WPS Wajib Periksa Diri setiap Bulan

63
PERIKSA DIRI: Para wanita pekerja seks datang untuk mengecek kondisinya di Balai Pertemuan Kelurahan Waylunik, Panjang, Bandarlampung, kemarin (22/10). FOTO M. TEGAR MUJAHID/RADAR LAMPUNG

radarlampung.co.id – Balai pertemuan Kelurahan Waylunik, Panjang, Bandarlampung, terlihat ramai kemarin (22/10). Rata-rata mereka yang datang didominasi kaum wanita. Ya, mereka adalah wanita pekerja seks (WPS) yang sengaja datang untuk mengecek kondisinya.

Kegiatan ini rutin diikuti 90 WPS di sana. Kepedulian dengan kondisi kesehatan membuat mereka tak ragu melangkahkan kaki menuju balai pertemuan tersebut.

RI (21), salah satu dari mereka, mengatakan, setiap bulannya dia mewajibkan diri untuk mengecek kesehatan di layanan jemput bola yang difasilitasi petugas Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Sukaraja, Panjang, ini.

’’Kalau cek darah tiga bulan sekali. Selebihnya tiap bulan saya cek biasa saja,” ucap wanita berambut panjang ini.

Sejak dibuka pukul 10.00 WIB, lima petugas Puskesmas Sukaraja sibuk melayani para WPS yang datang. Tercatat 81 WPS mengecek kesehatan rutin mereka, sementara 41 orang mengikuti cek darah.

Selaku kepala Kelompok Kerja di Kelurahan Waylunik, Panjang, Kamarudin mengatakan, pemeriksaan ini diwajibkan kepada seluruh WPS. ’’Kalau nggak mau ada hukumannya, bentuknya denda. Kalau mereka kebanyakan mau, cuma yang punya rumah lumayan susah,” ujar pria yang akrab disapa Kama ini.

Dia mengatakan, seluruh WPS sangat aktif memeriksa kondisi mereka. Terbukti, tiap bulannya dari 90 orang yang tercatat kesemuanya rutin melakukan pemeriksaan.

’’Kami juga tidak ada toleransi dengan narkoba, kalau ada yang ketahuan baik orang luar atau orang di sini langsung kami laporkan ke Polisi,” sebut dia.

Eva Daniel dari Puskesmas Sukaraja membenarkan bahwa kegiatan memang rutin mereka lakukan. Pihaknya juga menyelipkan pengetahuan tentang IMS (inveksi menular seks).

’’Awalnya ada penolakan pemakaian kondom, alasannya mulai tidak nyaman, ribet, tamu yang tidak mau. Tapi dengan edukasi soal keuntungan bisa mencegah penularan HIV mereka banyak berubah dan menyadari pentingnya hal ini,” uja Eva.

Hasilnya, tidak ditemukan pengidap HIV baru, kematian nol dan tidak ditemukan stigma. Memang tujuan pemeriksaan ini untuk mengurangi penyebaran HIV dan IMS.

’’Dari segi individu, pemahaman soal penyakit ini sudah cukup baik. Permasalahannya, mobilitas yang tinggi. Kalau mereka yang datang tidak berubah angka itu pasti bisa ditekan. Apalagi IMS, bisa disembuhkan dengan obat,” sambung dia.

Memang, beberapa kondisi membuat IMS menjadi jalur masuknya HIV yang jika tidak diketahui bisa masuk AIDS. Tapi tak bisa semua dipastikan. Selama ini juga, yang menyebabkan kematian bukan AIDS tapi penyakit yang menyertainya. (rma/c1/sur)

Sponsored Content
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here