oleh

Pilkada Antara Nilai Atau Kepentingan

TAHUN 2018 adalah tahun berdemokrasi secara serentak di berbagai daerah untuk pemilihan kepala daerah.

Geliat gerakan para elit politik begitu terasa bahkan hingga pada tataran masyarakat bawah, begitupun dengan para relawan calon, terlihat mulai bermanuver memobilisasi massa. Memperkenalkan calonnya kepada masyarakat, spanduk-spanduk serta baliho-baliho besar terpasang, melihatkan wajah berseri dengan harapan memikat hati masyarakat Lampung.

Kemeriahan Pilkada Lampung sudah mulai dirasa, walaupun tahapan-tahapan yang ada masih cukup panjang. Pilkada seharusnya tidak menjadi ajang seremonial, yang hanya berfokus pada tahapan-tahapan atau pencitraan saja. Seharusnya pilkada menjadi ajang substansial yang targetnya terukur dengan nilai-nilai integritas, pilkada cerdas dan bermoral tinggi.

Sudut pandang pilkada berintegritas, cerdas dan bermoral tinggi seharusnya mampu terinternalisasi oleh siapapun itu. Mulai dari penyelenggara pilkada, elit politik, calon dan masyarakat pada umumnya. Pilkada berintegritas, cerdas dan bermoral adalah harapan seluruh masyarakat. Pilkada ini ialah sebuah konsep memilih pemimpin yang berfokus kepada kesejahteraan masyarakat (Social Walfare) bukan fokus pada kekuasaan an sich.

Jika seluruh pemangku kepentingan dalam proses pilkada fokus pada kesejahteraan rakyat, alhasil seluruh proses dan tahapan akan menjadikan masyarakat sebagai subjek demokrasi. Bukan sekedar objek politik uang dan tindakan ilegal lainnya.

Masyarakat dan mahasiswa dalam momentum pilkada harus memiliki peran yang signifikan. Hanya menjadi target kampanye para politisi adalah pilihan kurang tepat. Masyarakat dan mahasiswa harus berperan dalam menanamkan nilai-nilai demokrasi yang diharapkan. Menanamkan nilai-nilai kejujuran dan keberanian untuk menolak money politics dan tindakan-tindakan tidak bermoral lainnya.

Masyarakat dan mahasiswa harus melakukan gerakan pengawalan positif dan berkontribusi dalam menjaga regulasi serta sebagai kontrol sosial penyelenggaraan pilkada di tahun 2018.

Pengawalan pemilihan kepala daerah bukan hanya tugas Bawaslu atau penyelenggaraan pilkada. Tetapi pengawalan pilkada adalah tugas kita bersama. Jangan sampai kita semua menyesal di akhir, acuh tak acuh dalam proses pilkada, hanya menikmati logistik kampanye dan berharap banyak dengan janji-janji kampanye. Itu merupakan langkah mundur terhadap pemaknaan masyarakat yang madani.

Kini, harus kita tanamkan dalam jiwa kita bahwa proses pilkada adalah proses yang sangat substansial dan mahal harganya. Jika dibandingkan beras, gula dan amplop recehan.

Mengutip kata-kata John F. Kennedy;

“Jangan bertanya apa yang dapat dilakukan negaramu untuk kamu, tanyakan apa yang dapat kamu lakukan bagi negaramu”

Mari memilih untuk bertindak lebih, bertindak lebih sebagai masyarakat berintegritas. Mampu berbicara kebenaran pada orang lain dan berbicara kebenaran pada diri sendiri. Bertindak lebih menjadi masyarakat cerdas, yang mampu membedakan mana tindakan bernilai dan tidak bernilai. Bertindak lebih menjaga moral bangsa, menjadi musuh abadi money politics, black campaign dan tindakan-tindakan ilegal lainnya.

Momentum pilkada Provinsi Lampung adalah momen penting yang harus menjadi sorotan seluruh elemen yang ada di masyarakat. Jangan sampai momentum pilkada hanya menjadi sorotan elit-elit kepentingan yang hanya memperjuangkan kepentingan golongannya atau korporasinya.

Oleh karenanya, mengawal proses pilkada adalah wujud implementasi cinta dan peduli kita kepada Provinsi Lampung. Semoga Lampung masa depan adalah Lampung yang maju pembangunannya, baik pembangunan infrastruktur maupun pembangunan manusianya. (*)

(Muhammad Fauzul Adzim,
Presiden Mahasiswa Universitas Lampung 2018, BEM KBM Unila Kabinet Sinergis dalam Gerak)

Komentar

Rekomendasi