oleh

Menelusuri ‘Kampung Texas’ Telukbetung yang Legendaris

Sejumlah tempat di Kota Bandarlampung ternyata menyimpan cerita tersendiri. Salah satunya ‘Kampung Texas’ Telukbetung yang dulu legendaris. Seperti apa potretnya saat ini?

Laporan: Damiri/radarlampung.co.id

SIMPANG Gudang Garam, begitu warga menyebut arah lokasi sebutan ‘Kampung Texas’ tepatnya di Jalan Ikan Kakap, Kelurahan Pesawahan, Telukbetung Selatan, Bandarlampung.

Begitu memasuki lokasi permukiman ini, mata kita akan melihat deretan rumah beragam ukuran yang saling berhimpitan. Di sini juga dikenal sebagai lahan bekas stasiun lama.

Berdasarkan penelusuran mata pencaharian warga di kampung ini, ternyata, ada sebagian yang berprofesi sebagai pengemis. Jumlahnya mencapai puluhan orang. Mereka berpencar setiap hari di berbagai titik strategis di Bandarlampung untuk mencari nafkah dengan mengemis.

Ketua RT 026 Mahmud, RT di wilayah setempat mengatakan, dirinya mempunyai warga sebanyak 91 Kartu Keluarga (KK) dari 314 jiwa. Mayoritas warga yang ia pimpin bekerja sebagai buruh pasar, nelayan, pemulung hingga pengemis.

“Kalau yang menjadi pengemis kebanyakan dari kalangan janda-janda tua sampai anak-anak. Biasanya anak-anak yang mengemis memang disuruh oleh orang tuanya. Sebab, orang tuanya sendiri memang bekerja sebagai buruh dan juga pemulung. Mungkin karena untuk membantu perekonomian orang tuanya,” jelasnya, Rabu (31/1).

Ia menjelaskan, pekerja pengemis diantaranya lima orang janda dan 25 orang anak-anak. Pekerjaan itu katanya, dilakoni oleh mereka sejak dirinya belum menjadi ketua RT di lingkungan Kelurahan Pesawahan tersebut.

“Sebelum saya jadi RT mereka sudah mengemis, bahkan dulu lebih parah, lebih banyak lagi,” ujarnya.

Lebih lanjut, Mahmud menjelaskan sebelumnya daerah tersebut terkenal banyak orang dengan nama daerah ‘Texas’. Menurutnya, sebutan Texas di jaman dulu ditakuti oleh banyak orang.

Bahkan lanjutnya, terkenal kampung pengemis karena ada banyak pekerjaan yang dilakoni warga sekitar seperti pemulung, pengemis, buruh hingga sampai menjadi preman.

“Tapi itu dulu, sekarang memang masih disebut ‘Kampung Texas’ tapi nggak separah dulu. Sebenarnya nggak semuanya, karena kadang ada orang luar dan dibawa kesini jadi orang mengira dari kampung sini. Makanya terkenal disebut Kampung Texas,” terangnya.

Sementara itu, RT 027 Kisbandiah, juga di wilayah setempat mengatakan, dirinya mempunyai 66 Kartu Keluarga (KK) dengan jumlah sebanyak 300 jiwa. Mayoritas warganya bekerja sebagai buruh, kuli bangunan, pemulung, becak hingga pengemis.

“Yang pengemis ada 30 orang diantaranya 10 dari kalangan anak-anak yang telah putus sekolah dan sisanya dari kalangan ibu-ibu tua,” katanya.

Ia menambahkan, latar belakang warganya yang berprofesi sebagai pengemis banyak ditekuni saat musiman. Sebelum ia menjadi RT warganya yang berprofesi sebagai pengemis sudah ada.

“Dulu bahkan lebih parah. Pengajian gak ada, kumpul-kumpul gak ada. Sekarang mah sudah ada kemajuan lah. Sudah mengarah lebih baik lagi. Kalau untuk pengemis yang rutin itu warga saya ada 30 orang. Tapi kalau musiman seperti bulan puasa hingga lebaran bisa sampai 150 orang lebih yang jadi pengemis. Dan itu dikalangan semua orang baik dewasa maupun anak-anaknya,” jelasnya.

Ditemui terpisah, Ade (45) warga sekitar membenarkan bahwa dulunya kampung tersebut dijuluki sebagai Kampung Texas. Menurutnya kampung tersebut dulunya dikenal lantaran di kampung dulu ada segala hal.

“Itu dulu, ada dari judi, mabok, pemulung, ribut hingga pengemis. Tapi sudah nggak parah saat ini. Kata-kata Texas terkenal jeleknya, ya malingnya, judinya perempuannya maboknya banyak disini. Itu dulu. Sekarang sudah gak ada karena pada ditangkapin dan sudah ada kemajuan,” ujarnya.

Sedikit bercerita, lanjutnya, dirinya pernah melamar kerja sebagai buruh bangunan. Namun, karena Kartu Tanda Pengenal (KTP)-nya wilayah Texas dirinya tidak diterima bekerja.

“Saya pernah ngelamar kerja bangunan karena KTP saya disini (Texas) jadi saya gak diterima. Akhirnya saya pergi ke Jakarta dan saya nyulap KTP dengan membayar uang sebesar Rp100 ribu. Wah dulu mah mas kampung ambaradul disini sampe ngelamar kerja aja gak mau nerima. Tapi sudah gak lagi lah jeleknya, bahkan sudah banyak yang sukses. tapi kalau sebutan Texas masih disini,” tutupnya.

Sementara, salah satu pengemis, MU (65) menyatakan memang banyak di permukiman tersebut. Terkait alasan memilih profesi pengemis karena memang sudah lama.

“Ya pernah sih ada pembinaan dari Dinas Sosial, tapi ya gimana ya nama kita punya anak,” terang wanita tersebut. (adm/gus)

Komentar

Rekomendasi