oleh

Mahasiswa Bidikmisi Bertahan di Kumuhnya Rusunawa Unila

RADARLAMPUNG.CO.ID – Rumah susun sederhana sewa Universitas Lampung (Rusunawa Unila) tampak memperihatinkan dan cenderung kumuh. Meski begitu, penghuninya adalah dari kalangan aktivis dan mahasiswa yang berpretasi.

Dimas Aditia, mahasiswa Prodi Pendidikan Sejarah 2018 yang menerima Beasiswa Bidikmisi mengaku, selama dirinya menempati Rusunawa Unila merasa kurang mendapat pelayanan memuaskan.

“Selama saya di sini kendalanya itu air engga selalu ada, cuma hidup sewaktu-waktu. Sampah berserakan di mana-mana, engga ada tempat jemuran,” bebernya saat diwawancarai, Minggu (4/11).

Dimas juga mengatakan, gedung empat lantai yang memiliki kapasitas lebih kurang 384 orang itu tak pernah dilakukan pembersihan dan perbaikan secara berkala.

“Gimana engga kotor, di sini itu petugas gedungnya jarang kelihatan dan engga pernah saya liat ngepel lantai. Seharusnya kan kewajiban mereka membersihkan semua sudut-sudut yang ada,” keluhnya.

Pantauan radarlampung.co.id, di tiap sudut lantai terlihat kumuh, sampah plastik menjadi pemandangan cenderung biasa, hampir seluruh pintu ruang menggelantung jemuran pakaian.

Meski demikian, Dimas dan kawan-kawannya yang menepati Rusunawa Unila tak memiliki pilihan lain untuk tetap bertahan di gedung yang kumuh itu.

“Alasannya tetap bertahan di sini karena murah, Rp1,8 juta per tahun, ada wifi dan bisa dicicil dua kali setahun, bersyukur aja sih,” akunya. (apr/sur)

Komentar

Rekomendasi