oleh

Apa Kabar? DPO Kelas Wahid Sudah Bertahun-tahun Buron!

radarlampung.co.id – Rentetan lima terpidana yang masuk Daftar Pencarian Orang (DPO), Kejaksaan Negeri (Kajari) Bandarlampung, terkait kasus korupsi dengan kerugian Negara yang besar. Namun, sudah bertahun-tahun diburu, sampai saat ini belum ada titik terang.

Diketahui, lima DPO Kasus Korupsi Kejaksaan Negeri (Kejari) itu yakni, Satono, Sugiarto Wiharjo alas Alay, Hazairin, Ahmad Marzuki dan Lieones Wangsa. Sedangkan Andhy Irawan Irham yang sebelumnya juga sempat DPO kini sudah dieksekusi.

Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Bandarlampung, Hentoro Dwi Cahyono menjelaskan, Satono yang merupakan mantan Bupati Lampung Timur dinyatakan terbukti membobol kas APBD Lampung Timur sebesar Rp119 miliar untuk kepentingan pribadinya.

Ia dijatuhi Pasal 3 Jo Pasal 18 Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP Jo Pasal 64 ayat (1) KUHP dan kasus tersebut telah ingkrah pada tanggal 19 Maret 2012 dengan hukuman penjara selama 15 tahun. Artinya, Satono sudah menghilang selama enam tahun sejak 2012.

Sedangkan Sugiarto Wiharjo alas Alay yang merupakan pemilik Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Tripanca terjerat kasus penipuan uang nasabah bernilai triliun lebih. Salah satunya, uang nasabah milik Pemerintah Kabupaten Lampung Timur. Ia dikenakan Pasal sama dengan Satono dan telah ingkrah pada tanggal 21 Mei 2014 dengan hukuman penjara selama 18 tahun.

“Kemudian ada lagi terpidana Andhy Irawan Irham. Ia terjerat kasus korupsi peningkatan mutu jalan di Kemiling. Ia masuk DPO sejak tahun 2013 namun kini telah dieksekusi pada tanggal 14 September 2017,” terangnya kepada radarlampung.co.id, Senin (15/1).

Ia menambahkan, tiga terpidana yang DPO lainnya, Hazairin, Ahmad Marzuki dan Liones Wangsa. Hazairin terjerat kasus Tindak Pidana Korupsi Kegiatan Pelatihan Tepat Guna bidang air bersih dan kesehatan masyarakat di desa miskin di Dinas Kesehatan Pemprov Lampung tahun 2009 dengan merugikan negara sebesar Rp208 juta.

Sedangkan, Ahmad Marzuki terjerat kasus PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PT PPI) dengan penjualan produk Unilever dan telah merugikan negara sebesar Rp1,9 miliar.

“Yang terakhir ini Lieones Wangsa. Ia resmi menjadi tersangka kasus korupsi proyek pembangunan pabrik es Lempasing, Telukbetung, Bandarlampung dengan kerugian negara sebesar Rp327 juta,” jelasnya.

Menurut Kajari, pihaknya terus berkoordinasi dengan berbagai pihak termasuk Kejagung untuk segera menangkap para DPO. Kata Hentoro, para terpidana sulit ditangkap lantaran mereka sangat licin. Namun, pihaknya tak pernah putus asa untuk mencari DPO dengan terus berkordinasi dengan masyarakat, kepolisian dan KPK.

“Semua DPO sudah kita lakukan gelar perkara. Mereka tidak bisa kemana-mana karena sudah kita cekal. Bahkan kita sudah mendatangi kampung halamannya dan menemui RT nya,” terangnya.

Hentoro menyakinkan, enam terpidana DPO tersebut masih berada di Indonesia. Sebab pihaknya telah mencekal perjalanan untuk melarikan diri.

“Saya yakin mereka masih di Indonesia, karena kita sudah mencekalnya dan mereka tidak bisa kemana-mana karena cepat atau lambat pasti akan tertangkap. Saya menghimbau kelada DPO untuk segera menyerahkan diri dan hadapi masa hukuman,” ujarnya. (adm/gus)

Komentar

Rekomendasi