Hari Ini!  Rabu, 8 September 2010
Home Berita Utama Polda Pantau Eks Militan Talangsari

Polda Pantau Eks Militan Talangsari


Share |
E-mail Cetak PDF
Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
BANDARLAMPUNG – Kepolisian Daerah (Polda) Lampung bergerak cepat. Setelah mendapat informasi kelompok bersenjata yang diduga teroris di Aceh dimotori militan asal Lampung, korps baju cokelat ini kemarin langsung melakukan langkah antisipasi.
    Selain menempatkan 30 anggota gabungan Densus 88, brimob, intel, dan reskrim di Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan, juga melakukan pemantauan kepada keluarga aktivis Talangsari, Wayjepara, Lampung Timur.
Menurut Direktur Reserse Kriminal Polda Lampung Kombespol Darmawan Sutawijaya, 30 anggota yang ditempatkan di Pelabuhan Bakauheni ditugasi khusus memantau pergerakan terorisme yang berkemungkinan melintasi Bakauheni. ’’Jika memang ada yang mencurigakan, mereka akan langsung melakukan sweeping,” terang Darmawan di Mapolda Lampung kemarin.
Mantan Kapolres Kutai Kertanegara ini juga menegaskan, tim di Bakauheni bertugas selama 24 jam. Tugas mereka juga di-backup jajaran KP3 Bakauheni. ’’Paling tidak langkah ini mempersempit ruang gerak teroris yang diburu di Nanggroe Aceh Darussalam agar tidak bisa melarikan diri ke Jawa melewati Bakauheni,” lanjutnya.
Direktur Intelkam Polda Lampung Kombespol Suroso Hadi Siswoyo menambahkan, pihaknya belum bisa memastikan apakah MT motor sekelompok bersenjata yang diduga teroris di Aceh diungkap Mabes Polri seperti diberitakan koran ini kemarin adalah MT warga Lampung.
    ’’Mengenai inisial MT, saya belum bisa memastikan apakah dia memang berasal dari Lampung. Memang, saya akui ada MT di catatan kami. Tapi, kami tidak serta-merta bisa memastikan bahwa MT yang dimaksud adalah yang tertera di catatan kami. Karena nama MT juga tidak hanya satu,” urai Suroso.
    Lebih lanjut diungkapkan, menindaklanjuti informasi dari Mabes Polri tersebut pihaknya juga langsung melakukan pemantauan aktivitas keluarga para mantan aktivis pergerakan Negara Islam Indonesia (NII) di Wayjepara, Lampung Timur.
    Lulusan Akpol 1985 ini membeberkan, dari hasil pantauan intelijennya, kini keluarga-keluarga eks pergerakan Talangsari, Wayjepara, sudah berbaur dengan masyarakat sekitar. Ada yang sudah bekerja dengan membuka usaha pertokoan, seperti fotokopi, percetakan, mebeler, dan minuman. ’’Mereka terus kami pantau. Data-datanya juga ada di catatan intelijen kami,” tegas Suroso.
    Kendati demikian, lanjut perwira menengah itu, pihaknya akan secepatnya berkoordinasi dengan Mabes Polri untuk memastikan informasi tersebut. Dia juga menegaskan, pihaknya akan menggelar rapat khusus jika memang MT yang dimaksud berasal dari Lampung.
’’Yang pasti, jika memang MT berasal dari Lampung dan terdapat di catatan yang kami miliki, keluarganya akan terus dipantau. Jika mereka terbukti menyembunyikan anggota keluarga mereka yang terlibat terorisme, keluarga teroris itu bisa dikenai proses hukum dan sudah menjadi tugas Densus 88 untuk menangkap mereka,” tuturnya.
Mantan Direktur Intelkam Polda Bengkulu itu menambahkan, pihaknya juga mengimbau kepada seluruh lapisan masyarakat lebih waspada terhadap orang-orang baru di lingkungannya masing-masing. ’’Kesigapan aparat desa mulai dari kepala desa, lurah, bahkan sampai tingkatan ketua RT juga harus ditingkatkan untuk memantau orang-orang baru di wilayahnya masing-masing. Langkah ini bisa mempersempit ruang gerak terorisme agar tidak sampai bermukim di wilayah tempat tinggal kita. Mari kita jaga ketertiban dan keamanan wilayah masing-masing bersama Polri,” imbaunya.

