Hari Ini!  Rabu, 8 September 2010
Home Berita Foto Dua Legislator yang Jadi Bintang di Paripurna DPR karena Beda Sikap

Dua Legislator yang Jadi Bintang di Paripurna DPR karena Beda Sikap


Share |
E-mail Cetak PDF
Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
Ketika dilakukan voting untuk menyikapi skandal Bank Century di sidang paripurna DPR pada Rabu malam lalu (3/3), ada dua sosok bintang. Mereka adalah Lily Chadijah Wahid (PKB) dan Ahmad Kurdi Mukri (PPP). Dua legislator itu berani sendirian menentang sikap partainya.

Laporan Dian Wahyudi, JAKARTA

WAJAH Lily dan Kurdi mendadak sering muncul di televisi sesudah sidang paripurna DPR pada Rabu malam lalu. Lily maupun Kurdi sama-sama ditanya seputar sikap mereka yang berbeda daripada partainya.
Dalam voting Rabu malam lalu itu, Lily satu-satunya anggota FPKB yang memilih opsi C. Opsi ini secara garis besar menyebutkan bahwa ada unsur melanggar hukum dalam bailout Rp6,7 triliun ke Bank Century. Opsi tersebut didukung oleh fraksi-fraksi dari Partai Golkar, PDIP, PKS, Gerindra, Hanura, dan PPP yang belakangan bergabung.
      Opsi A secara garis besar menyebutkan bahwa tidak ada unsur melanggar hukum dalam bailout tersebut. Opsi ini didukung fraksi-fraksi dari Partai Demokrat, PKB, dan PAN.
Karena menjadi satu-satunya anggota PKB yang berani berbeda sikap, adik kandung Gus Dur itu pun menjadi pusat perhatian wartawan dan para legislator yang memilih opsi C.
Dukungan untuk Lily terus berdatangan hingga kemarin. Ini terlihat, antara lain,  ketika kemarin siang (4/3) dia duduk di salah satu sudut coffee shop di kompleks parlemen, Senayan. Saat itu, tak henti-hentinya Lily didatangi orang-orang yang memberikan dukungan moral. Di antara mereka, ada yang sesama legislator, ada juga beberapa staf anggota DPR. ’’Selamat Bunda (sapaan akrab Lily Wahid, Red), tetap semangat ya,” ujar salah seorang pengunjung coffee shop, sambil menyalami wanita 62 tahun itu.
Menanggapi ucapan selamat yang terus berdatangan itu, Lily merasa semakin mantap atas pilihan sikapnya: menentang arus karena berbeda dengan sikap partai dan fraksinya. Dia merasa lega karena tidak lagi memiliki beban moral seperti rekan-rekannya yang lain.
’’Asal Anda tahu, sebenarnya hampir semua (anggota FPKB) ingin seperti saya, memilih opsi C,” beber Lily kepada Jawa Pos (grup Radar Lampung). Namun, tambah dia, mereka belum memiliki keberanian untuk memilih sikap berbeda daripada garis keputusan partai dan fraksi.
’’Pilihan saya yang beda dengan fraksi kalau dipahami dengan hati yang lapang justru sebenarnya telah sedikit menyelamatkan muka PKB di hadapan konstituen,” papar anggota Tim 9, inisiator Hak Angket Bank Century, tersebut.
PKB yang sejak awal berdiri sudah identik sikap kritis dengan membela yang benar, kata dia, semakin tidak kelihatan dalam beberapa waktu terakhir. Terutama karena sikap partai yang cenderung mengekor sikap Partai Demokrat. ’’Sebagai partai, sulit kami menemukan harga diri dan kebanggaan lagi,” kritiknya.      
Lily mengatakan, hingga kini, dia terus menerima ucapan selamat atas sikapnya tersebut. Sebagian ucapan selamat dan dukungan itu disampaikan langsung, ada juga yang dikirim melalui SMS. ’’Inbox di HP saya sampai penuh hingga harus ada yang saya hapus,” katanya. ’’SMS itu dikirim dari masyarakat yang sama sekali tidak saya kenal, akademisi, hingga para kiai. Ini bukti sikap PKB selama ini beda dengan aspirasi konstituen,” ungkap putri bungsu Wahid Hasyim, menteri agama pertama RI, itu.
Dukungan juga datang dari kakak-kakaknya. Mulai Gus Im (Hasyim Wahid), Gus Sholah (Salahuddin Wahid), dan dr. Umar Wahid. ’’Dorongan kakak-kakak saya itulah yang juga menjadi sumber semangat dan keberanian saya,” tambahnya.  
