oleh

Analogi Pengelolaan Zakat Dalam Perluasan Kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan

Oleh: Muttaqin Akbar Sukriyono

Dengan sifatnya yang wajib bagi seluruh pekerja di Indonesia, dalam kurun waktu 40 tahun beroperasi, berdasarkan Annual Report BPJS Ketenagakerjaan tahun 2016 jumlah peserta BPJS Ketenagakerjaan secara keseluruhan sebanyak 22.633.082 peserta, yang terdiri dari pekerja penerima upah, pekerja bukan penerima upah, pekerja sektor konstruksi, dan tenaga kerja Indonesia di luar negeri.

Jumlah ini masih sekitar 18,7% dari total pekerja Indonesia jika dibandingkan dengan data BPS (Badan Pusat Statistik), jumlah pekerja sebanyak 121.022.423 pekerja. Berdasarkan angka tersebut, pekerjaan rumah yang sangat besar bagi BPJS Ketenagakerjaan untuk dapat melindungi 81,3% pekerja yang belum masuk ke dalam sistem jaminan sosial.

Sebagai alternatif solusi dari permasalahan ini, terdapat analogi yang bisa dipakai untuk merubah kondisi kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan.

Analogi yang dipakai adalah analogi dalam pengelolaan zakat. Salah satu tujuan dalam zakat adalah untuk merubah status mustahik menjadi muzakki, lalu bagaimana caranya? Pengelolaan zakat yang baik akan memberikan manfaat yang tidak hanya memenuhi kebutuhan konsumsi dari penerima zakat, namun lebih dari itu memberikan rangsangan untuk lebih produktif, karena jika seseorang masih masuk dalam kategori mustahik, maka mempunyai hak untuk dapat menerima hasil zakat.

Dengan adanya zakat, akan memberikan fokus yang berbeda kepada mustahik. Dalam berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya agar lebih baik, fokus manusia akan berusaha untuk memenuhi kebutuhan pokoknya.

Dengan zakat ini sedikit banyak akan mengurangi fokus dalam memenuhi kebutuhan pokok dan menambah fokus kepada usaha dalam meningkatkan kesejahteraannya. Sehingga energi yang dimiliki dapat terserap kepada hal-hal yang tidak lagi berkutat pada masalah kebutuhan pokok saja seperti makan, pakaian, dan kebutuhan pokok lainnya.

Jika konsep pengelolaan zakat dikaitkan dengan pengelolaan kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan, terdapat benang merah yang dapat diadopsi oleh BPJS Ketenagakerjaan dalam meningkatkan kepesertaan.

Tujuan didirikannya BPJS Ketenagakerjaan sebagai upaya untuk melindungi pekerja, meningkatkan produktifitas, dan menignkatkan kemandirian ekonomi nasional, sejatinya dapat digunakan sebagai alasan mengapa pengelolaan zakat dapat diadopsi oleh BPJS Ketenagakerjaan. Semata-mata dalam pencarian alternatif pengelolaan kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan adalah untuk menaikkan kesejahteraan masyarakat Indonesia.



Komentar

Rekomendasi