Penyuplai Senjata Tertangkap
    Terpisah, polisi terus mengembangkan penyidikan terkait kelompok teroris di Aceh. Dua orang penyuplai senjata yang digunakan kelompok itu sudah tertangkap. Dua orang yang lain masih dalam pengejaran.
    Kapolri Jenderal Pol. Bambang Hendarso Danuri membenarkan penangkapan penyuplai senjata itu. ’’Benar, tertangkap dua orang," kata Kapolri yang akrab disapa BHD itu sambil menambahkan, dua orang itu disergap di Jakarta dan Jawa Barat.
    Kapolri menjelaskan, total sejak dimulai operasi pada 22 Februari 2010, sudah 21 orang yang ditangkap terkait kelompok teror Aceh ini. Dua orang tersangka mati tertembak. Korban di pihak kepolisian ada tiga orang anggota yang juga tertembak dan meninggal di tempat.
    Kini operasi di Acehbesar masih sepenuhnya dikendalikan oleh polisi. Kapolri menegaskan, pihaknya belum akan meminta bantuan dari TNI. ’’Ini operasi penindakan dan penegakan hukum, jadi wewenang tugas kami," katanya.
    Kini pasukan tambahan sebanyak satu SSK (satuan setingkat kompi, berjumlah sekitar 100 anggota) sudah disiapkan untuk berangkat ke Acehbesar. Mereka akan menggantikan energi teman-temannya yang terkuras karena melakukan operasi siang dan malam. ’’Jumlah amunisi dan perlengkapan anggota sudah mencukupi," kata Kapolri.
    Secara terpisah, sumber Jawa Pos (grup Radar Lampung) menuturkan bahwa kini Densus 88 Mabes Polri sedang berburu otak pengiriman anggota jaringan dan logistik di Pandeglang, Jawa Barat. ’’Dua orang yang tertangkap menyuplai senjata inisalnya H dan R. Kita tangkap di Banten dan yang satu di Cakung," kata sumber itu kemarin.
    Kini otak pengiriman di Jawa berinisial Y itu sedang dikejar di Pandeglang. ’’Dia mengurusi pengiriman orang dan logistik, dua yang kita tangkap sebelumnya hanya anak buahnya," katanya.
    Sebagian besar personel kelompok itu, terutama yang berasal dari Jawa, memang terlebih dahulu dikumpulkan di dua titik pemberangkatan sebelum ke Aceh. Yakni Subang dan Pandeglang. Mereka dikirim terpisah dengan dua jalur. Sebagian melalui jalur Subang–Jakarta–Medan–Tapak Tuan–Nagan Raya–Geumpang–Acehbesar. Sebagian yang lain memutar melalui Banten–Lampung–Palembang–Medan–Aceh. ’’Semuanya menggunakan jalur transportasi darat berupa bus umum dan berangkat secara terpisah," katanya.
    Anggota kelompok datang ke Aceh tanpa logistik dan senjata. ’’Mereka baru diberi bekal di Tapak Tuan, Aceh Selatan, termasuk uang dalam jumlah banyak kisarannya Rp2 juta–Rp4 juta empat juta per orang," katanya.
    Dari mana asal senjata yang dikirim? Menurut pengakuan sementara, senjata itu sisa konflik 2006 di Poso yang masih diamankan anggota jaringan di Jawa Barat. - Apakah mereka memperoleh pasokan baru dari kamp-kamp di luar negeri misalnya dari Filipina ini masih kita selidiki,”katanya.
    Sementara itu, pengamat terorisme Rakyan Adibrata menilai kekuatan kelompok sebesar itu tak bisa mengandalkan polisi saja. ’’Kenapa tidak dibangun sinergi yang baik dengan TNI, mereka terlatih juga untuk operasi medan dan hutan," katanya. Bisa saja TNI terlibat, tapi kendali tetap di polisi.
    Kekuatan brimob yang mengandalkan teknik perang kota kewalahan menghadapi kelompok teroris yang dilatih oleh instruktur ahli perang gerilya jebolan Afghanistan. ’’Karakter perang medan hutan dan medan kota jelas sangat berbeda. Kalau dilihat di televisi, gerakan penyergapan brimob yang mengendap secara beregu dalam satu garis lurus itu khas perang kota dan sangat gampang dideteksi atau dipatahkan para gerilyawan," kata peneliti lembaga Research Center for Terrorism and Security itu.
    Usulan pengamat itu direspons anggota DPR. Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi Partai Golkar Fayakhun Andriadi mengingatkan pihak Mabes Polri agar tak bertindak sendiri dalam pemberantasan terorisme. ’’Minta bantuanlah ke TNI karena mereka lebih berpengalaman melakukan aksi-aksi militer dalam medan apa pun, termasuk medan hutan sebagaimana di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD),” katanya.
     Ia mengatakan itu untuk menanggapi pernyataan pihak Polri yang mengungkapkan bahwa gugurnya tiga polisi dalam operasi pemberantasan teroris di hutan NAD karena pihaknya belum berpengalaman menghadapi medan tempur hutan. ’’Di banyak negara lain pun, pasukan antiteroris yang andal itu kan ada di kesatuan militernya. Makanya, perlu ada kerja sama atau permintaan bantuan dari TNI," ungkapnya.
     Gugurnya lima anggota Polri (dua Densus dan tiga brimob) di NAD dengan alasan kurangnya pengalaman menghadapi medan tempur hutan sangatlah disesalkan. ’’Karena itu, sekali lagi kami dari Komisi I DPR RI mendesak Polri segeralah minta bantuan pihak TNI yang punya berjuta pengalaman menghadapi medan apa pun di Indonesia,”katanya. (wira/jpnn/spt)

Add comment


Security code
Refresh

:: Rakyat Lampung | Trans Lampung | Radar Lamteng | Radar Kotabumi ::
:: Radar Lamsel | Radar Lambar | Radar Tuba | Radar Tanggamus | Radar Metro ::

User's Online

   91 Tamu online

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_counterHari Ini1486
mod_vvisit_counterKemarin2025
mod_vvisit_counterMinggu Ini7392
mod_vvisit_counterBulan Ini16444
mod_vvisit_counterJumlah594173

IP: 38.107.191.106
,

Gabung di Facebook!