oleh

Warga Tubaba Keluhkan Limbah Pemotongan Ayam

radarlampung.co.id – Sejumlah tempat pemotongan ayam di Tulangbawang Barat (Tubaba) dikeluhkan warga.

Selain menyebabkan aroma yang tidak sedap, keberadaan limbah sisa pemotongan ayam tersebut membuat banyaknya lalat, sehingga sangat mengganggu masyarakat sekitar.

Kondisi ini terjadi secara terus-menerus, membuat warga sekitar merasa terganggu. Namun telah ditegur beberapa kali namun tetap saja tidak diindahkan.

Predi (47) dan Heroni (45) warga Gerobokan, Panaragan Jaya, Kecamatan Tuba Tengah, Tubaba mengaku resah dengan keberadaan pemotongan ayam milik warga setempat tersebut. Sebab, pihaknya telah menegur beberapa kali, namun pembuangan bulu dan sisa daging ayam yang dipastikan membusuk meski dalam jumlah tidak terlalu banyak.

“Ya namanya daging busuk, mau gimana juga tetap bau. Apalagi tempat pembuangan air yang tidak lancar, sehingga selama 24 jam
mengeluarkan bau busuk,” terang Predi Kamis (18/1).

Hal yang sama juga terjadi di tempat pemotongan ayam di Tiyuh Pulung Kencana, KecamatanTuba Tengah, Kabupaten Tubaba.

Para penjual ayam potong hendaknya menyaring air cucian daging ayam, sehingga sisa daging yang terbawa air dapat langsung dibuang di tempat pembuangan sampah atau dimasukkan ke dalam kantong plastik.

“Jadi tidak di buang di siring yang tidak lancar ini. Tapi kita ini tetanggaan, kalau saya sudah lebih dari 10 kali menegur, tapi ya paling lama dua hari. Setelah itu kembali lagi,” jelas Gunawan (55) warga Pulungkencana, kemarin.

Pihaknya berharap agar Dinas Lingkungan Hidup Tubaba dapat tegas dalam menindak setiap pengusaha yang mempunyai usaha pemotongan ayam. Sebab, yang menjadi korban adalah masyarakat sekitar akibat dari banyaknya lalat dan bau yang tidak sedap.

Menurut Saleh (48) warga Panaragan Jaya, sebenarnya Dinas Lingkungan Hidup sangat
mudah mendata tempat-tempat pemotongan ayam, karena dengan cara masuk ke setiap pasar maka akan diketahui siapa saja penjual ayam di daerah tersebut.

“Data orangnya, cek rumahnya. Di mana dia motong ayam, kalau tidak taat dengan aturan maka berikan sanksi, supaya warga tidak jadi korban,” tuturnya.

Yang membuat mereka resah lantaran bau tak sedap tersebut tercium oleh tamu atau keluarga yang datang ke rumahnya. Sementara para pengusaha ayamterkesan semaunya dalam menjalankan usaha tanpa memperhatikan lingkungan sekitar.

“Caranya minta nomor telepon warga sekitar, bagaimana kondisi pemotongan ayam setelahdisidak, kalau tetap membandel ya tutup sementara,” tambah Hairudin (43) warga lainnya. (fei/gus)

Komentar

Rekomendasi