Ulus Pirmawan, Lulusan SD yang Terpilih sebagai Petani Teladan Asia-Pasifik

Kualitas Buncis Kenya Lembang Kalahkan Produk Negara Asalnya
115
GENIUS: Ulus Pirmawan bersama komoditas unggul buncis Kenya di kediamannya di Lembang, Sabtu (3/11). FOTO JPG

radarlampung.co.id – Revolusi pertanian ala Ulus Pirmawan diawali dengan menyeimbangkan kebutuhan pasar dengan jumlah produksi untuk tiap komoditas. Tiap pekan ada saja kelompok petani dari dalam dan luar negeri yang datang untuk belajar.

Laporan Folly Akbar, BANDUNG BARAT

SENJA sudah menjelang. Tetapi, aktivitas di tempat pengepakan hasil pertanian itu justru tengah sibuk-sibuknya. Tiga orang yang bertugas harus berkejaran dengan waktu. ’’Besok pagi sudah harus siap dikirim ke kota,” kata Ulus Pirmawan di tengah-tengah kesibukan tersebut.

Jawa Pos (grup Radar Lampung) harus menunggu sekitar sejam sebelum bisa bertemu sosok yang jadi motor kelompok tani di Kampung Gandok, Desa Sunten Jaya, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, tersebut. Maklum, tamunya pada Sabtu akhir Oktober lalu (28/10) itu mengalir. ’’Sejak dapat penghargaan, banyak tamu yang ke sini,” ujarnya dengan senyum merekah.

Ulus memang bulan lalu dinobatkan sebagai petani teladan se-Asia-Pasifik oleh Food and Agriculture Organization (FAO) of The United Nations (UN) atau Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Bersama empat petani lainnya dari Afghanistan, Jepang, Nepal, dan Thailand, dia menerima penghargaan itu di Bangkok, Thailand, pada 16 Oktober lalu. ”Alhamdulillah, rasanya bangga sekali,” ungkap pria 43 tahun tersebut.

Penghargaan besar yang diterimanya merupakan buah kerja kerasnya selama puluhan tahun. Yang diawali keprihatinan pria yang hanya lulusan sekolah dasar (SD) itu terhadap kondisi petani di lingkungan sekitar.

Anak ketiga pasangan Adin dan Juju tersebut mengenang, meski memiliki potensi yang besar, kondisi petani di Lembang hingga dekade 2000-an belum menggembirakan. Penghasilan petani tidak stabil. Kadang cukup, tapi tidak jarang juga kurangnya.

Itu mendorong Ulus untuk mencari tahu penyebabnya. Berbekal pengalamannya menjadi petani, plus mengikuti sejumlah kursus dan sosialisasi, Ulus akhirnya sampai pada sebuah kesimpulan: tidak seimbangnya jumlah produksi membuat petani mengalami kerugian. ”Kalau misal kebutuhan tomat di pasar 1 ton, tapi kita panen 4 ton, otomatis harga jadi murah. Di sisi lain kita kosong,” kata dia.

Untuk keluar dari kondisi tersebut, Ulus bersama kelompok tani Wargi Panggupay di desanya pun mulai menyiapkan strategi. Caranya, mereka mulai menghitung kebutuhan pasar untuk setiap komoditas. Mulai tomat, buncis, kol, brokoli, sawo, terong, hingga cabai.

”Kalau pasar butuhnya sehari 1 ton, ya kita perkirakan berapa benih yang harus ditanam setiap waktunya. Itu kita bisa hitung,” terang pria kelahiran Bandung, 16 Februari 1974, tersebut.

Sponsored Content
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here