oleh

Mata Uang Turki Krisis Berdampak Juga di Rupiah

radarlampung.co.id – Di pasar spot, Rupiah hari ini ditutup di level Rp14.608 melemah 130 poin dibanding penutupan Jumat (10/8) seperti dikutip dari fin.co.id (grup radarlampung.co.id) rupiah yang berada di level Rp14.478 per dolar.

Jameel Ahmad selaku Vice President of Corporate Development & Chief Market Analyst FXTM mengatakan pasar global sepanjang minggu ini cenderung tetap didikte oleh tekanan eksternal, terutama krisis Lira Turki. Jika Lira terus mengkhawatirkan investor global, Rupiah seperti mata uang negara berkembang lainnya akan menderita dari lingkungan risk-off.

“Ancaman terhadap Rupiah Indonesia adalah bahwa para investor terus tetap “mengambil risiko” selama periode ini, dengan pengurangan yang ketat dalam selera trader terhadap aset pasar berkembang,” kata dia.

Sementara itu, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (Kepala Bappenas) Bambang Brodjonegoro mengatakan pelemahan rupiah terjadi karena saat ini investor tengah berkonsolidasi karena khawatir dengan ekonomi Turki. Hal itu membuat mata uang lira terperosok di posisi terendah pada akhir pekan lalu sejak 2001 dan berimbas ke mata uang lain termasuk rupiah. Setelah itu, kondisi akan kembali normal seperti semula.

“Indonesia dan Turki dianggap sama-sama emerging market, jadi ketika ada masalah seperti itu, investor perlu melakukan konsolidasi,” katanya.

Sementara itu, ekonom Universitas Indonesia Telisa A. Valianty mengn, memprediksi rupiah akan berada di level Rp15.000 sebagaimana proyeksi lembaga pemeringkat Moody’s. Meski begitu, ia optimistis rupiah tidak akan terjerembab seperti LiraTurki.

“Biasanya prediksi mereka sudah berdasarkan para pelaku, karena dekat dengan para pelaku-pelaku. Jika tidak melakukan langkah yang tepat ya bisa saja dengan turbulensi seperti sekarang ini, ” kata Telisa

Telisa memperkirakan, untuk menahan laju pelemehan rupiah, bank Indonesia akan menaikkan suku bunga bank Indonesia hingga 50 basis poin. Kenaikan suku bunga penting untuk menahan efek laju pasar.

“Kalau dalam kondisi ini, mau nggak mau bunga naik lagi, ” kata dia.

Selain itu, Telisa juga berharap pemerintah dapat memperbaiki defisit transaksi berjalan yang turut berkontribusi terhadap pelemahan rupiah.

“Dari sisi trade, impor harus ditekan juga. Karena, itu yang menyebabkan tekanan terhadap rupiah juga,” katanya.

Selain itu, Telisa meminta masyarakat jangan panik. Sebab, kalau panik bakal menjadi sentimen negatif, meskipun fundamental ekonominya bagus. “Jadi, jaga ekpektasi pasar tetap baik, ” tukasnya. (Mad/FIN/ang)

Komentar

Rekomendasi