Hari Ini!  Kamis, 9 September 2010
Home Berita Foto Saling Curhat dan Minta Maaf di Rapat Terakhir Pansus Century

Saling Curhat dan Minta Maaf di Rapat Terakhir Pansus Century


Share |
E-mail Cetak PDF
Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
Senin malam lalu (1/3), Pansus Century merampungkan pekerjaannya. Sesudah rapat, sejumlah anggota pansus sebenarnya saling minta maaf. Kemesraan terjalin malam itu. Tetapi, keesokan harinya (kemarin siang) dalam sidang paripurna, terjadi kericuhan. Kemesraan itu seakan tidak berarti.

Laporan Priyo Handoko, JAKARTA

MALAM itu (1/3) di ruang rapat pansus, jarum jam hampir menunjuk ke pukul 24.00. Beberapa anggota pansus terlihat lelah. Ruhut Sitompul dari Partai Demokrat sampai tertidur sejenak di kursinya. Beberapa anggota lain dengan lahap memakan buah apel dan pir yang menjadi jatah di kotak konsumsinya. Sedikitnya 15 kamera dari berbagai stasiun televisi terus menyorot jalannya rapat.
Senin malam itu, pansus akhirnya berhasil menyelesaikan seluruh rangkaian tugas, meskipun gagal melahirkan satu kesimpulan dan rekomendasi final. Perbedaan pandangan yang terlalu tajam hanya dapat dikerucutkan menjadi dua opsi dan akan di-voting di sidang paripurna keesokan harinya.
    Saat itu, tampaknya, tidak ada satu pun anggota pansus yang menyangka sidang paripurna yang dimulai kemarin pagi bakal berujung kekisruhan. Sebab, malam itu para anggota pansus sudah saling menyampaikan permintaan maaf. Bahkan, dalam forum yang diselenggarakan secara spontan setelah rapat resmi ditutup, tidak sedikit di antara mereka yang curhat tentang keluarga dan konstituennya.
Kebersamaan dan kehangatan sangat terasa di antara para anggota pansus.  Semangat untuk saling memaafkan atas berbagai kata-kata yang kurang sopan, bahkan kasar, muncul secara spontan. Seolah-olah semua sudah selesai.
’’Maaf kepada kita semua kalau ada hal-hal yang tidak berkenan atau terjadi kesalahan,” kata Wakil Ketua Pansus dari FPDIP Gayus Lumbuun, lantas disambut tepuk tangan anggota pansus.
’’Pada prinsipnya, apa yang kita lakukan selama tiga bulan ini merupakan proses yang panjang untuk saling memahami karakter dan sifat masing-masing," tambah Wakil Ketua Pansus dari Fraksi Partai Demokrat Yahya Sacawirya, lalu tersenyum.
Wakil Ketua Pansus dari FPKS Mahfudz Siddiq dengan nada bercanda mengatakan, selama menjadi anggota pansus, dia banyak menghadapi hal yang tidak disukainya. ’’Berangkat pagi pulang pagi, dikomplain orang di rumah, badan letih, dan pikiran capek. Belum lagi, anggapan orang bahwa kita setiap rapat dapat uang," katanya.
Padahal, lanjut dia, sesuai peraturan setjen, sampai ketika keputusan pansus diketok, para anggota pansus hanya mendapat insentif Rp5 juta. ’’Terus terang saja biaya operasional kita lebih dari itu," ujar Mahfudz. Dia juga mengingatkan berbagai pertengkaran di antara anggota pansus yang di-blow up media sebagai bagian dari proses yang tidak mengenakkan. ’’Termasuk merasa ada yang menekan dan ditekan," candanya.
Meski begitu, Mahfudz mencoba untuk menikmati semua proses yang harus dijalaninya itu. ’’Saya ingat nasihat yang baik. Bisa jadi kamu tidak menyukai sesuatu, tetapi di balik itu ada kebaikan yang banyak,” ujarnya.
Ruhut Sitompul yang pernah memaki Gayus Lumbuun ’’bangsat” juga mencoba melontarkan kata-kata bijaknya. ’’Tiada jalan bertabur bunga untuk mencapai kesuksesan. Kerikil-kerikil tajam sudah kita lalui, berkat rahmat-Nya, keluarga besar pansus bisa bekerja dengan baik,” ujar legislator dari Partai Demokrat itu.
  Eva Kusuma Sundari dari FPDIP berharap model pembahasan kebijakan publik di pansus yang terbuka bisa menjadi tradisi di DPR. Menurut Eva, banyak dampak positifnya. Terutama bagi DPR untuk introspeksi internal. ’’Ternyata yang ini ngomongnya jorok, yang ini ngantuk. Jadi, proses ini pendewasaan bagi semua," katanya.
