BANDARLAMPUNG – Menyangkut pemahaman tentang teknologi transfer embrio (TE), Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Lampung tak mau ketinggalan. Ya, dalam waktu dekat satuan kerja ini akan mengirimkan tiga tenaga teknisnya untuk memperdalam TE ke negara-negara
Asean. Dana untuk program itu berasal dari APBD 2010 sebesar Rp120 juta.
’’Soal keberangkatan mereka akan dibahas lebih lanjut. Ini penting. Sebab, kami khawatir niat positif ini malah ditanggapi negatif,” beber Kadisnakeswan Nurcahyo kemarin.
Nurcahyo melanjutkan, TE merupakan generasi kedua bioteknologi reproduksi setelah inseminasi buatan (IB). ’’TE merupakan suatu proses, mulai dari pemilihan sapi-sapi donor, sinkronisasi birahi, superovulasi, inseminasi, koleksi embrio, penanganan dan evakuasi embrio, serta transfer embrio ke resipien sampai pada pemeriksaan kebuntingan dan kelahiran,” urai Nurcahyo.
Menurutnya, TE memiliki banyak keuntungan. Pertama, bisa memperoleh keturunan sifat dari kedua tetuanya. Lalu, memperpendek interval generasi sehingga perbaikan mutu genetik ternak lebih cepat. Selain itu, dengan TE seekor betina unggul yang disuperovulasi kemudian diinseminasi dengan sperma pejantan unggul dapat menghasilkan sekitar 40 ekor anak sapi unggul dan seragam setiap tahun.
’’Teknologi TE juga dapat membuat jenis kelamin (jantan atau betina) anak sapi yang diinginkan,” bebernya. Selama ini, Lampung membeli satu embrio seharga Rp600 ribu. Embrio ini dibeli dari pusat TE yang berlokasi di Cipelang, Bogor.
Menanggapi rencana Disnakeswan memberangkatkan tiga tenaga teknisnya itu, Ketua Komisi II DPRD Lampung Djunaidi Auli menyatakan, pada dasarnya pihaknya setuju. Namun, dia mengusulkan lebih baik para tenaga teknis itu belajar di pusat TE di Bogor terlebih dahulu. ’’Kalau di negara lain kan tentu nggak bisa lama-lama karena biayanya juga besar. Jadi kalau bisa dilakukan di sini ya kita lakukan di sini saja. Kan bisa menghemat anggaran,” tuturnya. (*)