Voting dalam sidang paripurna Rabu malam itu dilaksanakan dua tahap. Tahap pertama menentukan apakah opsi yang menggabungkan A dan C (A+C) bisa diterima atau tidak. Berdasar hasil lobi, empat partai minta agar ada tambahan opsi dalam voting. Yakni opsi gabungan A+C. Empat fraksi yang mendukung opsi gabungan itu adalah Partai Demokrat, PAN, PKB, dan PPP. Lima fraksi lain menolak. Maka, dilakukanlah voting tahap pertama. Hasilnya, opsi gabungan itu tidak bisa diterima. Saat voting tahap pertama itu, Lily Wahid adalah satu-satunya anggota Fraksi PKB yang menolak opsi gabungan. Karena itu, ketika semua temannya sesama fraksi berdiri untuk menyatakan setuju terhadap opsi gabungan tersebut, Lily tetap duduk. Sontak, sikapnya itu disambut sorak-sorai kubu penentang opsi gabungan. Lantas, ketika dilakukan voting tahap kedua untuk memilih opsi A atau C, Lily kembali menunjukkan sikap berbeda. Dia satu-satunya anggota FPKB yang memilih opsi C.
Bukan hanya Lily yang berani berbeda pendapat daripada sikap fraksinya. Di Fraksi PPP, ada Kurdi Mukri. Ketika dilakukan voting tahap pertama, dia satu-satunya anggota FPPP yang menolak opsi gabungan (A+C). Padahal, saat itu, FPPP menjadi juru bicara yang mengusulkan adanya opsi A+C. Ketika Kurdi berdiri sendirian sambil melambaikan tangan, dia pun disambut sorak-sorai kubu penolak opsi A+C.
    Namun, Kurdi berbeda dengan Lily yang tetap sendirian berbeda pendapat dengan fraksinya pada voting tahap pertama dan kedua. Sebaliknya, Kurdi tidak sendirian pada voting tahap kedua karena tiba-tiba FPPP berbeda pendapat dengan fraksi-fraksi yang semula dia dukung pada voting tahap pertama. Pada tahap kedua itu, seluruh anggota FPPP memilih opsi C.
Kurdi pun dianggap sebagai motor penggerak FPPP memilih opsi C. Padahal, jika mengacu voting tahap pertama, FPPP diperkirakan memilih opsi A pada voting tahap kedua bersama Demokrat, PAN, dan PKB.
’’Saya sempat deg-degan ketika berbeda pendapat dengan fraksi saya," kata pria kelahiran 4 Juni 1941 itu.
    Dia mengatakan bahwa sikapnya yang berbeda pada voting tahap pertama tanpa koordinasi dengan pimpinan fraksi maupun partai. ’’Tetapi, sejak awal sudah saya katakan ke rapat internal fraksi bahwa saya opsi C,” ujar anggota dewan yang sudah memasuki periode kedua di Senayan tersebut.
Kurdi yang juga salah seorang anggota Tim 9 menuturkan, saat rapat internal fraksi sehari sebelum voting, terjadi perdebatan yang sangat tajam. Fraksi saat itu tetap cenderung akan memilih opsi A. ’’Tetapi, saya saat itu tetap C. Kalau mundur, apa kata orang,” ujarnya.
      Sikap Kurdi yang bertekad tetap memilih opsi C itu dilandasi banyaknya SMS yang dia terima dari para pendukungnya. Isi SMS itu minta PPP memilih opsi C. ’’Semua mendorong PPP tidak boleh abu-abu, harus tegas," beber anggota dewan asal dapil Jawa Barat I tersebut.
Karena itu, dia sebenarnya sempat malas mengikuti proses voting. ’’Saya sudah mau pulang, tidak ikut voting," ujar mantan aktivis GP Ansor Jawa Barat tersebut. Tetapi, dia mengurungkan niat setelah salah seorang rekan meyakinkan bahwa keputusan partai sudah sama seperti dirinya.
Ternyata, hingga voting pertama dilakukan, PPP tetap berada di gerbong Partai Demokrat. ’’Ya sudah, saya bismillah saja dan syukur akhirnya sama," ujar politikus yang sudah aktif di PPP sejak 1973 itu.
      Perjalanan Kurdi sebagai wakil rakyat dimulai pada 1982. Saat itu, dia terpilih sebagai anggota DPRD Kota Bandung. Berturut-turut, hingga 2004, dia terus terpilih sebagai wakil rakyat. ’’Bicara loyalitas, insya Allah tidak perlu diragukan. Tetapi, kalaupun diberi sanksi atas pilihan sikap kemarin, saya tentu siap-siap saja," katanya. (*)   

Add comment


Security code
Refresh

User's Online

   84 Tamu online

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_counterHari Ini1482
mod_vvisit_counterKemarin2025
mod_vvisit_counterMinggu Ini7388
mod_vvisit_counterBulan Ini16440
mod_vvisit_counterJumlah594169

IP: 38.107.191.109
,

Gabung di Facebook!