oleh

Calon Pembeli Cukup Sodorkan Contoh Peluru

radarlampung.co.id – Polda Lampung bersama Polres Lampung Timur beserta aparat TNI masih melakukan pengembangan terhadap Yuli Kurniadi (31) tersangka pembuat senjata api rakitan yang sempat digerebek dikediamanya di Desa Tanjung Sari, Kecamatan Jabung, Lampung Timur, Senin (15/1) lalu.

Kapolda Lampung Irjen Suntana mengatakan, dari penyelidikan sementara anggotanya, tersangka bekerja sehari-hari sebagai tukang bengkel motor.”Dari pengakuannya tersangka ini sudah beberapa kali membuat senpi rakitan tetapi masih berdasarkan pesanan beberapa orang,” ujarnya, Kamis (18/1).

Dan dari keterangan tersangka, lanjut jenderal bintang dua ini, pengalaman ia membuat senpi rakitan itu dari bengkel. “Karena dia ada mesin las. Dari pemeriksaan tersangka bahwa ia mengaku apabila ada yang memesan dan juga datang untuk memperbaiki. Apabila yang ingin pesan, calon pembeli hanya cukup memberikan contoh peluru dan berdasarkan peluru itu dia belajar, mengukur kaliber, dan ukuran lobangnya,” jelas dia.

Setiap ada calon pembeli, dan calon yang ingin memperbaiki tersangka mematok harga pesanan Rp3 juta. Sedangkan untuk perbaiki sekitar dibawahnya.”Menurut keterangan pelaku ia telah membuat senpi sebanyak delapan kali dan kami masih melakukan pengembangan ia jual kemana, dan yang memperbaiki dimana,” ungkapnya.

Saat ini polisi juga telah menelusuri, kemana saja tersangka ini mendapatkan pesanan. Selain itu polisi juga masih melakukan pengembangan sebanyak mungkin.” Sehingga nantinya kita tahu kemana saja ia menjual senpi rakitan tersebut,” tuturnya.

Dan ia pun berharap pengerebekan ini merupakan titik awal kepolisian untuk mengungkap keberadaan senjata ilegal, yang lebih besar.”Juga diharapkan mudah-mudahan pengerebekan ini untuk terakhir kalinya, dan juga tidak ditemukan lagi seperti ini,” harapnya.

Untuk itu, ia juga menghimbau kepada masyarakat melalui pemerintah setempat, apabila ada masyarakat yang masih memiliki senpi, secepatnya menyerahkannya kepada Polisi maupun TNI.” Karena itu merupakan ilegal dan melanggar hukum,” pungkasnya. (ang/gus)

Komentar

Rekomendasi