oleh

Soal Penetapan Mustafa, Ini Kata Ahmad Jajuli

radarlampung.co.id – Penetapan sebagai tersangka suap Bupati Lampung Tengah (nonaktif) Mustafa membuat seluruh keluarga, kader hingga Calon Wakil Gubernur (Cawagub) Lampung Ahmad Jajuli prihatin.

Dihubungi radarlampung.co.id, melalui handphonenya sebanyak tiga kali, Ahmad Jajuli sama sekali tak merespon. Saat dikirim pesan singkat untuk meminta izin wawancara, sekitar lima menit Ahmad Jajuli baru membalas pesan singkat tersebut.

“Waalaikum salam, mas adam, mhn ditanyakan soal pilgub kpd jubir timses, pak mufti. Mhn maap sy tdk bs wwncara dahulu hingga persoalan lengkap,” katanya, seperti pesan yang dilontarkan kepada wartawan radarlampung.co.id melalui handphonenya, Jum’at (16/2).

Diberitakan sebelumnya, pasca ditetapkan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai tersangka, kediaman Bupati Lampung Tengah (nonaktif) Mustafa banyak didatangi kerabat.

Pantauan radarlampung.co.id, pukul 15.30 WIB, Jumat (16/2), orang yang mengunjungi kediaman Mustafa yang berada di Jalan Danau Singkarak, Kedaton, Bandarlampung tersebut dari kendaraan mobil dengan plat hitam hingga merah. Informasi yang diperoleh, mereka sebagian adalah kerabat Mustafa.

Bahkan, beberapa gang sepanjang jalan kediaman rumahnya juga terlihat ditutup menggunakan pembatas pagar jalan (cone) berwarna orange.

Dari informasi yang didapat radarlampung.co.id, di kediaman Mustafa hanya ada beberapa sanak familinya. Selain Mustafa yang ditahan KPK di Jakarta, istri Mustafa yakni Nessy Kalvia dikabarkan saat ini masih berada di Jakarta.

Sebelumnya, KPK resmi menetapkan Bupati Lampung Tengah, Mustafa sebagai tersangka kasus dugaan suap persetujuan DPRD terkait pinjaman daerah untuk APBD Lampung Tengah T.A. 2018.

Hal itu sebagaimana diinformasikan Wakil Ketua KPK Laode M Syarif melalui pesan singkat beberapa saat tadi (Jumat, 16/2).

“Hari ini, Jumat 16 Februari 2018, setelah dilakukan pemeriksaan di kantor KPK, diputuskan perkara ditingkatkan ke penyidikan dengan tersangka MUS, Bupati Lampung Tengah periode 2015-2020,” kata dia seperti dikutip rmol.co (grup radarlampung.co.id).

Laode menjelaskan, pihaknya juga sudah melakukan penahanan terhadap Mustafa yang juga maju menjadi Calon Gubernur Lampung dalam Pilkada serentak 2018 itu.

“Terhitung tgl 16 Februari 2018 ini pula dilakukan penahanan selama 20 hari pertama di Rutan Cabang KPK di K4,” jelasnya.

Laode melanjutkan, Mustafa diduga secara bersama-sama menjadi pemberi suap kepada anggota DPRD Lampung Tengah agar menyetujui usulan pinjaman daerah kepada PT SMI sebesar Rp 300 miliar.

Oleh KPK, Mustafa disangka melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. (adm/jpg/rlo/gus)

Komentar

Rekomendasi