Warga Bakung Keluhkan Kondisi Air

78
Ilustrasi

radarlampung.co.id – Sulitnya mendapat air bersih sedang dirasakan warga Jl. Telung Buyut, Bakung, Telukbetung Barat, Bandarlampung. Air sumur yang mereka miliki tercemar resapan sampah.

Menurut Lusi (26), warga setempat, setiap datang hujan, sumur yang mereka punya tiba-tiba mengeluarkan bau tak sedap. Tak hanya itu, air yang biasanya jernih pun jadi keruh. ’’Sudah empat tahun seperti ini. Kalau hujan airnya kotor, udah kaya comberan,” jelas Lusi ditemui di rumahnya.

Sudah pasti, kata dia, air yang tercemar tidak dapat lagi digunakan untuk menunjang aktivitas sehari-hari. Untuk itu, dia dan keluarganya harus membeli air untuk keperluan minum, memasak, hingga mencuci.

Masih menurut Lusi, kondisi air yang ada saat ini ada jika digunakan untuk mencuci justru meninggalkan bekas. Akibatnya dia harus rela berjalan jauh mencari sungai demi mendapatkan air untuk mencuci dibandingkan menggunakan air sumurnya.

Sementara warga lainnya, Erni (33), mengaku sudah menggunakan sumber air dari PDAM. Karena itulah, dirinya tak kekurangan air bersih saat musim hujan berlangsung. Sayang, debit air terlalu kecil.

’’Nggak masalah sama air sih. Cuma PDAM airnya sedikit,” ujar dia.

Menghadapi pergantian musim ini, keduanya berharap ada bantuan air bersih di lingkungan tempat tinggalnya.

Sementara Akademisi Teknik Lingkungan Universitas Malahayati Muhtadi mengatakan, di wilayah Bakung sempat dilakukan kajian tentang kondisi air setempat. Hal itu dilakukan oleh Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (Hakli) Bandarlampung. Hasilnya, kondisi air memang sudah tercemar.

’’Salah satu solusinya, harus membuat sumur bor dengan kedalaman yang lebih dalam. Lebih dari 100 meter dari permukaan. Kalau air tanah dangkal sudah tercemar,” ujar Muhtadi.

Hal lain yang dapat dilakukan oleh warga ialah beralih ke air dari PDAM. Jika tidak, ditakutkan banyak penyakit menyerang. Mulai dari gatal-gatal kulit, sakit perut, hingga diare.

Fenomena ini terjadi karena kondisi air mengandung berbagai zat kimia hingga bakteri dan tidak memenuhi standar air bersih dan air minum. Sementara, Bakung dalam tata ruang memang ditetapkan sebagai daerah tempat pembuangan akhir (TPA) sampah.

Akibatnya, sambung dia, untuk radius minimal 500 meter air sumur tidak dapat digunakan. ’’Terlebih saat musim hujan, air turun kemudian meresap ke tanah dan ada juga yang ke permukaan. Yang di tanah ini yang menyebar airnya ke sumur-sumur warga,” jelas dia. (rma/c1/sur)

Sponsored Content
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here