Tok! Medi Tetap Divonis Mati

414
Medi Andika saat menjalani sidang lanjutan beberapa waktu lalu. FOTO M. TEGAR MUJAHID/RADAR LAMPUNG

radarlampung.co.id – Usaha Medi Andika untuk lolos dari hukuman mati semakin berat. Pengadilan Tinggi (PT) Tanjungkarang menolak permohonan banding terdakwa kasus mutilasi anggota DPRD Bandarlampung M. Pansor tersebut.

Dengan putusan itu, majelis hakim PT Tanjungkarang menguatkan vonis mati majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Tanjungkarang.

Panitera Muda Tindak Pidana Umum (Tipidum) PN Tanjungkarang Husnul Maully membenarkan jika putusan banding Medi telah turun. Perkara Medi ditangani majelis hakim yang diketuai Machmud Fauzi serta dua hakim anggota, Nurdjaman dan Subachran Hadi.

’’Iya benar sudah turun, putusannya sama. Yakni menguatkan putusan pengadilan negeri yang memvonis pidana mati,” ujar Husnul saat ditemui di ruangan kerjanya kemarin.

Ia mengatakan, putusan PT tersebut telah dikirim ke PN Tanjungkarang jelang cuti bersama Lebaran lalu. Hingga kemarin, lanjutnya, baik jaksa penuntut umum (JPU) ataupun pihak kuasa hukum Medi belum bersikap apakah menerima putusan atau mengajukan upaya hukum lain. ’’Sampai sekarang dari kedua belah pihak belum ada yang menyatakan kasasi,” katanya.

JPU Agus Priambodo yang memegang perkara Medi membenarkan putusan PT telah keluar. ’’Iya, pemberitahuan dan salinannya sudah kami terima. Putusannya menguatkan putusan pengadilan negeri yang memvonis pidana mati,” ujar dia.

Agus melanjutkan, putusan itu sesuai tuntutan JPU yang menuntut Medi dengan hukuman mati. Jaksa madya Kejati Lampung ini mengungkapkan, pertimbangan hakim PT Tanjungkarang menguatkan pertimbangan hakim PN Tanjungkarang.

’’Pertimbangan-pertimbangan hakim pengadilan negeri dibenarkan oleh hakim tinggi dan dikuatkan dalam putusan,” paparnya.

Lantas, apakah Medi sudah bisa dieksekusi? Agus menyatakan belum mengetahui karena masih menunggu sikap hukum terdakwa. Eksekusi bisa dilakukan apabila perkara Medi telah berkekuatan hukum tetap.

Terpisah, kuasa hukum Medi, Sopian Sitepu, mengaku belum tahu upaya banding kliennya ditolak. Karenanya, dia menyatakan bakal mengecek sendiri ke PN Tanjungkarang.

’’Saya belum tahu karena kami belum mendapatkan pemberitahuannya. Kalau memang benar, nanti kami cek ke pengadilan negeri,” ujar Sopian.

Dilanjutkan, dirinya akan mempelajari dahulu isi putusan PT Tanjungkarang tersebut. Namun, kemungkinan besar pihaknya tetap mengambil upaya hukum lain. Yaitu mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung (MA). ’’Ya kalau memang benar seperti itu, jelas kami akan kasasi,” ucapnya.

Medi dinyatakan bersalah telah memutilasi anggota DPRD Bandarlampung M. Pansor. Dalam persidangan pada 17 April lalu, hakim anggota Yus Enidar mengungkapkan, sehari setelah membuang mayat Pansor ke Martapura, Sumatera Selatan, Medi meminta Tarmidi (saksi dalam kasus ini) untuk melakukan pengecekan mobil.

Medi juga meminta Tarmidi memberi tahu dirinya bila menemukan  peluru di dalam mobil. Namun, Tarmidi hanya menemukan lubang seukuran ujung jari telunjuk tepatnya berada di bawah bangku mobil penumpang di sebelah sopir.

Keberadaan peluru tersebut kemudian dihubungkan dengan adanya darah di mobil Innova milik korban yang digunakan terdakwa dalam mengambil jam tangan milik korban. Kejadian tersebut menunjukkan hubungan yang langsung dan kuat pada Jumat, 15 April 2016 sekitar pukul 14.00 WIB. Di mana kejadian Medi melakukan penembakan pada korban dengan menggunakan senjata model revolver di depan Lapangan Tembak, Jalan Endro Suratmin, Sukarame, Bandarlampung.

Terdakwa melakukan penembakan pada bagian pangkal paha hingga menembus ke tumit kanan. Tak sampai di situ, Medi kemudian memotong tubuh korban di rumahnya di Permata Biru dan memasukkan potongan tubuh ke dalam dua kardus yang kemudian dibuang di dua jembatan yang berbeda di Martapura.

Salah satu dari potongan tubuh tersebut sebelumnya sempat dibakar menggunakan bensin yang telah dipersiapkan oleh terdakwa dengan membeli dua botol minum yang salah satunya diisikan bahan bakar. ’’Kematian korban termasuk dalam niat yang dikehendaki terdakwa,” jelas Yus. (red/c1/wdi)

Sponsored Content
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here