Hari Ini!  Kamis, 9 September 2010
Home Berita Foto Sekolah Pijat di Thailand yang Kian Diminati Turis Asing

Sekolah Pijat di Thailand yang Kian Diminati Turis Asing


Share |
E-mail Cetak PDF
Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
Di Thailand, ada sekolah khusus pijat yang sangat terkenal. Namanya Wat Po Thai Massage School. Semakin banyak warga asing dari sejumlah negara yang menjadi murid di sana.

Laporan Sekaring R.A./JPNN, Thailand

Letak sekolah pijat tradisional Wat Po termasuk agak tersembunyi, di belakang kawasan wisata Wat Po yang terkenal dengan patung raksasa Buddha tidur.
    Sekolah itu terletak di ujung sebuah gang kecil, kawasan Sanamchai Road, Pranakhon, Bangkok. Meski tempatnya tersembunyi, menuju ke sana tidaklah sulit. Begitu berada di kawasan wisata Wat Po, cukup sebutkan Thai massage. Warga di sana pasti menunjukkan.
    Tetapi, jangan bayangkan gedung sekolah pijat Wat Po itu megah. Yang terlihat malah sebaliknya. Bahkan cenderung kumuh seperti bangunan lain di sekitarnya. Gedung sekolah itu hanya memiliki empat lantai dengan kondisi cat tembok yang sudah terkelupas.
    Lantai dasar adalah bagian informasi. Lantai 2 dan 3 adalah ruang kelas dan ruang praktik. Tidak setiap ruang dipasang air conditioner (AC). Di beberapa ruang kelas, hanya ada kipas angin. Di dalamnya terdapat whiteboard dan sejumlah bangku.
    Di dalam ruang pijat, terhampar enam bed sederhana berseprai kuning. Di tempat itulah para murid mempraktikkan teori dari ruang kelas.  
    Lantai teratas adalah ruang terbuka, berupa kafetaria mini dengan pemandangan sungai dan candi Wat Po. Di situ, harga makanan sangat murah.  Rata-rata hanya 20 bath (sekitar Rp5.600).
    Banyak orang berlalu-lalang di sekolah pijat tersebut. Ada sekelompok warga asing yang sedang asyik mengobrol. Ada juga para staf sekolah yang asli warga Thailand. Mereka hilir mudik melayani calon murid. Para warga asing di sekolah pijat itu tidak sedang berwisata. Mereka adalah murid-murid di sekolah pijat Wat Po.
    ’’Hampir setiap hari memang sibuk begini karena banyak pendaftar baru,” jelas Piyawan Yamsopa, salah seorang customer service sekolah pijat Wat Po yang menemani kala berkunjung ke sana pekan lalu.
    Sekolah pijat Wat Po memang tidak hanya diminati warga asli Thailand.  Murid-murid di sana juga datang dari hampir seluruh penjuru dunia dan dari berbagai kalangan. Mulai para pemijat profesional hingga turis asing yang sekadar iseng ingin mempelajari seni pijat Thailand.
    Tidak heran, hampir setiap hari bisa ditemui aktivitas sejumlah turis asing yang sedang belajar pijat di sekolah tersebut.
    Tak sulit menjadi murid sekolah pijat Wat Po. Selain tidak harus memiliki keahlian memijat, persyaratannya pun mudah. Hanya dengan membawa fotokopi passport, tiga foto diri ukuran 4 x 6, serta uang pendaftaran sesuai jenis course yang diikuti. Siapa saja yang tertarik bisa langsung mendaftar.
    Yang membuat sekolah pijat tersebut banyak diminati adalah masa pendidikan yang tidak lama. Khusus warga asing hanya lima hari, sedangkan warga lokal harus enam hari. Tidak heran, banyak turis asing yang kebetulan berlibur  menyempatkan diri belajar pijat di sekolah itu.
    ’’Turis yang ke sini biasanya mereka yang liburannya panjang dan sudah pernah mendengar sekolah ini,” jelas Piyawan yang akrab disapa OA itu  dengan bahasa Inggris yang terbata-bata.
    Soal biaya memang tidak murah. Setiap jenis course, harganya bervariasi. Paling murah 6.500 baht (Rp1.829.450) hingga yang termahal 12.000 baht (Rp3.358.243). Course paling lama ditempuh dalam waktu maksimal sepuluh hari.  
Agar pengajaran berlangsung maksimal, murid asli Thailand dan murid asing dipisah. Dari segi materi, jenis hampir seragam. Yang membedakan hanya bahasa pengantar di dalam kelas.