Eva juga curhat. Dia sering merasa kesepian menjadi satu-satunya perempuan di pansus. Karena itu, Eva berharap ada komitmen dari fraksi-fraksi lain nanti untuk menempatkan perempuan di posisi penting. ’’Saya serius, jangan diketawain, ini dari hati yang paling dalam. Saya sudah menunjukkan bisa maksimal, perempuan tak patut distigma tidak serius dan manja," ujarnya.
Dia juga sependapat dengan Mahfudz. Menurut Eva, memang ada mitos-mitos tentang pansus. Terutama soal honor atau insentif tambahan yang besar.
    ’’Saya merasakan sendiri. Setiap hari dipikir kita ini menerima honor tambahan. Angkanya ratusan juta.  Proposal yang saya terima dari dapil (daerah pemilihan) meningkat. Padahal, itu keliru sekali. Honor kita tidak ada korelasinya dengan seringnya kita muncul di televisi," kata Eva. Selama pansus melakukan pemeriksaan, setiap hari, sejumlah stasiun TV swasta memang terus menayangkannya secara live.
Ahmad Muzani dari Fraksi Partai Gerindra menceritakan, ketika mendapat tugas mewakili partai di Pansus Century, dirinya belum punya bayangan bagaimana bentuk pansus. Maklum saja, bukan hanya Partai Gerindra, Muzani juga baru menjalani debutnya sebagai wakil rakyat di Senayan.
’’Ketika ternyata menjadi peristiwa seperti ini (mendapat sorotan luas dari publik, Red), itu pembelajaran yang sangat penting. Mudah-mudahan semua berakhir indah dan husnulkhatimah," kata Muzani.
      Ketika tiba giliran Akbar Faizal dari Fraksi Partai Hanura, Andi Rahmat berceletuk. ’’Kayaknya lo yang harus paling banyak minta maaf,” canda Andi Rahmat, legislator muda dari FPKS, lantas tertawa.
Akbar menceritakan, kesibukannya di pansus telah menempatkan dirinya dalam posisi terdakwa di depan anak-anaknya. Sebab, porsi perhatiannya kepada buah hatinya itu berkurang. ’’Tetapi, itu risiko dari pengabdian," kata Akbar.
      Dia lantas menyampaikan, selama persidangan memang kerap berbeda pandangan, kadang sangat keras, terutama dengan para anggota Fraksi Partai Demokrat. ’’Tetapi, ketika keluar, setelah melewati pintu itu, kita bersalam-salaman, makan bersama, bersenda gurau," katanya.
Ketua Pansus Idrus Marham mengatakan, pansus memang tidak sekadar berhasil menyelesaikan tugas. Tetapi, tanpa disadari, Pansus Century sudah mengawali pembaruan dalam upaya peningkatan kinerja DPR. ’’Mulai pimpinan pansus yang di-fit and proper test (sebelum dipilih) hingga rapat, semua terbuka," ujarnya.
  Sebelum menutup rapat, Idrus mengguyoni Ruhut Sitompul dan Gayus Lumbuun. ’’Nanti diakhiri lagu Kemesraan, duet Pak Ruhut dan Pak Gayus," katanya, lantas terkekeh. Semua anggota pansus juga ikut tertawa lepas, tak terkecuali Ruhut dan Gayus yang terlihat saling lirik.
Kehangatan malam itu diakhiri dengan seluruh anggota pansus bersalaman dan berpelukan. Tetapi, Agun Gunandjar dari Fraksi Partai Golkar tetap duduk di tempatnya. Dengan mikrofon yang menyala, dia lantas menyanyikan lagu Semut Merah milik Obie Mesakh yang syairnya diubah.
     ’’Resah dan gelisah, tunggu akhir Century, di sudut Senayan, tempat meriksa saksi, ada yang jawab lupa, ada yang tidak tahu, pemirsa tersipu-sipu," senandung Agun.
’’Malu aku malu, pansus ribut melulu, Pak Idrus pegang palu, Pak Gayus tersipu malu, Pak Yahya penuh curiga, Pak Mahfudz bertanya-tanya, wartawan terus menyerbu," lanjutnya. ’’Mantap," sahut anggota pansus dengan kompak. (*)   

Add comment


Security code
Refresh

User's Online

   93 Tamu online

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_counterHari Ini810
mod_vvisit_counterKemarin1745
mod_vvisit_counterMinggu Ini8461
mod_vvisit_counterBulan Ini17513
mod_vvisit_counterJumlah595242

IP: 38.107.191.107
,

Gabung di Facebook!