Suka-Duka Warga Asing Mengabdi di Lampung (Bagian 1)Tidak banyak orang bisa berbahasa Prancis di Lampung. Balai Bahasa Unila khusus mendatangkan warga negara Prancis sebagai pengajar native speaker, Yolande Tran. Bagaimana suka-duka Yolande mengajar dan tinggal di negeri yang asing baginya ini?
Laporan Trufi Murdiani, BANDARLAMPUNG
Editor: Ary Mistanto
KELAS berukuran 2,5 x 4 meter itu agak lengang, hanya enam orang yang ada di dalamnya. Yakni seorang pengajar kelas conversation atau percakapan kursus bahasa Prancis Balai Bahasa Universitas Lampung (Unila) dan lima peserta didiknya yang semua mahasiswa kampus setempat.
Kelima peserta belajar tampak serius menyimak setiap ucapan dari pengajar wanita berkulit putih bersih dan berambut hitam kecokelatan yang sesekali memonyongkan bibirnya saat melafalkan kata-kata yang penuh suara sengau itu. Kelas pada sore hari tersebut dimulai dengan pelajaran greetings atau salam.
’’Salut, cava,” ujar si pengajar, yang merupakan salam pembuka setiap percakapan. Spontan dijawab para mahasiswanya. ’’Cava bien, merci. Et toi (Kabar baik, terima kasih. Dan, Anda apa kabar juga)?’’ jawab mereka. ’’Oui. Moi aussi, cava bien. Merci beauboup (Ya, saya juga baik, terima kasih banyak),’’ balas sang pengajar.
Dan, jelas sekali suara sengau yang khas bahasa Prancis memang harus diucapkan dengan banyak menarik bibir serta rahang. Melatih pengucapan yang benar dalam bahasa Prancis, mungkin itu salah satu misi utama pihak Unila mendatangkan khusus pengajar native speaker langsung dari Prancis setiap tahunnya. Mulai November 2009 lalu, wanita muda Prancis itu yang resmi mengajar kelas conversation.
Sekilas, ia tampak seperti layaknya orang Asia. Namun bila diperhatikan dengan jelas, tidak sepenuhnya bertampang Asia. Dia memang gadis campuran antara Prancis dengan Vietnam yang berkewarganegaraan Prancis.
Yolande Tran namanya. Kendati belum genap satu semester mengajar di kelas conversation tersebut, ia tampak sudah sangat akrab dengan para mahasiswanya. Bahkan, ia dipanggil oleh semua mahasiswanya dengan sapaan Teteh yang berarti kakak perempuan dalam bahasa Sunda.
Gadis blasteran Eropa-Asia Tenggara berusia 25 tahun itu memang pernah tinggal di Jogjakarta selama sebulan, sebelum akhirnya menetap di Lampung untuk menjalankan tugas utamanya sebagai volunteer (sukarelawan) dari sebuah non-government organization (NGO) atau LSM di Paris yang bekerja sama dengan Unila.
’’Saya sebenarnya seorang volunteer dari sebuah NGO di Prancis, yaitu Missions Étrangères de Paris (MEP) yang bergerak di bidang kemasyarakatan. MEP merupakan lembaga yang telah lama bekerja sama dengan Unila. Itulah sebabnya selalu ada sukarelawan MEP yang bertugas di Unila,’’ katanya dalam bahasa Inggris yang juga fasih.
Sebagai sukarelawan MEP yang bekerja dan ditempatkan di Indonesia khususnya Lampung secara kontrak kerja, ia tak hanya mengajar bahasa Prancis di Balai Bahasa Unila.
’’Tugas utama saya memang mengajar bahasa Prancis. Namun selain itu, saya juga membantu sebagai koordinator dalam perekrutan calon mahasiswa penerima beasiswa dari Prancis pada program pascasarjana fakultas pertanian, yaitu magister agroekoteknologi konsentrasi manajemen sumber daya alam dan pembangunan perdesaan (MSAPP),’’ terangnya.
Mengenai tugasnya mengajar bahasa Prancis, dikatakannya baru tiga bulan. ’’Saya mulai mengajar pada akhir Oktober 2009 dan saat ini sebenarnya sedang masa libur setelah ujian kenaikan tingkatan, namun ada beberapa siswa yang belajar. Sedangkan setiap kelas normalnya berisi 15 siswa,’’ ujarnya.
Dengan 4 tingkatan kelas, yakni debutant (level) 1 sampai 4, diakuinya, jumlah siswa yang memperdalam bahasa Prancis di Unila saat ini belum signifikan. Selain kurang memasyarakat, menurutnya, mungkin karena sulit pelafalannya. Sebab, banyak menggunakan suara sengau. ’’Namun, para siswa saya umumnya mempunyai progres yang bagus. Mereka sangat tertarik mempelajari bahasa ini. Karena saya akui di Asia termasuk Indonesia, bahasa Prancis dianggap salah satu bahasa dunia yang terdengar seksi. It’s a romantic language and Paris is a romantic place,’’ ujarnya.
