oleh

Subhanallah.. Mantan Preman Wafat saat Salat

radarlampung.co.id – Setiap kaum muslim tentu ingin wafat dalam keadaan husnul khatimah atau akhir hayat yang terbaik.

Hal ini seperti yang dialami oleh Alm. Saiful bin Alm. H. Zakaria Mursid, yang meninggal dunia pada umur 59 tahun ketika menunaikan salat Sunnah pada Selasa (27/3) pukul 14.40 WIB di rumah salah satu sahabat almarhum.

Almarhum merupakan  warga Perumnas Tejoagung, Metro Timur ini sudah lima belas tahun mesyiarkan agama Islam ke beberapa negara, mulai dari Vietnam hingga India.

Suasana rumah duka almarhum Saiful, Sabtu (31/3). Foto RNN

Dikunjungi di rumah duka, Sabtu (31/3), masih terpasang tarup berbentuk persegi dan beberapa kendaraan yang terparkir untuk bertakziah tepatnya di Jalan Mawar, Tejoagung, Kecamatan Metro Timur.

Tari (39) anak bungsu dan Sudarwati (67) istri almarhum hadir di rumah duka tersebut. Tari menceritakan detik-detik wafat ayahandanya.

“Benar papah memang menjadi berbincangan, karena meninggalnya papah dalam keadaan husnul khatimah, saat sedang salat,” katanya kepada Trans Lampung (grup radarlampung.co.id), Sabtu.

Ia mengaku kaget ketika jenazah ayahnya diantar ke rumah duka. Menurutnya almarhum wafat ketika salat di kediaman sahabat nya di 15 Polos, Metro yang baru saja pulang umrah.

“Kami kaget dan nggak disangka-sangka dia meninggal, karena kondisinya sehat-sehat saja. Kami mau ke pasar dia keluar, lalu mampir ke rumah sahabat papah yang baru pulang umrah di 15 Polos. Jenazah diantar sahabatnya itu,” kata dia.

Lanjut Tari, di kediaman sahabat ayahnya itu, setelah duduk selama lima belas menit almarhum kemudian menumpang salat sunah sekitar pukul 14.40 WIB.

“Kata sahabat papah, kok lama pas dicek dia diam saat duduk di antara dua sujud. Almarhum saat disenggol tak sadarkan diri dan langsung dilarikan di rumah sakit, dokter mengatakan kondisi almarhum sudah wafat,” tutur Tari.

Dengan suasana haru, Tari melanjutkan cerita. Kegiatan almarhum sebelum meninggal hari itu juga sempat azan di Masjid arah Lapangan Stadion Tejoagung.

“Kata jamaah papah numpang azan di masjid untuk terakhir kali dan setelah salat papah langsung menyalami semua jamaah satu per satu dan untuk meminta maaf,” lanjutnya.

Dia mengatakan pada hari itu ayahnya hendak ke Pasar Tejoagung untuk meminta maaf kepada para pedagang. “Dia ke pasar meminta maaf tapi kami gak tahu, pedagang yang ngasih tahu,” ucapnya.

Di matanya almarhum merupakan ayah yang luar biasa. Sebelum meninggal almarhum pernah berbicara kepadanya bahwa ketika wafat ingin tetap dalam keadaan suci. “Papah saya nggak pernah lepas dari wudhu mas,” tuturnya.

Dia juga pernah mengatakan kalau meninggal pakai jubah gamisnya itu. “Dan ternyata Allah mengijabahnya,” lanjutnya

Menurutnya jenazah diantar selang satu jam sejak keluar rumah. “Sampai detik ini kami masih terima takziah karena banyak yang belum percaya, kalau papah meninggal,” kata Tari.

Ada kejadian diluar nalar manusia ketika proses penguburan jenazah. Saat dikebumikan muncul secercah cahaya yang menyinari pemakamnya.

“Orang-orang bilang kalau ada cahaya yang nyinarin kuburan papah. Padahal itu malam nggak ada lampu dan nggak ada terang bulan. Hanya mengandalkan lampu jalan, tapi kata warga ada cahaya dari langit. Dan masjid juga sampai tidak cukup ketika papah disalatkan,” tuturnya.

Tari pun menceritakan masa lalu ayahadanya ternyata kelam.  Menurut Tari ayahandanya berubah drastis sejak lima belas tahun terakhir. Berbagai narkoba hingga minuman keras sangat dekat dengan almarhum. Perubahan sangat mencolok ketika meninggalnya anak keduanya pada tahun 2005 silam.

Sudarwati istri almarhum mengatakan, banyak yang sudah disadarkan oleh almarhum suaminya itu. “Dia mengajak orang salat. Pokoknya mensyiarkan agama Islam. Dulu memang dicap begitu (preman, Red) karena memang pergaulannya di pasar sejak kecil, dia lahir di 15 B Timur (komplek pasar dan terminal Kota Metro),” katanya.

Kata dia, dulu siapa yang gak kenal bang Ipul seluruh Metro. “Tapi dia nggak punya musuh mas, karena dia bukan melakukan tindak kejahatan yang merugikan orang lain. Hanya kalau semua narkoba atau minuman keras ini dulu pernah. Persis seperti almarhum Ustad Jefri (Uje) itu loh mas,” katanya.

Almarhum, lanjut dia, sudah mensyiarkan agama Islam hingga beberapa negara. “Sudah ikut jamaah tabligh dia ke beberapa negara untuk mensyiarkan agama Islam. Seperti India, Bangladesh, Thailand. Dia jarang di rumah kadang sampai empat bulan, kalau ibu ikut biasanya tiga hari. Paspornya saja sudah ada ke 8 negara,” kata Tari seraya mengatakan selama ini ayahnya juga usaha berjualan beras. (rnn/gus)



Komentar

Rekomendasi