oleh

Arist Merdeka Minta Pelaku Dihukum Mati

radarlampung.co.id – Kasus dugaan kejahatan seksual menimpa 14 santri di Pondok Pesantren di Lampung Selatan mendapat sorotan Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait.

Arist mendorong penegak hukum yakni kepolisian agar memutus mata rantai kejahatan terhadap anak. Dia juga sudah turun ke Lampung dan mengecek kasus tersebut benar ada.

Dikonfirmasi radarlampung.co.id, Arist menegaskan cara memutusnya diantaranya dengan menerapkan hukuman maksimal. Yakni menerapkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Arist menerangkan, hukuman mati bisa diterapkan bagi pelaku pelecehan seksual dengan Perppu tersebut.

“Perppu tersebut agar para pelaku dapat dihukum dengan hukuman mati. Karena apa yang telah ia lakukan sungguh membuat para korban trauma,” tegasnya, Minggu (14/1).

Ia menambahkan, jika pihak kepolisian tidak menjerat dengan Perppu tersebut, maka pihak kejaksaan bisa menjerat dengan perppu itu. “Jaksa bisa menjerat dengan hukuman maksimal itu,” terangnya.

Arist melanjutkan, dirinya pada Sabtu (13/1) sudah datang ke Polsek Natar melihat tiga tersangka yang ditahan. Dia juga memastikan korban mendapatkan pendampingan. Selain itu, pekan depan akan menemui pimpinan ponpes.

Kunjungan itu, terus dia, untuk mengoordinasikan kepada pemilik Ponpes agar para korban mendapatkan pelayanan terapi.

“Hal itu kita lakukan agar para korban tidak melakukan tindakan yang sama diusia-usia tertentu. Karena, dimana para korban akan mengingat bahwa ia pernah dilakukan yang sama semasa kecilnya,” jelasnya.

Ia akan menemui pemilik Ponpes pekan depan, lantaran pemilik ponpes sedang tidak berada ditempat.

“Saya dapat kabar katanya pimpinan ponpes sedang berada di Bangladesh. Oleh karena itu kita sedang menunggu, dan minggu depan kira akan mengunjungi ponpes,” ucapnya.

Diketahui, kejahatan seksual diduga dilakukan tiga orang pelaku yang saat ini telah diproses dan ditahan di Polsek Natar. Ketiga terduga pelaku tersebut yakni tenaga pendidik pesantren, petugas kebersihan, dan satu jemaah pondok tersebut. Adapun dari hasil pemeriksaan sementara korban terduga pelaku kekerasan seksual mencapai 14 orang siswa. Polsek Natar masih memproses kasus ini. (adm/gus)

Komentar

Rekomendasi