tentang berbagai isu. Utamanya tetap teknologi dan lingkungan hidup. Johannes tercatat terakhir kali mengunggah artikel pada Senin (8/8) lalu.

Dia menulisb artikel pendek tentang perkembangan teknologi robot di Korea Selatan. Artikel-artikel yang ditulis Johannes terbilang pendek. Antara 3-5 paragraf saja. dia juga melengkapi artikelnya itu dengan foto.

Di kanal About Me, Johannes mendeskripsikan dirinya sebagai penggemar fotografi. Terutama foto-foto tentang Minnesota, Indonesia, dan foto-foto lainnya. Johannes menilai bahwa betapa hebatnya para fotografer yang bisa mengabadikan keindahan dari sebuah tempat untuk bisa dinikmati oleh banyak orang.

”Saya juga menyukai makanan dan memasak. Baik menggunakan sambal pedas untuk membuat makanan atau makan di luar. Saya begitu antusias dengan makanan. Baik tardisional, maupun yang agya baru,” tulisnya.

Dia juga mengungkapkan passion-nya pada hewan yang terancam punah. Terutama orangutan. Menurutnya, sebagai palayan bumi, manusia harus bersama-sama menghentikan siapa saja yang memburu dan memenjarakan hewan untuk dimakan atau dijinakkan.

Johannes Marliem lahir dan dibesarkan di Indonesia. setelah memiliki pengalaman kerja di perusahaan keluarga, Johannes memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di University of Minnesota di Amerika Serikat. Setelah lulus, dia mulai bekerja di sebuah perusahaan besar di  Minneapolis, Minnesota. Di awal era smarthphone, jiwa wirausaha Johannes muncul. Dia lalu mengembangkan sistem kupon berbasis ponsel. Ini jadi perusahaan start-up pertamanya. (jpg/c1/whk)

Sponsored Content
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here