oleh

Sebelum Wafat, Imam Masjid Annur Baca Surat Al Isra’ Ayat 79

radarlampung.co.id – Sebelum wafat almarhum Hi Ferdinal Syarif Hidayatullah (56) membacakan surat Al Isra’ ayat 79 menjadi lantunan terakhir saat menjadi imam di masjid Annur Jalan Purnawirawan, Kelurahan Gunung Terang, Kecamatan Langkapura, Bandarlampung.

Ketua II wakil ketua bidang peribadatan pengurus Masjid Annur, Mu’min Shiddiq (57) mengatakan, sebelum terjatuh tergeletak dilantai dirakaat kedua, almarhum sempat sempat membacakan surat Al Isra’ ayat 79.

“Subhanaallah baru saya sadari, luar biasa, bahwa arti surat Al Isra’ ayat 79, tersebut ialah tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji,” terangnya saat ditemui di Masjid Annur, Kamis (17/5).

Mu’min mengaku bahwa dirinya tidak terkejut jika almarhum melantunkan ayat itu, mengingat beliau orangnya rajin melaksanakan salat tahajud.

“Beliau ini salat tahajudnya rajin, saya sering melihatnya di masjid, tapi itu sebelum beliau mulai mengidap sakit jantung,” ujarnya.

Masih kata Mu’min, jika almarhum sudah hampir 20 tahun menjadi imam di masjid Annur. Tapi, beberapa bulan ini, Ferdinal jarang datang lagi ke masjid dikarenakan kesehatannya yang makin menurun.

“Beliau ini sedang sakit jantung, kalau datang ke masjid saja jalan kaki dari rumah ke masjid, tapi diperjalanan mau ke masjid sempat berhenti-henti. Karena, jarak dari masjid kerumahnya sekitar 200 meter,” jelasnya.

Dia menceritakan, bahwa sang imam besar masjid Annur, sebelum wafat dirinya menjadi makmum persis dibagian belakang kirinya, setelah rukuk dan i’tidal tiba-tiba almarhum jatuh kebelakang.

“Kalau diingat-ingat, posisi saya itu persis dibelakang beliau. Jadi setelah i’tidal kedua tangan beliau ini bukanya kembali kebawah tapi malah ke belakang,” terangnya.

Lanjut dia, dirinya pun langsung tak berpikir panjang untuk membatalkan salat demi membantu almarhum.

“Saya batalkan salat, lalu menadahkan kepalanya sambil berupaya mengangkat tubuhnya. Tapi, saya gak kuat, saya lihat napas beliau terengah-engah,” kata dia.

Begitu tahu nafas Ferdinal sudah terengah-engah dan sesak, kemudian dirinya membantu almarhum untuk mengucapkan lafal dzikir.

“Saya langsung bisikkan la Ilaha Illallah Muhammadur Rasulullah, tapi beliau mulai terdengar suara seperti mendengkur, keras, akhirnya makmum sebelah kiri saya langsung ikut membatalkan salatnya, sedangkan lainnya menunggu selama dua menit,” urainya.

Tapi akhirnya, kata Mu’min, salat akhirnya dibatalkan dan diulang lantaran almarhum semakin tak sadarkan diri dan mendengkur.

“Akhirnya kami panggil mobil ambulan dan membawa ke RS DKT, tapi saat dibawa itu, kata empat orang yang menggangkat beliau sudah tak bernafas lagi,” paparnya.

Almarhum telah dimakamin di Tempat Pemakaman Umum (TPU) di Jalan Dewi Sartika, Kelurahan Sumurbatu, Kecamatan Telukbetung Utara, Bandarlampung.

“Sudah dimakamkan tadi pukul 11.00, pemakaman jauh karena permintaan dari keluarga. Beliau meninggalkan empat orang anak yang sudah besar semua. Waktu beliau wafat menggunakan gamis warna abu-abu coklat,” tuturnya.

Dia menuturkan, keseharian almarhum sebagai pensiunan pembantu pencatat nikah KUA Langkapura. Namun dia tetap aktif menjadi imam dan termasuk imam besar karena bacaan bagus amalan banyak.

“Beliau ini qori, jadi sudah tidak diragukan amalan beliau dan sebelum meninggal juga istrinya sempat melarang untuk salat di masjid karena kondisi dia yang masih sakit,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, manusia tidak dapat menghindari namanya kematian dan malaikat pencabut nyawa pun tidak memilih tempat saat mencabut nyawa manusia termasuk di rumah Allah SWT sekalipun.

Hal itu dialami Hi Ferdinal Syarif Hidayatullah (56) meninggal dunia saat menjadi imam di Masjid Annur Jalan Purnawirawan, Kelurahan Gunung Terang, Kecamatan Langkapura, Bandarlampung. Almarhum wafat saat melaksanakan ibdah salat isya berjamaah, setelah i’tidal dirakaat yang kedua, pada Rabu, (16/5). (ndi/gus)



Komentar

Rekomendasi