    ’’Untuk kelas orang Thailand, digunakan bahasa Thai. Untuk kelas murid asing, bahasanya Inggris. Tetapi, ada saatnya dua kelas dijadikan satu jika sedang praktik,” ujar gadis 26 tahun itu.
Kebetulan, kunjungan ke sana bertepatan hari wisuda tujuh murid asing. Mereka baru saja merampungkan program general Thai massage. Ini adalah salah satu jenis course yang cukup diminati warga asing karena mengajarkan seni pijat tingkat paling dasar.
    Tujuh siswa asing tersebut dengan bangga menunjukkan sertifikat kelulusannya. Mereka saling berfoto dengan senyum mengembang. Menurut OA, itu pemandangan biasa. Setiap Jumat, hampir selalu ditemui pemandangan seperti itu. ’’Setiap minggu selalu ada kelulusan siswa asing,” kata gadis kelahiran 3 Juli 1983 itu.
    Para murid asing tersebut berasal dari berbagai negara. Antara lain, Amerika Serikat, Portugal, Jerman, dan Swiss. Awalnya, mereka tidak saling kenal. Namun, berkat jadwal program yang intens, masing-masing sangat akrab.  
    Menurut mereka, mengikuti program general massage cukup menyenangkan sekaligus menguras energi. Salah seorang murid bernama Richard Baimbridge mengungkapkan, program tersebut memberikan banyak praktik daripada teori.
    Teori hanya diajarkan pada hari pertama. Selanjutnya, jam pelajaran dihabiskan untuk praktik pijat di bawah pengawasan langsung pengajar. Kelas dimulai dari pukul 09.00 hingga 16.00. Saat praktik, kata pria 40 tahun itu, adalah saat yang menyenangkan.
    ’’Kita juga belajar bersama teman-teman dari kelas lain, baik murid asli Thailand maupun murid asing seperti saya,”  ungkapnya dalam bahasa Inggris.
    Bagi Richard yang juga seorang guru yoga itu tidak sulit mempelajari seni pijat Thailand. Pria yang kini tinggal di Shanghai, Tiongkok, itu memang sengaja datang ke Wat Po untuk belajar Thai massage.
    ’’Saya membaca Wat Po,  kemudian saya tertarik. Thai massage memiliki banyak persamaan dengan yoga. Mungkin gerakannya sedikit ekstrem, namun menyenangkan,” papar Richard.
    Namun, pria yang fasih berbahasa Mandarin itu mengungkapkan, dirinya memiliki pengalaman yang kurang menyenangkan saat menjalani ujian akhir. Kala itu, dia berpartner dengan seorang murid wanita asli Thailand.  
    Pasangannya tersebut sangat tidak ramah. Dia terus memasang muka masam. Itu membuat Richard nervous.  Kemudian, teman di sebelah Richard yang asli Jerman namun bisa berbahasa Thai mengungkapkan pasangannya tersebut pernah berpacaran dengan farang (sebutan orang Thailand untuk warga asing). Tetapi, farang tersebut kemudian meninggalkannya.  ”So. It’s all about broken heart,” imbuhnya, lantas terbahak-bahak.
    Jika Richard memang berniat belajar Thai massage, Herman Gruenwald lain. Pria asli Jerman yang berpofesi sebagai dekan Fakultas ekonomi, Mahidol University, Thailand, itu berguru di sekolah pijat Wat Po karena ingin mempelajari seluk-beluk bisnis massage.
    Dia menuturkan, banyak mahasiswanya yang ingin membuka sebuah bisnis spa dan massage. ’’Kalau saya tidak belajar seni pijatnya juga, mana bisa saya mengajar mereka dan memberi tahu seputar bisnis spa serta massage,” kata Herman yang akrab disapa Doctor itu.
    Karena pemula, Herman menyatakan belum begitu menguasai seni pijat tersebut. Namun, dia sudah bisa menyembuhkan diri sendiri. ’’Kalau untuk memijat diri sendiri, saya bisa. Apalagi cuma menyembuhkan sakit kepala atau sakit pinggang. Tetapi, jempol saya bengkak gara-gara terlalu bersemangat memijat dalam lima hari ini,” candanya. (ade)

Add comment


Security code
Refresh

User's Online

   112 Tamu online

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_counterHari Ini827
mod_vvisit_counterKemarin1745
mod_vvisit_counterMinggu Ini8478
mod_vvisit_counterBulan Ini17530
mod_vvisit_counterJumlah595259

IP: 38.107.191.109
,

Gabung di Facebook!