oleh

Baristand Dorong IKM Ciptakan Produk Olahan Singkong

Desiminasi: Kepala Baristand Bandarlampung Prima Yudha Hayati (dua dari kanan) menjelaskan tujuan desiminasi Litbang untuk pengembangan industri di Lampung. Foto Kesuma Yuda/radarlampung.co.id
Desiminasi: Kepala Baristand Bandarlampung Prima Yudha Hayati (dua dari kanan) menjelaskan tujuan desiminasi Litbang untuk pengembangan industri di Lampung. Foto Kesuma Yuda/radarlampung.co.id

radarlampung.co.id – Dalam era perdagangan bebas, industri nasional dituntut menciptakan produk yang lebih inovatif, kompetitif, dan berdaya saing. Hal ini juga yang mendorong Balai Riset Standarisasi Industri (Baristand) Bandarlampung menghasilkan riset untuk memberikan kontribusi dalam berinovasi dan kesiapan teknologi dalam mengembangkan potensi sumber daya alam di Indonesia.

“Ketersediaan dan pengelolahan bahan baku secara arif akan menjadi tulang punggung perkembangan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan,” kata Kepala Baristand Bandarlampung Prima Yudha Hayati saat desiminasi pemanfaatan Tepung Mocaf ke dalam olahan pangan produk di kantornya, Selasa (6/11).

Menurutnya, desiminasi Litbang kali ini difokuskan pada pengembangan produk olahan berbahan baku ubi kayu (singkong) menjadi tepung Mocaf, Tapioka dan tepung Rajabasa. Hal ini sejalan dengan semangat untuk memberdayakan bahan baku lokal yang melimpah di Lampung.

Terlebih, beberapa tahun terakhir harga ubi kayu di tingkat petani sangat fluktuatif, tergantung pada permintaan dari industri yang di dominasi oleh industri besar ataupun ketersediaan ubi kayu itu sendiri. “Hal inilah yang mendorong kami untuk melakukan riset dan kajian untuk mengembangkan industri berbasis ubi kayu di Lampung,” ujarnya.

Prima menambahkan, pihaknya melihat bahwa Industri Kecil dan Menengah (IKM) dapat ikut serta dalam pengembangan industri berbasis ubi kayu, salah satunya adalah Tapioka. Berbeda dengan Tapioka yang dihasilkan industri besar, Tepung yang diproduksi industri berskala IKM memiliki karakteristik yang khas dan penggunaanya tidak dapat digantikan oleh Tapioka yang diproduksi industri besar, seperti untuk pembuatan kerupuk dan aneka panganan lokal.

“Pada pengeolahan tapioka skala IKM ini juga, dihasilkan hasil samping berupa onggok yang memiliki kualitas baik. Kami juga pernah mencoba untuk mengolah onggok tersebut menjadi berbagai kue seperti Nastar, Choco Chip, dan Kue Tape,” tandasnya.

Pada desiminasi hasil Litbang tersebut juga disampaikan hasil penelitian yang dilakukan Baristand Bandarlampung selama dua tahun terakhir. Seperti, penelitian pembuatan tepung pektin berbahan baku kulit durian, pisang, dan kakao. Lalu ada juga penelitian pembuatan asam klorogenat dari kopi sebagai penelitian pengembangan industri berbasis 4.0. (kyd)

Komentar

Rekomendasi