Itu diakui salah satu siswa Yolande, Dinda Budiana. Mahasiswa semester 6 Fakultas Teknik Unila itu mengaku mempelajari bahasa Prancis karena terdengar sangat romantis. ’’Saya ingin menambah pengetahuan tentang bahasa asing dan agar bisa memahami film Prancis yang romantis,’’ katanya.
Gusti Anggaraini, siswa kursus bahasa Prancis lainnya, mengaku ingin mendapatkan beasiswa S-2 ke Prancis. Menurut mahasiswi semester 8 Fakultas Pertanian Unila itu, untuk jurusan pertanian, banyak program beasiswa ke Prancis. ’’Karena itu, saya belajar bahasa Prancis karena ingin mendapatkan beasiswa Erasmus Mundus sekaligus untuk menambah teman bule dari Prancis,’’ ungkapnya.
Mengenai Yolande, keduanya mengatakan ia gadis yang rendah hati dan ramah. ’’Di luar kelas, Teteh Yolande menerima kami bila bertanya apa pun, bahasa maupun budaya Prancis,” kata Gusti.
Yolande memang mengakui tak hanya mengajarkan bahasa, melainkan juga budaya barat khususnya Prancis. Itu sebabnya, bersama Balai Bahasa Unila, sering digelar acara yang memperkenalkan budaya Prancis. Salah satunya L’ete Francais yang berarti musim panas di Prancis.
’’Pada musim summer, sekitar Juli atau Agustus, biasanya warga Prancis mengadakan pesta dansa dan di sini kami juga mengadakannya di Rumah Prancis dengan kegiatan dansa, memasak, serta makan bersama menu Prancis dan games,” kata alumnus program Master of English Studies Erasmus Exchange itu.
Ia menjelaskan, Rumah Prancis adalah sebuah tempat tinggal yang disediakan pihak Unila bagi setiap pengajar warga Prancis di Balai Bahasa. Namun bukan hanya tempat tinggal, Rumah Prancis yang berada di Kompleks Dosen Unila No. 10 itu juga untuk berbagai kegiatan budaya Prancis.
Selain fasilitas rumah tinggal itu, ternyata Yolande tak banyak menerima fasilitas mewah dari Unila. Kendati warga asing, ia tetap disamakan dengan dosen Unila lainnya dalam hal gaji dan tunjangan. Hanya, ia mengaku senang tinggal dan mengajar di kampus Unila. ’’Saya mengajar ini sebagai sukarelawan dan bukan mencari materi. Asal mahasiswa saya bisa mengerti bahasa dan memahami budaya Prancis, saya sudah bahagia,’’ ujarnya rendah hati.
Padahal, pengalaman karir dan latar belakang pendidikannya di Eropa maupun Asia tak bisa dianggap remeh. Lulusan Master Degree of International French-Chinese Management, IAE Nantes, France, yang pernah belajar di University of Technology in Beijing (April-Mei 2006) dan di Shanghai (Juni-Juli 2006) ini juga pernah bekerja di perusahaan ekspor-impor di sebuah perusahaan Prancis di Shanghai.
Ia juga menguasai 6 bahasa asing, yakni Inggris dan Jerman dengan baik, bahasa Tiongkok-Canton, Tingkok-Mandarin, dan Vietnam secara menengah plus sedikit mengerti bahasa Indonesia karena pernah belajar di Jogjakarta selama sebulan.
Dengan prestasinya yang pernah mengikuti program Erasmus Exchange, ia juga bisa dibilang cerdas. Namun, ketika tinggal di Lampung, ia tetap tidak membeda-bedakan dalam bergaul dan memilih makanan. ’’Semua makanan Indonesia saya suka seperti pempek, bakso, dan nasi uduk. Mahasiswa saya sering mambawa nasi uduk,’’ kata wanita yang hobi menyanyi itu.
Saat kali pertama menetap di Lampung ia juga kurang menyukai cuaca yang menurutnya sangat panas. ’’Tetapi, saya mudah beradaptasi,” katanya. Ia juga menyukai buah-buahan tropis, seperti jambu, durian, dan mangga. Bahkan musik dangdut pun ia suka. ’’Saya suka lagu dangdut berjudul Mabuk,’’ ujarnya.
Tetapi ada satu yang sulit untuknya beradaptasi, yakni komunikasi dengan orang-orang di sekelilingnya selain di kampus. ’’Umumnya orang di Lampung tidak bisa berbahasa Inggris, jadi saya sering kesulitan berbelanja,’’ ujarnya. (*)









